MUTIARA ILMU: Desember 2023

Senin, 25 Desember 2023

Makna Gunungan Wayang

Gunungan yang digunakan dalam wayang kulit memiliki bentuk khas, yaitu lancip ke atas. Hal ini melambangkan kehidupan manusia, yaitu semakin tinggi ilmu dan tua usia, manusia harus semakin mengerucut (golong gilig) manunggaling jiwa, rasa, cipta, karsa, dan karya dalam kehidupan. Orang tersebut semakin dekat dengan Sang Pencipta.

Gapura dengan dua penjaga pada gunungan wayang kulit (Cingkoro Bolo dan Bolo Upoto). Hal tersebut melambangkan hati manusia—baik dan buruk. Gada dan tameng yang dipegang oleh kedua raksasa juga memiliki makna tersendiri, yaitu melambangkan penjaga alam dan terang.

Rumah joglo (gapuran) menjadi lambang suatu rumah atau negara yang berisi kehidupan aman, tenteram, dan bahagia. Di atasnya terdapat gambar harimau dan banteng yang saling berhadapan.

Benteng tersebut memiliki makna manusia harus kuat, ulet, tangguh, dan lincah. Harimau di alam liar melambangkan raja hutan. Namun, harimau pada gunungan wayang memiliki makna manusia harus jadi pemimpin bagi dirinya sendiri (punya jati diri), bijaksana dalam bertindak, dan mengendalikan nafsu serta hati nurani agar menjadi manusia yang lebih baik. Pada akhirnya, manusia tersebut bisa bermanfaat bagi diri sendiri, orang lain, dan lingkungan sekitar.

Sementara, gambar kera pada gunungan wayang memiliki makna manusia harus punya sifat yang mampu memilih serta memilah sesuatu yang baik dan buruk, manis dan pahit. Itu terkait dengan sifat kera yang bisa memilih buah yang baik, matang, dan manis.

Pohon besar di gunungan yang menjulang ke atas dan menjalar ke seluruh badan gunungan mengandung makna segala budi-daya dan perilaku manusia harus tumbuh dan bergerak maju (dinamis) sehingga memberikan manfaat dan warna kepada dunia serta alam semesta. Pohon tersebut juga memiliki makna Tuhan mengayomi dan melindungi manusia yang hidup di dunia.

Burung yang ada di dalam gunungan wayang memiliki makna manusia harus membuat dunia dan alam semesta menjadi tempat yang indah, baik dalam hal spiritual maupun material.

Itulah filosofi gunungan wayang kulit. Berbagai hal dituangkan dalam sebuah benda berupa gunungan berkaitan dengan kehidupan manusia dan hubungannya dengan segala hal di dunia dan alam semesta.

Jumat, 15 Desember 2023

SILSILAH SULTAN HADIWIJAYA PAJANG (RADEN JOKO TINGKIR)


Jumadil kubro

berputra

Maulana Muhammad Kebungsuan alias Syekh Sutabaris

berputra

Makhdum Ishaq alias Pangeran Petak alias Bajul Petak alias Raja Buaya Putih menikahi Dewi Sekar putri Adipati Handayaningrat Sepuh

berputra 

Adipati Handayaningrat Pamungkas alias Ki Ageng Pengging Sepuh alias Maulana Abdul Fattah

berputra 

Ki Ageng Pengging Kebo Kenongo alias Maulana Abdul Aziz, menikahi Ratu Mandoko binti Sunan Kalijaga

berputra 

Sultan Hadiwijaya Pajang alias Raden Joko Tingkir alias Maulana Abdurrahman

Sumber:
Data Resmi Pencatatan Nasab. Naqobah Internasional dan Naqobah dalam Negri

Jumat, 08 Desember 2023

Peraturan tantang Makam dan Pelestarian Cagar Budaya

pengaturan tindak pidana menodai dan/atau merusak kubur dalam Pasal 179 KUHP dan bagaimana pengenaan pidana terhadap tindakan menodai dan/atau merusak kubur, di mana dengan metode penelitian hukummnormatif disimpulkan: 1. Pengaturan tindak pidana menodai dan/atau merusak kubur dalam Pasal 179 KUHP yaitu pasal ini mengatur dua macam perbuatan yang dilarang yakni perbuatan menodai kubur (liang lahat, makam) dan perbuatan merusak tanda peringatan di tempat kuburan. 2. Pengenaan pidana terhadap tindakan menodai dan/atau merusak kubur berupa pidana penjara palinbg lama satu tahun empat bulan merupakan pidana yang jauh lebih ringan dibandingkan perusakan barang pada umumnya dalam Pasal 406 ayat (1) KUHP yang berupa pidana penjara paling lama dua tahun delapan bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.Kata kunci: kubur; merusak kubur; menodai kubur;

Pasal 179 KUHP (Kitab Undang-Undang Hukum Pidana)

Pasal 179
Barangsiapa dengan sengaja merusakkan kuburan atau dengan sengaja dan dengan melawan hak membinasakan atau merusakkan sesuatu tanda peringatan yang didirikan diatas tempat perkuburan, dihukum penjara selama-lamanya satu tahun empat bulan. (K.U.H.P. 406 s).

Senin, 04 Desember 2023

*Silsilah Syaikh Jamaluddin Akbar jalur An Naqowi Al Bukhari Al Husaini*



Oleh = R.Tb. Nurfadhil Al Bantani 

Sayyidina wa Habibina wa Maulana *MUHAMMAD* Shollollohu 'alaihi wa sallam
I
1). Sayyidah syarifah Fathimatuz  Zahro
I
2). Sayyid syarif asy-syahid Husain
I
3). Sayyid syarif Ali Zainal Abidin
I
4). Sayyid syarif Muhammad al-Baqir
I
5). Sayyid syarif Imam Ja'far ash-Shodiq
I
6). Sayyid syarif *Musa Al-Kazhim*
I
7). Sayyid syarif Ali Ar-Ridho
I
8). Sayyid syarif Muhammad At-Taqi al-Jawad
I
9). Sayyid syarif Ali An-Naqi an-Hadi
I
10) Sayyid syarif Ja'far az-Zaki
I
11). Sayyid syarif Ali al-Asyqori
I
12). Sayyid syarif Abdulloh
I
13). Sayyid syarif Ahmad
I
14). Sayyid syarif Mahmud
I
15). Sayyid syarif Muhammad
I
16). Sayyid syarif Ja'far
I
17). Sayyid syarif Ali
I
18). Sayyid syarif Makhdum Husein Jalaluddin al-Bukhori / Jalal Azamat Khan
I
19). Sayyid syarif Makhdum Ahmad Kabir
I
20).Sayyid syarif Makhdum Jalaluddin Husain
I
21). Sayyid Syarif *Makhdum Mahmud Nasiruddin / Mahmudinil Kubro*
I
22). Sayyid Syarif *Makdhum Jamaluddin Akbar/ Jumadil Kubro*


Sumber Kolaborasi data 

1. Hasil Isbat Nasab Tb. M. Nurfadhil dari Naqib Mesir, Iraq & India.

2. Manuskrip Nusantara : data Keprabon Asal Usul Kesultanan Cirebon, Manuskrip Bangkalan, Serat Penengen, Serat Sarasilah Leluhur Ing Kadanurejan Yogya, Nagarakertabumi 

3. Peta genetik migrasi leluhur Y-DNA dari Hijaz - Irak - Asia  Tengah (Uzbekistan) - Asia Selatan (Pakistan - India) - Asia Timur & Tenggara (Champa Vietnam Kamboja dan Indonesia) sama sekali terbukti tidak dari Irak ke Yaman seperti versi ke Ba'alawy. 

4. Kesesuain data sejarah penggunaan gelar Makhdum & Syarif pada leluhur jalur keluarga ini bukannya gelar Habib

KYAI RADEN TUMENGGUNG SUMADININGRAT, BUKAN BIN YAHYA DAN NAMANYA BUKAN SAYYID AHMAD BIN THOHA BIN YAHYA

https://www.walisongobangkit.com/kyai-raden-tumenggung-sumadiningrat-bukan-bin-yahya-dan-namanya-bukan-sayyid-ahmad-bin-thoha-bin-yahya/

Silsilah Nasab KRT Sumadiningrat (Sumber: Serat Salasilah Para Loeloehoer Kadanoeredjan 1899, 163–164 & 201–208)

Kyai Ageng Ngerang I
Kyai Ageng Ngerang II (Kyai Bodo Pajang)
Kyai Ageng Ngerang III (Ki Buyut Pati)
Kyai Ageng Panjawi (Kyai Ageng Pati)
Adipati Pragolapati I
Adipati Pragolapati II
Kyai Wonokriyo (Bagus Jaka Kriya/Kyai Kriyan)
Demang Puspatruna/Demang Jawinata/Tumenggung Gajah Mada/Tumenggung Gajah Gede
Tumenggung Jawinata/Tumenggung Gajah Cilik
Adipati Jayaningrat/Gajah Tlena
Tumenggung Jayaningrat Manten (KRT Jayaningrat I)
KRT Sumadiningrat

Alamat makam : Pesarean wonokromo, Jejeran, Wonokromo, Kec. Pleret, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta 55791