MUTIARA ILMU: EINSTEIN BELAJAR KEPADA IMAM ALI*

Jumat, 21 Maret 2025

EINSTEIN BELAJAR KEPADA IMAM ALI*



*

Tak berlebihan jika dalam perjalanan petualangan saintifiknya, Albert Einstein pernah berkorespondensi dengan Marja besar Iran Ayatullah Al Uzma Sayyid Hossein Boroujerdi. Hubungan_ ini terjadi pada 1954.

Hubungan Albert Einstein dengan Ayatullah Boroujerdi sempat berjalan sekitar 10 tahun yang terrepresentasikan dalam bentuk 40 korespondensi. Dalam hubungannya itu Ayatullah Boroujerdi sering mengkritisi pandangan-pandangan Einstein. 

Singkat cerita, dalam suratnya kepada Ayatollah Boroujerdi, Einstein menyatakan:

“Setelah 40 kali menjalin kontak surat-menyurat dengan Anda, kini saya menerima agama Islam dan mazhab Syiah 12 Imam”.

Dalam suratnya itu panjang lebar Einstein menyebutkan sebagai agama yang paling rasional. 

Bahkan Einstein memberikan pernyataanya lagi: “Jika seluruh dunia berusaha membuat saya kecewa terhadap keyakinan suci ini, niscaya mereka tidak akan mampu melakukannya, walau hanya dengan membersitkan setitik keraguan kepada saya”.

Dalam makalah terakhirnya berbahasa Jerman, Die Erklarung (Deklarasi), yang ditulis pada tahun 1954 di Amerika Serikat, ia menelaah teori relativitas lewat ayat-ayat Alquran dan ucapan Imam Ali bin Abi Thalib dari kitab Nahjul Balaghah.

Ia mengatakan: "Hadits-hadits dengan kualitas seperti ini tidak bakal ditemukan pada mazhab lain. Hanya mazhab ini yang memiliki hadis dari para Imam mereka yang memuat teori kompleks seperti Relativitas. Sayangnya kebanyakan para pakar tidak mengetahui hal itu"

Dalam makalahnya itu Einstein menyebut penjelasan Imam Ali tentang perjalanan Mi'raj jasmani Rasulullah ke langit yang hanya dilakukan dalam beberapa detik sebagai penjelasan Imam Ali yang paling bernilai.

Salah satu hadis yang menjadi sandarannya adalah yang diriwayatkan oleh Allamah Majlisi tentang mi'raj jasmani Rasulullah saw. 

Disebutkan bahwa: “Ketika terangkat dari tanah, pakaian atau kaki Nabi menyentuh sebuah bejana berisi air yang menyebabkan air tumpah. Setelah Nabi kembali dari mi'raj jasmani melalui berbagai zaman, beliau melihat air masih dalam keadaan tumpah di atas tanah.”

Einstein melihat hadits ini sebagai khazanah keilmuan yang mahal harganya, karena menjelaskan kemampuan keilmuan para Imam syiah dalam relativitas waktu. 

Menurut Einstein, formula matematika kebangkitan jasmani berbanding terbalik dengan formula terkenal “relativitas materi dan energi”, 

E = M.C² >> M = E : C²

Artinya sekalipun badan kita berubah menjadi energi, ia dapat kembali berwujud semula, hidup kembali.

Jadi kesimpulannya, menurut Albert Einstein, peristiwa mi'raj Nabi Muhammad saw itu bukan peristiwa& abstrak atau metafisis, tapi peristiwa kongkrit dan nyata.

Jika para ustadz/kyai/gus/habib sering menjelaskan mi'raj Nabi saw sebagai peristiwa metafisis, berarti jangkauan pengetahuannya belum semuta‘akhir yang telah diketahui Einstein.

Dalam persahabatannya selama berkorespondensi, Einsteinpun memanggil Ayatollah Boroujerdi dengan panggilan khas "Boroujerdi Senior". 

Einstein juga punya murid asal Iran bernama Prof. Mahmoud Hessabi, satu-satunya fisikawan nuklir --juga senator-- Iran. Einstein memanggilnya dengan penghornatan pula: "Hesabi yang mulia".

Naskah asli korespondensi Einstein --Boroujerdi ini masih tersimpan dalam Safety Box rahasia London di bagian tempat penyimpanan Prof. Ibrahim Mahdavi, dengan alasan keamanan. Risalah ini& dibeli oleh Prof. Ibrahim Mahdavi  yang tinggal di London. 

Tulisan tangan Einstein di semua halaman buku kecil itu telah dicek lewat komputer dan telah dibuktikan oleh para pakar manuskrip.

"Barangsiapa menentang kebenaran ia akan dirobohkan dengan kebenaran". (Ali bin Abi Thalib)

Salam Cerdas, Bernalar & Berakal dlm Beragama. 

ParisVanJa va 210325.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar