MUTIARA ILMU: 2020

Minggu, 01 November 2020

Amalan Agar Husnul Khotimah

بِسْــــــــــــــمِے اللّٰهِےارَّحْمٰنِ ارَّحِيْــــــــــــــمِے
اَلسَّلَامُے عَلَيْكُمْے وَرَحْمَةُ اللَّهےِوَبَرَكاَتُهْے
اللَّـﮬـُمَّ صـَلِِّ ؏َـلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّد وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا  مُحَمَّدٍ ﷺ

AMALAN DAN IJAZAH LANGSUNG DARI RASULULLAH SAW DAN AL HABIB ABU BAKAR BIN MUHAMMAD ASSEGAF UNTUK MERAIH "KHUSNUL KHOTIMAH DENGAN KALIMAH TAUHID.

AL HABIB AHMAD BIN SHOLEH ALATTAS (BEKASI) :

Setiap Orang beriman pasti sangat mengharapkan agar ketika ia meninggal Dunia dalam keadaan "Husnul Khotimah" (Wafat dalam keadaan beriman)

Apalah gunanya, harta yang melimpah, hidup yang nyaman, Keluarga yang samawa dan yang telah beribadah sekian lamanya, semua Rukun Islam telah ia tunaikan ditambah dengan ibadah-ibadah Sunnah, tapi di akhir hayatnya ia meninggal dunia tanpa membawa Iman (Suu-ul Khatimah).

نعوذ بالله من ذلك

Dikisahkan Sesungguhnya ada seorang laki-laki yang shalih (Al-Qodhi Abdullah Al-Baghdadiy) Beliau berkata :
“Aku pernah melihat Rosulullah Saw dalam tidurku dengan Wajah yang sangat pucat karena merasakan kesedihan yang sangat dalam".

Lalu aku bertanya: “Ya Rosulallah, kenapa wajahmu begitu pucat, gerangan apa yg telah membuat Baginda begitu bersedih?".

Lalu Rosulullah Saw berkata, “Pada malam ini telah meninggal Dunia 1.500 orang dari Ummatku, dua orang dari mereka meninggal dalam keadaan beriman (Husnul Khatimah) dan sisanya (1.498 Orang) meninggal tanpa membawa Iman (Suu’ul Khotimah).”

Aku bertanya lagi: “Lalu apa kiat-kiat dari Engkau untuk orang-orang yang sering bermaksiat agar mereka meninggal dengan membawa Iman (Husnul Khatimah)?".

Rosulullah Saw berkata:
“Ambillah kertas ini dan bacalah: 
"Siapa saja yang membacanya dan membawanya lalu dia pindah dari satu tempat ke tempat yang lain, menyebarkan dan mengajarkannya, maka mereka termasuk dari golonganku (Orang yang di akui oleh Rasulullah Saw sebagai Ummatnya) dan akan wafat dalam keadaan membawa Iman (Husnul Khatimah),

Akan tetapi siapa saja yang telah mendengarnya dan dia tidak mau membacanya, tidak mau menyebarkannya maka dia lepas dari aku dan akupun lepas darinya (Tidak di akui sebagai Ummat Rasulullah Saw).”

Seketika itu aku langsung terbangun dari tidurku dan aku lihat kertas tersebut telah ada di genggamanku ternyata di dalamnya berisi tulisan yang penuh barokah, tulisan tersebut adalah :

بسم الله الرحمن الرحيم

لَا اِلَهَ اِلَّا اللهْ اَلْمَوْجُودْ فِيْ كُلِّ زَمَانْ
Laa-ilaaha illalloh Al-Maujuud Fii Kulli Zamaan

Tiada Tuhan Selain ALLAH (yang) selalu ada sepanjang zaman

لَا اِلَهَ اِلَّا اللهْ اَلْمَعْبُودْ فِيْ كُلِّ مَكَانْ
Laa-ilaaha illalloh Al-Ma'buud Fii Kulli Makaan

Tiada tuhan kecuali ALLAH yang disembah disetiap tempat

لَا اِلَهَ اِلَّا اللهْ اَلْمَذْكُورْ بِكُلِّ لِسَانْ
Laa-ilaaha illalloh Al-Madzkuur bikulli Lisaan

Tiada tuhan kecuali ALLAH yang disebut pada setiap lisan

لَا اِلَهَ اِلَّا اللهْ اَلْمَعْرُوفْ بِاْلاِحْسَانْ
Laa-ilaaha illalloh Al-Ma'ruuf Bil Ihsaan.

Tiada tuhan selain ALLAH yang dikenal dengan kebaikan-Nya

لَا اِلَهَ اِلَّا اللهْ كُلَّ يَوْمٍ هُوَ فِى شَأْن
Laa-ilaaha illalloh Kulla Yaumin Huwa Fii Syaan

Tiada tuhan kecuali ALLAH (yang) setiap hari selalu ada dalam setiap keadaan,

لَا اِلَهَ اِلَّا اللهْ اَلْأَمَانْ اَلْأَمَانْ مِنْ زَوَالِ الْاِيْمَانْ
Laa-ilaaha illalloh, Al-amaan Al-amaan Min Zawaalil iiman

Tiada tuhan kecuali ALLAH, Smoga kita selalu aman terjaga dari hilangnya iman,

وَمِنْ فِتْنَةِ الشَّيْطَانْ، يَا قَدِيْمَ الْاِحْسَانْ
Wamin Fitnatisy Syaithoon, Ya Qodiimal Ihsaan

Dan dari gangguan syetan, wahai Dzat Yang mendahulukan kebaikan

كَمْ لَكَ عَلَيْنَا مِنْ إِحْسَانْ،
Kam laka 'alainaa min Ihsaan

Sudah berapa banyak kebaikan yang telah kami terima,

اِحْسَانُكَ الْقَدِيمْ ,يَا حَنَّانْ يَا مَنَّانْ،
Ihsaanukal Qodiim, Ya Hannaan Ya Mannaan

Kebaikan-MU sudah ada sejak dahulu kala, wahai Dzat Yg Maha Pemberi tanpa diminta.

يَا رَحِيمُ يَا رَحْمَانْ, يَا غَفُورُ يَا غَفَّارْ، اِغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا
Ya Rohiim Ya Rohman, Ya Gofuur Ya Goffaar
Ighfirlanaa war hamnaa

Wahai Dzat Yg maha pengasih Yg Maha Penyayang, Maha Pengampun dan Maha Yg suka memberi ampunan.
Ampuni kami dan rohmatilah kami ya ALLAH

وَاَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِينْ
Wa Anta Khoirur Roohimiin

Dan Engkaulah sebaik-baik Penyayang.

وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَاَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمْ
Washollallohu 'Alaa Sayyidina Muhammadin wa Aalihi wa Shohbihi Wasallam.

Dzikir diatas telah di ijazahkan oleh yg Mulia Al-Imam Al-Quthb Ahlud Dark Wal Ghouts Al-Habib Abu Bakar Bin Muhammad Assegaf (Gersik Jawa Timur) dan pasti selalu dibaca dalam setiap acara Haul Beliau.

Semoga kita termasuk orang yang mau membacanya, mengajarkannya kepada Keluarga, teman, sahabat dan orang2 yg kita cintai / sayangi agar Rosululloh SAW berkenan mengakui kita sebagai ummat Beliau dan kita diberikan anugrah mahal dari ALLAH swt yaitu "Husnul Khootimah"

Silahkan dibagikan dan sebarkan sebanyak mungkin, bila perlu sebar ke group2 fb anda sebagai rasa cinta dan sayang kita kepada Saudara2 kita yg lain.

Inilah jariyah amal dan penyebaran nya bermanfaat Dan berpahala

“Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya” (HR. Muslim no. 1893).
Wallahu a'lam Bishowab

Allahuma sholii 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi washohbihi wassallim

Mahkota Doa

TUJUH MAHKOTA DUNIA AKHIRAT

Allah Subhaanahuu wa Ta'aala berfirman :

 Sungguh Kami telah menciptakan atas kamu semua tujuh buah jalan dan kami sama sekali tidak akan lengah terhadap ciptaan Kami." (Al-Mu'minuun, ayat 17).

1) MAHKOTA DZIKIR:

"#لا إله الا الله وحده لا شريك له، له الملك وله الحمد وهو على كل شيء قدير

Laa ilaaha illallaahu wahdahu laa Syariikalahu lahul Mulku wa lahul Hamdu wa huwa 'alaa kulli syai'in Qodiir.

2) MAHKOTA TASBIH:

"#سبحان الله وبحمده عدد خلقه ورضا نفسه وزنة عرشه ومداد كلماته

Subhaanallah wabihamdihi 'adada holqihi wa Ridha nafsihi wa zinata 'arsyihi wa midada kalimaatihi.

3) MAHKOTA DOA:

"#ربنا اتنا في الدنيا حسنة وفي الاخرة حسنة وقنا عذاب النار

Rabbanaa aatinaa fid dunya hasanah wa fil aakhirati hasanah wa qinaa 'adzaaban naar.

4) MAHKOTA ISTIGHFAR:

"#اللهم أنت ربي لا اله الا انت خلقني وانا عبدك، وأنا على عهدك ووعدك مااستطعت،أعوذ بك من شر ما صنعت، ابوء لك بنعمتك علي، وابوء بذنبي، فاغفرلي فإنه لا يغفروا الذنوب إلا أنت.

Allaahumma Anta Laa ilaaha illaa Anta, Kholaqtani wa anaa abdiKa, wa ana 'alaa 'ahdiKa wa wa'diKa mas tatho'tu, a'uudzu biKa min syarri maa shona'tu, abuu'u laKa binikmatiKa 'alayya, wa abuu'u bidzanbiy, faghfirliy fainnahu laa yaufirudz dzunuuba illaa Anta.

5) MAHKOTA PERLINDUNGAN:

"#بسم الله الذي لا يضر مع اسمه شيء في الأرض ولا في السماء وهو السميع العليم.

Bismillaahil ladzii laa yadhurru ma'asmihii syai'un fil ardhi walaa fis samaa' wa Huwas Samii'ul 'Aliim.

6) MAHKOTA PELEPAS BENCANA:

"#لا اله الا انت سبحانك اني كنت من الظالمين

Laa ilaaha illaa Anta SubhaanaKa innii kuntu minadz dzoolimiin.

7) MAHKOTA PENENANG HATI:

"#لا حول ولا قوة الا بالله العلي العظيم

Laa haula walaa quwwata illaa billaahil 'Aliyyil 'Adziim.

Jadikanlah Mahkota-mahkota ini selalu menghiasi kepala dan membasahi lisan kita, sebagai amalan dan senjata kita.

Mudah-mudahan dengan mengamalkan salah satu Mahkota tersebut Allah mengangkat segala cobaan, menghindarkan dari musibah, mengampuni dosa kesalahan, dan memasukkan kita ke dalam Syurga-NYA. ..

اللَّـﮬـُمَّ صـَلِِّ ؏َـلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّد وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا  مُحَمَّدٍ 

Ya Allah, sesungguh nya kami memohon kepada-Mu keselamatan ketika beragama, kesehatan badan, limpahan ilmu, keberkahan rezeki, taubat sebelum datangnya maut, rahmat pada saat datangnya maut, dan ampunan setelah datangnya maut. ya robb, mudahkanlah kami dalam menghadapi sakaratul maut, berikanlah kami keselamatan dari api neraka, dan ampunan pada saat hisab."..

.. .Aamiin ya robbal alamiin. ..

Berkah Sholawat Hutang Lunas

Berkah Sholawat Hutang Minggat.

Nama KH Abdullah Faqih, tak lagi asing bagi masyarakat Indonesia. Semasa hidupnya, tokoh kelahiran Widang, Tuban pada 2 Mei 1932 ini dikenal sebagai panutan dan rujukan para ulama dan umara di nusantara.   

Putra dari Kiai KH Rofi'i Zahid dan Nyai Khodijah ini, mengembangkan Pesantren Langitan dan berhasil mencetak kader-kader ulama andal yang mumpuni di bidang agama. 

Di mata santrinya, Mbah Faqih, begitu akrab disapa, adalah sosok yang alim, wara’, dan mempunyai intuisi batin yang sangat kuat. Kedekatannya dengan para santri yang pernah belajar dan berinteraksi langsung dengan almarhum meninggalkan kesan mendalam.

Salah satunya, kesan yang membekas hingga kini dalam ingatan Pengasuh Pondok pesantren Al-Falahiyyah Mlangi Yogyakarta, KH Rifki Agus Maksum. Kiai Rifki menceritakan kisahnya sambil menangis tersedu-sedu. 

Santr Mbah Faqih ini menangis karena teringat pengalamannya saat sowan kepada gurunya tersebut. 

Saat itu, kiai yang akrab dipanggil Gus Rifki ini mengalami masalah besar karena usaha ternak bebeknya bangkrut dan terlilit utang ke bank. 
Akhirnya, Gus Rifki sowan kepada Mbah Faqih untuk meminta petunjuk. 

"Waktu itu saya bangkrut. Terus saya sowan sama kiai, terus saya belum bicara apa-apa beliau sudah tahu kalau saya bangkrut," ucapnya.

Kemudian, Gus Rifki diberikan ijazah dua amalan shalawat oleh Mbah Faqih, yaitu bacaaan,

Shalllahu ‘ala Muhahamad dan shallahu alaika ya Muhammad. 

Mbah Faqih menyuruhnya membaca dua shalawat itu setiap malam. 

"Baru 30 hari, masya Allah saya langsung dapat uang waktu itu 2005, saya dapat Rp 200 juta sehingga utang saya lunas. semua selesai," katanya. 

Saat itu Mbah Faqih juga mengatakan kepada Gus Rifki bahwa jika mengamalkan shalawat tersebut secara istiqamah Gus Rifki akan berangkat naik haji. Perkataan Kiai Fakih itupun menjadi kenyataan. 

"Dan benar, pada 2005 saya dapat inayah, dan pada 2007 alhamdulillah saya haji. Jadi beliau makrifat betul, saya tahu betul itu," 

Foto: Mbah Faqih dan Habib Umar bin Hafidz

Manfaat surat al Jatsiyah 36-37

Bismillah

Dari Habib Abubakar bin Abdullah bin Alwi bin Zein Al Habsyi berkata, diriwayatkan dari Rosulullah ﷺ, Siapa yang membaca pada malam Jum'at 2 ayat terakhir dr Surah AlJatsiyah dan hadiahkan pada kedua orangtuanya, maka dipenuhi semua hak ² (keperluan²) mereka

*(فَلِلَّهِ ٱلۡحَمۡدُ رَبِّ ٱلسَّمَـٰوَ ٰ⁠تِ وَرَبِّ ٱلۡأَرۡضِ رَبِّ ٱلۡعَـٰلَمِینَ ۝  وَلَهُ ٱلۡكِبۡرِیَاۤءُ فِی ٱلسَّمَـٰوَ ٰ⁠تِ وَٱلۡأَرۡضِۖ وَهُوَ ٱلۡعَزِیزُ ٱلۡحَكِیمُ)*
[Surat Al-Jatsiyah 36 - 37]

dibaca 10 x pada malam Jumat lalu hadiahkan pahalanya untuk Rosulullah ﷺ, dan keluarga Rosulullah ﷺ, dan untuk kedua orangtua kita

*Al-Habib Husein Bin BaAqil*

SAYYIDAH FATIMAH AZ-ZAHRA PUTRI KESAYANGAN ROSULALLAH

ASSALAMU 'ALAIKUM WAROHMATULLAHI WABARAKATUH

"SAYYIDAH FATIMAH AZ-ZAHRA PUTRI  KESAYANGAN ROSULALLAH ﷺ 

Ali bin abi thalib menangis ketika membawa jasad fatimah az-zahra Penghulu seluruh wanita muslim di dunia disaat sayyidina ali bin abi thalib karamallahu wajhah memasukan jenazah istri tercintanya, sayyidatuna fatimah az-zahra ke liang lahat,
beliau menangis terisak-isak sehingga putranya sayyidina Hasan berkata : "wahai ayahku, gerangan apakah yang membuat dirimu menangis sedemikian rupa?" Sayyidina Ali bin abi thalib menjawab : "wahai putraku Hasan, aku teringat pesan kakekmu Rosulallah ﷺ  beliau bersabda ; "kelak jika putriku fatimah telah tiada wahai Ali, maka akulah yg akan pertama kali menerima jasadnya diliang lahat.
Dan demi Allah wahai Hasan putraku,
aku melihat tangan kakekmu Rosulullah ﷺ menerima jasad ibumu fatimah.
Aku melihat kakekmu Rosulullah ﷺ menciumi wajah ibumu fatimah.
Sayyidina ali bin abi thalib berkata ; "wahai Rasulullah kini aku kembalikan amanah yg telah engkau berikan kepadaku.
Aku kembalikan belahan jiwamu. Yg dimana setiap engkau rindu akan syurga, engkau ciumi wajah suci putrimu fatimah az-zahra...

❤اللهم صل على سيدنا محمد وعلى آل سيدنا محمد

" ya Allah kumpulkanlah kami bersama keluarga suci Rosulullah ﷺ kelak dihari kiamat nanti...😔
Aamiin allahumma aamiin.
.
.Semoga Bermanfaat

Kamis, 29 Oktober 2020

DOA AGAR DUNIA MENGEJARMU, TANPA KAU MENGEJARNYA



Diriwayatkan bahwa ada seorang Sahabat mengeluh kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata:
“Ya Rasulallah, kenapa dunia seolah-olah tidak menginginkanku, semua usahaku bangkrut, peternakan dan pertaniankupun selalu gagal panen.?

Sambil tersenyum Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan tentang tasbihnya para Malaikat serta tasbihnya penghuni alam semesta yaitu kalimat:

ﺳﺒﺤﺎﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺑﺤﻤﺪﻩ ﺳﺒﺤﺎﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﻌﻈﻴﻢ ﺍﺳﺘﻐﻔﺮ ﺍﻟﻠﻪ

SUBHANALLAH WA BIHAMDIHI SUBHANALLAHIL ‘AZHIM ASTAGHFIRULLAH

Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: 

“Bacalah 100 kali sebelum terbit Fajar.
Maka dunia akan memohon kepada Allah agar engkau miliki (mengejarmu tanpa kau mengejarnya)”

Selang beberapa bulan kemudian, sahabat tadi kembali lagi dan bercerita:
“Ya Rasulallah sekarang aku bingung dengan hartaku kemana harus aku letakkan hasil usaha dan peternakanku karena banyaknya.”*

Sumber Kitab :ﺃﺑﻮﺍﺏ ﺍﻟﻔﺮﺝ oleh Abuya Sayyid Muhammad bin Alwi Al Maliki Al Hasany.

AL FATIHAH

❤❤

Senin, 26 Oktober 2020

Jaminan Orang yang Bersolawat

JAMINAN MALAIKAT UNTUK ORANG YANG BERSHOLAWAT

Empat malaikat, yaitu: Jibril, Mika'il, Israfil dan Izra'il telah turun menjumpai Nabi Muhammad (saw) dan berkata kepada beliau (saw).

Jibril (as) berkata, "Wahai kekasihku, wahai Muhammad." Nabi (saw) menjawab, "Na'am," Jibril (as) selanjutnya berkata, "Barang siapa membacakan shalawat kepadamu 10 kali di pagi hari dan 10 kali di sore hari, maka aku akan menyambarnya (berjalan lebih cepat) di atas shirat, seperti sambaran kilat."

Mika'il (as) berkata, "Wahai kekasihku, wahai Muhammad (saw)." Nabi (saw) menjawab, "Na'am," Mika'il (as) selanjutnya berkata, "Barang siapa membacakan shalawat kepadamu 10 kali di pagi hari dan 10 kali di sore hari, aku akan memberinya minuman, yang tidak akan menjadikannya haus selamanya setelah minum minuman tersebut."

Israfil (as) berkata, "Wahai kekasihku, wahai Muhammad (saw)." Nabi (saw) menjawab, "Na'am," Israfil (as) selanjutnya berkata, "Barang siapa membacakan shalawat kepadamu 10 kali di pagi hari dan 10 kali di sore hari, aku bersujud dengan sujud yang sesungguhnya di bawah Arasy, aku tidak akan mengangkat kepalaku dari sujud sehingga orang yang bershalawat tadi mendapat ampunan Allah."

Izra'il (as) berkata, "Wahai kekasihku, wahai Muhammad (saw)." Nabi (saw) menjawab, "Na'am." Izra'il (as) selanjutnya berkata, "Barang siapa membacakan shalawat kepadamu 10 kali di pagi hari dan 10 kali di sore hari, maka aku akan mencabut ruhnya nanti sebagaimana mencabut sehelai rambut dari adonan tepung. (terj. Maksudnya ketika ruhnya dicabut nanti tidak akan terasa sakitnya, dan mudah sekali keluarnya).

Minggu, 25 Oktober 2020

Pahala yg tidak Terhitung Oleh Malaikat

PAHALA YANG TAK SANGGUP DIHITUNG MALAIKAT
______________________________________________
Bahwa Rosululloh Shallallahu `alaihi Wa Sallam bersabda :"Disaat aku tiba di langit di malam Isro’ Mi'roj, 
Aku melihat satu malaikat memiliki 1000 tangan, Di setiap tangan ada 1000 jari.
Aku melihatnya menghitung jarinya satu persatu".

Aku bertanya kepada malaikat Jibril Alaihis Salam, pendampingku, "Siapa gerangan malaikat itu, dan apa tugasnya?."
Malaikat Jibril Alaihis Salam berkata, "Sesungguhnya dia adalah malaikat yang diberi tugas untuk menghitung tetesan air hujan yang turun dari langit ke bumi."

Rosululloh Shallallahu `alaihi Wa Sallam bertanya kepada malaikat tadi, "Apakah kamu tahu berapa bilangan tetesan air hujan yang turun dari langit ke bumi sejak diciptakan Nabi Adam Alaihis Salam ?."

Malaikat itupun berkata,: "Wahai Rosulalloh Shallallahu `alaihi Wa Sallam , Demi yang telah mengutusmu dengan hak (kebenaran), sesungguhnya aku mengetahui semua jumlah tetesan air hujan yang turun dari langit ke bumi dari mulai diciptakan Nabi Adam Alaihis Salam sampai sekarang ini, begitu pula aku mengetahui jumlah tetetas yang turun ke laut, ke darat, ke hutan rimba, ke gunung-gunung, ke lembah-lembah, ke sungai-sungai, ke sawah-sawah dan ke tempat yang tidak diketahui manusia."

Mendengar uraian malaikat tadi, "Rosululloh Shallallahu `alaihi Wa Sallam sangat takjub dan bangga atas kecerdasannya dalam menghitung tetesan air hujan."

Kemudian malaikat tadi berkata kepada beliau, "Wahai Rosulalloh, Walaupun aku memiliki seribu tangan dan sejuta jari dan diberikan kepandaian dan keulungan untuk menghitung tetesan air hujan yang yang turun dari langit ke bumi, tapi aku memiliki kekurangan dan kelemahan."

Rosulalloh Shallallahu `alaihi Wa Sallam pun bertanya,
"Apa kekurangan dan kelemahan kamu?"

Malaikat itupun menjawab, "Kekurangan dan kelemahanku, wahai Rosulalloh, "Jika umatmu berkumpul di satu tempat, mereka menyebut namamu lalu BERSHOLAWAT atasmu, pada saat itu aku tidak bisa menghitung berapa banyaknya pahala yang diberikan Alloh Subhanahu wa Ta'ala kepada mereka atas sholawat yang mereka ucapkan atas dirimu."

مَن صلَّى عليَّ صلاةً واحدةً ، صَلى اللهُ عليه عَشْرَ صَلَوَاتٍ، وحُطَّتْ عنه عَشْرُ خَطياتٍ ، ورُفِعَتْ له عَشْرُ دَرَجَاتٍ

Artinya:“Barangsiapa yang mengucapkan shalawat kepadaku satu kali maka Allah akan bershalawat baginya sepuluh kali, dan digugurkan sepuluh kesalahan (dosa)nya, serta ditinggikan baginya sepuluh derajat/tingkatan (di surga kelak).”

[HR an-Nasa’i (no. 1297), Ahmad (3/102 dan 261), Ibnu Hibban (no. 904) dan al-Hakim (no. 2018), dishahihkan oleh Ibnu Hibban, al-Hakim dan disepakati oleh adz-Dzahabi, juga oleh Ibnu hajar dalam “Fathul Baari” (11/167)]
Diriwayatkan (Al-Mustadrah Syeikh An-Nuri, jilid 5: 355, hadis ke 72)

اللهم صلّ على سيدنا محمد • وعلى أل سيدنا محمد عدد خلقك ورضا نفسك وزينة عرشك ومدد كلماتك

SubhannAllah..
Allahumma Sholli alaa Sayyidina Muhammad...
Semoga kita semua mendapat syafaat dari Nabi kita Baginda Nabi Muhammad...dan istiqomah membaca sholawat kepada beliau SAW..Aamiin 🤲
Allahumma Sholli alaa Sayyidina Muhammad
❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤

Senin, 19 Oktober 2020

Kepala Imam Husain as

🗡️🍂KISAH CUCU RASULULLAH TERBUNUH🍂🗡️
"Kepala Imam Husain as Berbicara kepada Pendeta"

Allamah Damiri, salah seorang ulama terkenal Ahlusunah, dalam buku Hayatul Hayawan, di bawah kata Yahya mengatakan : ada tiga kepala yang terpisah dari raganya dan berbicara kepada orang lain. Yaitu kepala suci Nabi Yahya as, Imam Husain bin Ali as, dan kepala Sa‘id bin Jubair.

Pada saat pasukan Ibnu Ziyad berhenti di samping biara seorang pendeta, mereka meletakkan kepala Imam Husain as di dalam peti. Sementara menurut riwayat Quthub Rawandi, kepala itu ditancapkan di ujung tombak. Mereka duduk melingkar untuk menjaganya. 

Mereka menghabiskan malam dengan meminum minuman keras. Kemudian mereka membentangkan makanan dan sibuk memakannya. Tiba tiba mereka melihat dari dinding biara keluar sebuah tangan. Lalu dengan pena dari besi tangan itu menuliskan syair berikut di atas dinding: 

"Apakah umat yang sudah membunuh Husain, masih mengharap syafaat kakeknya pada hari perhitungan?" 

Karena melihat kejadian itu, mereka tidak lagi berselera makan. Mereka segera tidur karena ketakutan. Pada tengah malam, seorang pendeta mendengar suara ratapan. Pendeta itu juga mendengar seseorang yang sedang mengucapkan zikir dan tasbih. 

Dia bangun dan mengeluarkan kepalanya ke jendela. Dia melihat dari sebuah peti yang diletakkan di samping dinding, ada cahaya terang terpancar ke langit. Lalu secara berkelompok para malaikat turun dan mengucapkan, 

“Salam sejahtera bagimu wahai putra Rasulullah. Salam sejahtera bagimu wahai Aba Abdillah. Salawat dan salam Allah bagimu.” 

Melihat kejadian ini, pendeta itu terkejut dan ketakutan. Dia menunggu dengan sabar hingga masuk waktu Subuh. Setelah tiba waktu Subuh, dia keluar dari biara dan bertanya, ”Apa isi peti ini?"

Mereka menjawab, “Kepala Husain bin Ali." 

Pendeta itu bertanya lagi, “Siapa nama ibunya?" 

Mereka menjawab, "Fathimah Zahra, putri Muhammad Musthafa saw." 

Pendeta itu berkata, “Celaka kalian, atas apa yang telah kalian lakukan! Sungguh benar apa yang diberitahukan para rahib kami bahwa pada manakala orang ini terbunuh maka langit nkan menurunkan hujan darah. Dan ini tidak akan terjadi kecuali dia seorang nabi atau seorang washi (penerima wasiat) nabi. 

Sekarang, aku mohon kepada kalian untuk menyerahkan kepala ini selama satu jam kepadaku. Setelahnya, aku akan kembalikan lagi kepada kalian." 

Mereka berkata, “Kami tidak akan mengeluarkan kepala ini kecuali di hadapan Yazid supaya kami mendapat hadiah darinya." 

Pendeta itu bertanya, "Apa hadiahnya?" 

Mereka menjawab, “Satu kantong uang berisi sepuluh ribu dirham."

Pendeta itu berkata, “Saya akan berikan uang sejumlah itu kepada kalian.” 

Kemudian pendeta itu mengambil kantong uang yang berisi sepuluh ribu dirham. Mereka mengambil uang itu dan memberikan kepala suci Imam Husain kepada pendeta tersebut selama satu jam. 

Pendeta itu membawa kepala itu ke tempat ibadahnya. Lalu membasuhnya dengan air bunga dan memberinya wewangian. Setelah itu, ia meletakkannya di tempat sujudnya. Lalu ia menangis dan berkata kepada kepala itu, 

"Wahai Aba Abdillah, sungguh aku sangat menyesal tidak berada di Karbala hingga dapat mempersembahkan nyawaku untukmu. Wahai Aba Abdillah, kapan saja engkau bertemu dengan kakekmu, berilah kesaksian bahwa aku telah mengucapkan syahadah dan masuk Islam di hadapanmu.” 

Sebagian meriwayatkan: 

Pendeta itu berkata kepada kepala suci, “Hai kepala pemimpin alam semesta. Aku menyangka engkau bagian dari orang orang yang telah Allah gambarkan di dalam Taurat dan Injil dan telah diberikan keutamaan takwil oleh Nya. Karena para pemimpin Bani Adam di dunia dan di akhirat menangisimu. Aku ingin mengenal nama dan sifatmu." 

Kepala yang suci itu menjawab, “Akulah orang yang teraniaya. Akulah orang yang bersedih. Akulah orang yang berduka. Akulah orang yang dibunuh oleh pedang kezaliman. Akulah orang yang dizalimi dengan perang melawan orang durhaka. Akulah orang yang dengan tanpa dosa, hartanya dirampas. Akulah orang yang dicegah untuk mendapatkan air. Akulah orang yang diusir dari keluarga dan negerinya." 

Pendeta Kristen itu berkata, "Demi Allah, hai kepala suci, jelaskan tentang dirimu lebih jelas lagi." 

Kepala itu berkata, “Akulah putra Muhammad Musthafa. Akulah putra Ali Murtadha. Akulah putra Fathimah Zahra. Akulah putra Khadijah Kubra. Akulah putra al ‘Urwatal Wutsqa. Akulah syahid Karbala. Akulah orang yang terbunuh di Karbala. Akulah yang teraniaya di Karbala. Akulah yang kehausan di Karbala.” 

Ketika murid-murid pendeta itu melihat hal ini, mereka menangis dan mematahkan tiang Salib. Lalu mereka datang kepada Imam Ali Zainal Abidin as dan berikrar masuk Islam.

Jumat, 16 Oktober 2020

Islam Jawa

Mungkin ini jawaban  foto  

Islam Kejawaan (Taddaburan/maiyahan) di Indonesia.

Alhamdulillah, akhir-akhir ini orang merasakan manfaatnya Nahdlatul Ulama (NU). Dulu, orang yang paling bahagia, paling sering merasakan berkahnya NU adalah keluarga orang yang sudah meninggal : setiap hari dikirimi doa dan tumpeng.

Hari ini begitu dunia dilanda kekacauan, ketika Dunia Islam galau: di Afganistan perang sesama Islam, di Suriah perang sesama Islam, di Irak, perang sesama Islam. Semua ingin tahu, ketika semua sudah jebol, kok ada yang masih utuh: Islam di Indonesia.

Akhirnya semua ingin kesini, seperti apa Islam di Indonesia kok masih utuh. Akhirnya semua sepakat: utuhnya Islam di Indonesia itu karena memiliki jamiyyah NU. Akhirnya semua pingin tahu NU itu seperti apa.

Ternyata, jaman dulu ada orang Belanda yang sudah menceritakan santri NU,  namanya Christia Snouck Hurgronje. Dia ini hafal Alquran, Sahih Bukhori, Sahih Muslim, Alfiyyah Ibnu Malik, Fathul Mu’in , tapi tidak islam, sebab tugasnya menghancurkan Islam Indonesia.

Mengapa? Karena Islam Indonesia selalu melawan Belanda. Sultan Hasanuddin, santri. Pangeran Diponegoro atau Mbah Abdul Hamid, santri. Sultan Agung, santri. Mbah Zaenal Mustofa, santri. Semua santri kok melawan Belanda.

Akhirnya ada orang belajar secara khusus tentang Islam, untuk mencari rahasia bagaimana caranya Islam Indonesia ini remuk. Snouck Hurgronje masuk ke Indonesia dengan menyamar namanya Syekh Abdul Ghaffar. Dia belajar Islam, menghafalkan Alquran dan Hadis di Arab. Maka akhirnya paham betul Islam.

Hanya saja begitu ke Indonesia, Snouck Hurgronje bingung: mencari Islam dengan wajah Islam, tidak ketemu. Ternyata Islam yang dibayangkan dan dipelajari Snouck Hurgronje itu tidak ada.

Mencari Allah disini tidak ketemu, ketemunya Pangeran. Ketemunya Gusti. Padahal ada pangeran namanya Pangeran Diponegoro. Ada Gusti namanya Gusti Kanjeng. Mencari istilah shalat tidak ketemu, ketemunya sembahyang. Mencari syaikhun, ustadzun , tidak ketemu, ketemunya kiai. Padahal ada nama kerbau namanya kiai slamet. Mencari mushalla tidak ketemu, ketemunya langgar.

Maka, ketika Snouck Hurgronje bingung, dia dibantu Van Der Plas. Ia menyamar dengan nama Syekh Abdurrahman. Mereka memulai dengan belajar bahasa Jawa. Karena ketika masuk Indonesia, mereka sudah bisa bahasa Indonesia, bahasa Melayu, tapi tidak bisa bahasa Jawa. 

Begitu belajar bahasa Jawa, mereka bingung, strees. Orang disini makanannya nasi (sego).  Snouck Hurgronje dan Van Der Plas tahu bahasa beras itu, bahasa inggrisnya rice, bahasa arabnya ar-ruz . 

Yang disebut ruz, ketika di sawah, namanya pari, padi. Disana masih ruz, rice. Begitu padi dipanen, namanya ulen-ulen, ulenan. Disana masih ruz, rice. Jadi ilmunya sudah mulai kucluk , korslet. 

Begitu ditutu, ditumbuk, digiling, mereka masih mahami ruz, rice , padahal disini sudah dinamai gabah. Begitu dibuka, disini namanya beras, disana masih ruz, rice . Begitu bukanya cuil, disini namanya menir, disana masih ruz, rice. Begitu dimasak, disini sudah dinamai sego , nasi, disana masih ruz, rice. 

Begitu diambil cicak satu, disini namanya
upa, disana namanya masih ruz, rice. Begitu dibungkus daun pisang, disini namanya lontong, sana masih ruz, rice. Begitu dibungkus janur kuning namanya ketupat, sana masih ruz, rice. Ketika diaduk dan hancur, lembut, disini namanya bubur, sana namanya masih ruz, rice.

Inilah bangsa aneh, yang membuat Snouck Hurgronje judeg, pusing. 

Mempelajari Islam Indonesia tidak paham, akhirnya mencirikan Islam Indonesia dengan tiga hal. Pertama, kethune miring sarunge nglinting (berkopiah miring dan bersarung ngelinting). Kedua, mambu rokok (bau rokok). Ketiga, tangane gudigen (tangannya berpenyakit kulit). 

Cuma tiga hal itu catatan (pencirian Islam Indonesia) Snouck Hurgronje di Perpustakaan Leiden, Belanda. Tidak pernah ada cerita apa-apa, yang lain sudah biasa. Maka, jangankan  Snouck Hurgronje, orang Indonesia saja kadang tidak paham dengan Islam Indonesia, karena kelamaan di tanah Arab. 

Lihat tetangga pujian, karena tidak paham, bilang bid’ah . Melihat tetangga menyembelih ayam untuk tumpengan, dibilang bid’ah. Padahal itu produk Islam Indonesia. Kelamaan diluar Indonesia, jadi tidak paham. Masuk kesini sudah kemlinthi, sok-sokan, memanggil Nabi dengan sebutan “Muhammad” saja. Padahal, disini, tukang bakso saja dipanggil “Mas”. Padahal orang Jawa nyebutnya Kanjeng Nabi.

Lha , akhir-akhir ini semakin banyak yang tidak paham Islam Indonesia. Kenapa? Karena Islam Indonesia keluar dari rumus-rumus Islam dunia, Islam pada umumnya. Kenapa? Karena Islam Indonesia ini saripati (essensi) Islam yang paling baik yang ada di dunia. 

Kenapa? Karena Islam tumbuhnya tidak disini, tetapi di Arab. Rasulullah orang Arab. Bahasanya bahasa Arab. Yang dimakan juga makanan Arab. Budayanya budaya Arab. Kemudian Islam datang kesini, ke Indonesia.

Kalau Islam masuk ke Afrika itu mudah, tidak sulit, karena waktu itu peradaban mereka masih belum maju, belum terdidik. Orang belum terdidik itu mudah dijajah. Seperti pilkada, misalnya, diberi Rp 20.000 atau mie instan sebungkus, beres. Kalau mengajak orang berpendidikan, sulit, dikasih uang Rp 10 juta belum tentu mau.

Islam datang ke Eropa juga dalam keadaan terpuruk. Tetapi Islam datang kesini, mikir-mikir dulu, karena bangsa di Nusantara ini sedang kuat-kuatnya. Bangsa anda sekalian ini bukan bangsa kecoak. Ini karena ketika itu sedang ada dalam kekuasaan negara terkuat yang menguasai 2/3 dunia, namanya Majapahit.

Majapahit ini bukan negara sembarangan. Universitas terbesar di dunia ada di Majapahit, namanya Nalanda. Hukum politik terbaik dunia yang menjadi rujukan adanya di Indonesia, waktu itu ada di Jawa, kitabnya bernama Negarakertagama. Hukum sosial terbaik ada di Jawa, namanya Sutasoma. Bangsa ini tidak bisa ditipu, karena orangnya pintar-pintar dan kaya-raya.

Cerita surga di Jawa itu tidak laku. Surga itu (dalam penggambaran Alquran): tajri min tahtihal anhaar (airnya mengalir), seperti kali. Kata orang disini: “mencari air kok sampai surga segala? Disini itu, sawah semua airnya mengalir.” Artinya, pasti bukan itu yang diceritakan para ulama penyebar Islam. Cerita surga tentang buahnya banyak juga tidak, karena disini juga banyak buah. Artinya dakwah disini tidak mudah. 

Diceritain pangeran, orang Jawa sudah punya Sanghyang Widhi. Diceritain Ka’bah orang jawa juga sudah punya stupa: sama-sama batunya dan tengahnya sama berlubangnya. Dijelaskan menggunakan tugu Jabal Rahmah, orang Jawa punya Lingga Yoni. 

Dijelaskan memakai hari raya kurban, orang Jawa punya peringatan hari raya kedri. Sudah lengkap. Islam datang membawa harta-benda, orang Jawa juga tidak doyan. Kenapa? Orang Jawa pada waktu itu beragama hindu. Hindu itu berprinsip yang boleh bicara agama adalah orang Brahmana, kasta yang sudah tidak membicarakan dunia. 

Dibawah Brahmana ada kasta Ksatria, seperti kalau sekarang Gubernur atau Bupati. Ini juga tidak boleh bicara agama, karena masih ngurusin dunia. Dibawah itu ada kasta namanya Wesya (Waisya), kastanya pegawai negeri. Kasta ini tidak boleh bicara agama. 

Di bawah itu ada petani, pedagang dan saudagar, ini kastanya Sudra . Kasta ini juga tidak boleh bicara agama. Jadi kalau ada cerita Islam dibawa oleh para saudagar, tidak bisa dterima akal. Secara teori ilmu pengetahuan ditolak, karena saudagar itu Sudra dan Sudra tidak boleh bicara soal agama. 

Yang cerita Islam dibawa saudagar ini karena saking judeg-nya, bingungnya memahami Islam di Indonesia. Dibawahnya ada kasta paria, yang hidup dengan meminta-minta, mengemis. Dibawah Paria ada pencopet, namanya kasta Tucca. Dibawah Tucca ada maling, pencuri, namanya kasta Mlecca. Dibawahnya lagi ada begal, perampok, namanya kasta Candala.

Anak-anak muda NU harus tahu. Itu semua nantinya terkait dengan Nahdlatul Ulama. Akhirnya para ulama kepingin, ada tempat begitu bagusnya, mencoba diislamkan. Ulama-ulama dikirim ke sini. 

Namun mereka menghadapi masalah, karena orang-orang disini mau memakan manusia. Namanya aliran Bhirawa. Munculnya dari Syiwa. Mengapa ganti Syiwa, karena Hindu Brahma bermasalah. Hindu Brahma, orang Jawa bisa melakukan tetapi matinya sulit. Sebab orang Brahma matinya harus moksa atau murco.

Untuk moksa harus melakukan upawasa. Upawasa itu tidak makan, tidak minum, tidak ngumpulin istri, kemudian badannya menyusut menjadi kecil dan menghilang. Kadang ada yang sudah menyusut menjadi kecil, tidak bisa hilang, gagal moksa, karena teringat kambingnya, hartanya. Lha ini terus menjadi jenglot atau batara karang. 

Jika anda menemukan jenglot ini, jangan dijual mahal karena itu produk gagal moksa. Pada akhirnya, ada yang mencari ilmu yang lebih mudah, namanya ilmu ngrogoh sukmo . Supaya bisa mendapat ilmu ini, mencari ajar dari Kali. Kali itu dari Durga. Durga itu dari Syiwa, mengajarkan Pancamakara. 

Supaya bisa ngrogoh sukmo, semua sahwat badan dikenyangi, laki-laki perempuan melingkar telanjang, menghadap arak dan ingkung daging manusia. Supaya syahwat bawah perut tenang, dikenyangi dengan seks bebas. Sisa-sisanya sekarang ada di Gunung Kemukus. 

Supaya perut tenang, makan tumpeng. Supaya pikiran tenang, tidak banyak pikiran, minum arak. Agar ketika sukma keluar dari badan, badan tidak bergerak, makan daging manusia. Maka jangan heran kalau muncul orang-orang macam Sumanto. 

Ketika sudah pada bisa ngrogoh sukmo, ketika sukmanya pergi di ajak mencuri namanya
ngepet . Sukmanya pergi diajak membunuh manusia namanya santet. Ketika sukmanya diajak pergi diajak mencintai wanita namanya pelet. Maka kemudian di Jawa tumbuh ilmu santet, pelet dan ngepet. 

Ada 1.500 ulama yang dipimpin Sayyid Aliyudin habis di-ingkung oleh orang Jawa pengamal Ngrogoh Sukma. Untuk menghindari pembunuhan lagi, maka Khalifah Turki Utsmani mengirim kembali tentara ulama dari Iran, yang tidak bisa dimakan orang Jawa. 

Nama ulama itu Sayyid Syamsuddin Albaqir Alfarsi. Karena lidah orang Jawa sulit menyebutnya, kemudian di Jawa terkenal dengan sebutan Syekh Subakir. Di Jawa ini di duduki bala tentara Syekh Subakir, kemudian mereka diusir. 

Ada yang lari ke Pantai Selatan, Karang Bolong, Srandil Cicalap, Pelabuhan Ratu, dan Banten. Di namai Banten, di ambil dari bahasa Sansekerta, artinya Tumbal. Yang lari ke timur, naik Gunung Lawu, Gunung Kawi, Alas Purwo Banyuwangi (Blambangan). Disana mereka dipimpin Menak Sembuyu dan Bajul Sengoro. 

Karena Syekh Subakir sepuh, maka pasukannya dilanjutkan kedua muridnya namanya Mbah Ishak (Maulana Ishak) dan Mbah Brahim (Ibrahim Asmoroqondi). Mereka melanjutkan pengejaran. Menak Sembuyu menyerah, anak perempuannya bernama Dewi Sekardadu dinikahi Mbah Ishak, melahirkan Raden Ainul Yaqin Sunan Giri yang dimakamkan di Gresik.

Sebagian lari ke Bali, sebagian lari ke Kediri, menyembah Patung Totok Kerot, diuber Sunan Bonang, akhirnya menyerah. Setelah menyerah, melingkarnya tetap dibiarkan tetapi jangan telanjang, arak diganti air biasa, ingkung manusia diganti ayam, matra ngrogoh sukmo diganti kalimat tauhid; laailaahaillallah. Maka kita punya adat tumpengan. 

Kalau ada orang banyak komentar mem-bid’ah -kan, ceritakanlah ini. Kalau ngeyel, didatangi: tabok mulutnya. Ini perlu diruntutkan, karena NU termasuk yang masih mengurusi beginian.

Habis itu dikirim ulama yang khusus mengajar ngaji, namanya Sayyid Jamaluddin al-Husaini al-Kabir. Mendarat di Semarang dan menetap di daerah Merapi. Orang Jawa sulit mengucapkan, maka menyebutnya Syekh Jumadil Kubro.

Disana dia punya murid namanya Syamsuddin, pindah ke Jawa Barat, membuat pesantren puro di daerah Karawang. Punya murid bernama Datuk Kahfi, pindah ke Amparan Jati, Cirebon. Punya murid Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati. Inilah yang bertugas mengislamkan Padjajaran. Maka kemudian ada Rara Santang, Kian Santang dan Walangsungsang.

Nah , Syekh Jumadil Kubro punya putra punya anak bernama Maulana Ishak dan Ibrahim Asmoroqondi, bapaknya Walisongo. Mbah Ishak melahirkan Sunan Giri. Mbah Ibrahim punya anak Sunan Ampel. Inilah yang bertugas mengislamkan Majapahit.

Mengislamkan Majapahit itu tidak mudah. Majapahit orangnya pinter-pinter. Majapahit Hindu, sedangkan Sunan Ampel Islam. Ibarat sawah ditanami padi, kok malah ditanami pisang. Kalau anda begitu, pohon pisang anda bisa ditebang. 

Sunan Ampel berpikir bagaimana caranya? Akhirnya beliau mendapat petunjuk ayat Alquran. Dalam surat Al-Fath, 48:29 disebutkan : ".... masaluhum fit tawrat wa masaluhum fil injil ka zar’in ahraja sat’ahu fa azarahu fastagladza fastawa ‘ala sukıhi yu’jibuz zurraa, li yagidza bihimul kuffar………”

Artinya: “…………Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya, maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin)……………”

Islam itu seperti tanaman yang memiliki anak-anaknya, kemudian hamil, kemudian berbuah, ibu dan anaknya bersama memenuhi pasar, menakuti orang kafir. Tanaman apa yang keluar anaknya dulu baru kemudian ibunya hamil? Jawabannya adalah padi. 

Maka kemudian Sunan Ampel dalam menanam Islam seperti menanam padi. Kalau menanam padi tidak di atas tanah, tetapi dibawah tanah, kalau diatas tanah nanti dipatok ayam, dimakan tikus.

Mau menanam Allah, disini sudah ada istilah pangeran. Mau menanam shalat, disini sudah ada istilah sembahyang. Mau menanam syaikhun, ustadzun, disini sudah ada kiai. Menanam tilmidzun, muridun , disini sudah ada shastri, kemudian dinamani santri. Inilah ulama dulu, menanamnya tidak kelihatan. 

Menanamnya pelan-pelan, sedikit demi sedikit: kalimat syahadat, jadi kalimasada. Syahadatain, jadi sekaten. Mushalla, jadi langgar. Sampai itu jadi bahasa masyarakat. Yang paling sulit mememberi pengertian orang Jawa tentang mati. 

Kalau Hindu kan ada reinkarnasi. Kalau dalam Islam, mati ya mati (tidak kembali ke dunia). Ini paling sulit, butuh strategi kebudayaan. Ini pekerjaan paling revolusioner waktu itu. Tidak main-main, karena ini prinsip. Prinsip inna lillahi wa inna ilaihi rajiun berhadapan dengan reinkarnasi. Bagaimana caranya? 

Oleh Sunan Ampel, inna lillahi wa inna ilaihi rajiun kemudian di-Jawa-kan: Ojo Lali Sangkan Paraning Dumadi.

Setelah lama diamati oleh Sunan Ampel, ternyata orang Jawa suka tembang, nembang, nyanyi. Beliau kemudian mengambil pilihan: mengajarkan hal yang sulit itu dengan tembang. Orang Jawa memang begitu, mudah hafal dengan tembang. 

Orang Jawa, kehilangan istri saja tidak lapor polisi, tapi nyanyi: ndang baliyo, Sri, ndang baliyo . Lihat lintang, nyanyi: yen ing tawang ono lintang, cah ayu. Lihat bebek, nyanyi: bebek adus kali nyucuki sabun wangi. Lihat enthok: menthok, menthok, tak kandhani, mung rupamu. Orang Jawa suka nyanyi, itulah yang jadi pelajaran. Bahkan, lihat silit (pantat) saja nyanyi: … ndemok silit, gudighen.

Maka akhirnya, sesuatu yang paling sulit, berat, itu ditembangkan. Innalillahi wa inna ilaihi rajiun diwujudkan dalam bentuk tembang bernama Macapat . Apa artinya Macapat? Bahwa orang hidup harus bisa membaca perkara Empat.

Keempat perkara itu adalah teman nyawa yang berada dalam raga ketika turun di dunia. Nyawa itu produk akhirat. Kalau raga produk dunia. Produk dunia makanannya dunia, seperti makan. Yang dimakan, sampah padatnya keluar lewat pintu belakang, yang cair keluar lewat pintu depan. 

Ada sari makanan yang disimpan, namanya mani (sperma). Kalau mani ini penuh, bapak akan mencari ibu, ibu mencari bapak, kemudian dicampur dan dititipkan di rahim ibu. Tiga bulan jadi segumpal darah, empat bulan jadi segumpal daging. Inilah produk dunia. 

Begitu jadi segumpal daging, nyawa dipanggil. “Dul, turun ya,”. “Iya, Ya Allah”. “Alastu birabbikum?” (apakah kamu lupa kalau aku Tuhanmu?). “Qalu balaa sahidnya,” (Iya Ya Allah, saya jadi saksi-Mu), jawab sang nyawa,. ”fanfuhur ruuh” (maka ditiupkanlah ruh itu ke daging). Maka daging itu menjadi hidup. Kalau tidak ditiup nyawa, tidak hidup daging ini. (lihat, a.l.: Q.S. Al-A’raf, 7:172, As-Sajdah: 7 -10, Al-Mu’min: 67, ed. )

Kemudian, setelah sembilan bulan, ruh itu keluar dengan bungkusnya, yaitu jasad. Adapun jasadnya sesuai dengan orang tuanya: kalau orang tuanya pesek anaknya ya pesek; orang tuanya hidungnya mancung anaknya ya mancung; orang tuanya hitam anaknya ya hitam; kalau orang tuanya ganteng dan cantik, lahirnya ya cantik dan ganteng.

Itu disebut Tembang Mocopat: orang hidup harus membaca perkara empat. Keempat itu adalah teman nyawa yang menyertai manusia ke dunia, ada di dalam jasad. Nyawa itu ditemani empat: dua adalah Iblis yang bertugas menyesatkan, dan dua malaikat yang bertugas nggandoli, menahan. Jin qarin dan hafadzah.

Itu oleh Sunan Ampel disebut Dulur Papat Limo Pancer. Ini metode mengajar. Maka pancer ini kalau mau butuh apa-apa bisa memapakai dulur tengen (teman kanan) atau dulur kiwo (teman kiri). Kalau pancer kok ingin istri cantik, memakai jalan kanan, yang di baca Ya Rahmanu Ya Rahimu tujuh hari di masjid, yang wanita nantinya juga akan cinta. 

Tidak mau dulur tengen, ya memakai yang kiri, yang dibaca aji-aji Jaran Goyang, ya si wanita jadinya cinta, sama saja. Kepingin perkasa, kalau memakai kanan yang dipakai kalimah La haula wala quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘adzim . Tak mau yang kanan ya memakai yang kiri, yang dibaca aji-aji Bondowoso, kemudian bisa perkasa. 

Mau kaya kalau memakai jalan kanan ya shalat dhuha dan membaca Ya Fattaahu Ya Razzaaqu , kaya. Kalau tidak mau jalan kanan ya jalan kiri, membawa kambing kendhit naik ke gunung kawi, nanti pulang kaya.

Maka, kiai dengan dukun itu sama; sama hebatnya kalau tirakatnya kuat. Kiai yang ‘alim dengan dukun yang tak pernah mandi, jika sama tirakatnya, ya sama saktinya: sama-sama bisa mencari barang hilang. Sama terangnya. Bedanya: satu terangnya lampu dan satunya terang rumah terbakar. 

Satu mencari ayam dengan lampu senter, ayamnya ketemu dan senternya utuh; sedangkan yang satu mencari dengan blarak (daun kelapa kering yang dibakar), ayamnya ketemu, hanya blarak-nya habis terbakar. Itu bedanya nur dengan nar.

Maka manusia ini jalannya dijalankan seperti tembang yang awalan, Maskumambang: kemambange nyowo medun ngalam ndunyo , sabut ngapati, mitoni , ini rohaninya, jasmaninya ketika dipasrahkan bidan untuk imunisasi.

Maka menurut NU ada ngapati, mitoni, 
karena itu turunnya nyawa. Setelah Maskumambang, manusia mengalami tembang Mijil. Bakal Mijil : lahir laki-laki dan perempuan. Kalau lahir laki-laki aqiqahnya kambing dua, kalau lahir perempuan aqiqahnya kambing satu.

Setelah Mijil, tembangnya Kinanti. Anak-anak kecil itu, bekalilah dengan agama, dengan akhlak. Tidak mau ngaji, pukul. Masukkan ke TPQ, ke Raudlatul Athfal (RA). Waktunya ngaji kok tidak mau ngaji, malah main layangan, potong saja benangnya. Waktu ngaji kok malah mancing, potong saja kailnya. 

Anak Kinanti ini waktunya sekolah dan ngaji. Dibekali dengan agama, akhlak. Kalau tidak, nanti keburu masuk tembang Sinom: bakal menjadi anak muda (cah enom), sudah mulai ndablek, bandel.

Apalagi, setelah Sinom, tembangnya asmorodono , mulai jatuh cinta. Tai kucing serasa coklat. Tidak bisa di nasehati. Setelah itu manusia disusul tembang Gambuh , laki-laki dan perempuan bakal membangun rumah tangga, rabi, menikah.

Setelah Gambuh, adalah tembang Dhandanggula. Merasakan manis dan pahitnya kehidupan. Setelah Dhandanggula , menurut Mbah Sunan Ampel, manusia mengalami tembang Dhurma. 

Dhurma itu: darma bakti hidupmu itu apa? Kalau pohon mangga setelah berbuah bisa untuk makanan codot, kalau pisang berbuah bisa untuk makanan burung, lha buah-mu itu apa? Tenagamu mana? Hartamu mana? Ilmumu mana yang didarmabaktikan untuk orang lain?

Khairunnas anfa’uhum linnas , sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat untuk manusia lainnya. Sebab, kalau sudah di Dhurma tapi tidak darma bakti, kesusul tembang Pangkur. 

Anak manusia yang sudah memunggungi dunia: gigi sudah copot, kaki sudah linu. Ini harus sudah masuk masjid. Kalau tidak segera masuk masjid kesusul tembang Megatruh : megat, memutus raga beserta sukmanya. Mati.

Terakhir sekali, tembangnya Pucung. Lha ini, kalau Hindu reinkarnasi, kalau Islam Pucung . Manusia di pocong. Sluku-sluku Bathok, dimasukkan pintu kecil. Makanya orang tua (dalam Jawa) dinamai buyut, maksudnya : siap-siap mlebu lawang ciut (siap-siap masuk pintu kecil).

Adakah yang mengajar sebaik itu di dunia?
Kalau sudah masuk pintu kecil, ditanya Malaikat Munkar dan Nankir. Akhirnya itu, yang satu reinkarnasi, yang satu buyut . Ditanya: “Man rabbuka?” , dijawab: “Awwloh,”. Ingin disaduk Malaikat Mungkar – Nakir apa karena tidak bisa mengucapkan Allah. 

Ketika ingin disaduk, Malaikat Rakib buru-buru menghentikan: “Jangan disiksa, ini lidah Jawa”. Tidak punya alif, ba, ta, punyanya ha, na, ca, ra, ka . “Apa sudah mau ngaji?”kata Mungkar – Nakir. “Sudah, ini ada catatanya, NU juga ikut, namun belum bisa sudah meninggal”. “Yasudah, meninggalnya orang yang sedang belajar, mengaji, meninggal yang dimaafkan oleh Allah.”

Maka, seperti itu belajar. Kalau tidak mau belajar, ditanya, “Man rabbuka?” , menjawab, “Ha……..???”. langsung dipukul kepalanya: ”Plaakkk!!”. Di- canggah lehernya oleh malaikat. Kemudian jadi wareng , takut melihat akhirat, masukkan ke neraka, di- udek oleh malaikat, di-gantung seperti siwur, iwir-iwir, dipukuli modal-madil seperti tarangan bodhol , ajur mumur seperti gedhebok bosok. 

Maka, pangkat manusia, menurut Sunan Ampel: anak – bapak – simbah – mbah buyut – canggah – wareng – udek-udek – gantung siwur – tarangan bodol – gedhebok bosok. Lho, dipikir ini ajaran Hindu. Kalau seperti ini ada yang bilang ajaran Hindu, kesini, saya tabok mulutnya!

Begitu tembang ini jadi, kata Mbah Bonang, masa nyanyian tidak ada musiknya. Maka dibuatkanlah gamelan, yang bunyinya Slendro Pelok : nang ning nang nong, nang ning nang nong, ndang ndang, ndang ndang, gung . Nang ning nang nong: yo nang kene yo nang kono (ya disini ya disana); ya disini ngaji, ya disana mencuri kayu. 

Lho, lha ini orang-orang kok. Ya seperti disini ini: kelihatannya disini shalawatan, nanti pulang lihat pantat ya bilang: wow!. Sudah hafal saya, melihat usia-usia kalian. Ini kan kamu pas pakai baju putih. Kalau pas ganti, pakainya paling ya kaos Slank.

Nah, nang ning nang nong, hidup itu ya disini ya disana. Kalau pingin akhiran baik, naik ke ndang ndang, ndang ndang, gung. Ndang balik ke Sanghyang Agung. Fafirru illallaah , kembalilah kepada Allah. Pelan-pelan. Orang sini kadang tidak paham kalau itu buatan Sunan Bonang.

Maka, kemudian, oleh Kanjeng Sunan Kalijaga, dibuatkan tumpeng agar bisa makan. Begitu makan kotor semua, dibasuh dengan tiga air bunga: mawar, kenanga dan kanthil.

Maksudnya: uripmu mawarno-warno, keno ngono keno ngene, ning atimu kudhu kanthil nang Gusti Allah (Hidupmu berwarna-warni, boleh seperti ini seperti itu, tetapi hatimu harus tertaut kepada Allah). Lho , ini piwulang-piwulangnya, belum diajarkan apa-apa. Oleh Sunan Kalijaga, yang belum bisa mengaji, diajari Kidung Rumekso Ing Wengi. Oleh Syekh Siti Jenar, yang belum sembahyang, diajari syahadat saja.

Ketika tanaman ini sudah ditanam, Sunan Ampel kemudian ingin tahu: tanamanku itu sudah tumbuh apa belum? Maka di-cek dengan tembang Lir Ilir, tandurku iki wis sumilir durung? Nek wis sumilir, wis ijo royo-royo, ayo menek blimbing. Blimbing itu ayo shalat. Blimbing itu sanopo lambang shalat.

Disini itu, apa-apa dengan lambang, dengan simbol: kolo-kolo teko , janur gunung. Udan grimis panas-panas , caping gunung. Blimbing itu bergigir lima. Maka, cah angon, ayo menek blimbing . Tidak cah angon ayo memanjat mangga.

Akhirnya ini praktek, shalat. Tapi prakteknya beda. Begitu di ajak shalat, kita beda. Disana, shalat 'imaadudin, lha shalat disini, tanamannya mleyor-mleyor, berayun-ayun. 

Disana dipanggil jam setengah duabelas kumpul. Kalau disini dipanggil jam segitu masih disawah, di kebun, angon bebek, masih nyuri kayu. Maka manggilnya pukul setengah dua. Adzanlah muadzin, orang yang adzan. Setelah ditunggu, tunggu, kok tidak datang-datang. 

Padahal tugas Imam adalah menunggu makmum. Ditunggu dengan memakai pujian. Rabbana ya rabbaana, rabbana dholamna angfusana , – sambil tolah-toleh, mana ini makmumnya – wainlam taghfirlana, wa tarhamna lanakunanna minal khasirin. 

Datang satu, dua, tapi malah merokok di depan masjid. Tidak masuk. Maka oleh Mbah Ampel: Tombo Ati, iku ono limang perkoro….. . Sampai pegal, ya mengobati hati sendiri saja. Sampai sudah lima kali kok tidak datang-datang, maka kemudian ada pujian yang agak galak: di urugi anjang-anjang……. , langsung deh, para ma'mum buruan masuk. Itu tumbuhnya dari situ.

Kemudian, setelah itu shalat. Shalatnya juga tidak sama. Shalat disana, dipanah kakinya tidak terasa, disini beda. Begitu Allahu Akbar , matanya bocor: itu mukenanya berlubang, kupingnya bocor, ting-ting-ting, ada penjual bakso. Hatinya bocor: protes imamnya membaca surat kepanjangan. Nah, ini ditambal oleh para wali, setelah shalat diajak dzikir, laailaahaillallah.

Hari ini, ada yang protes: dzikir kok kepalanya gedek-gedek, geleng-geleng? Padahal kalau sahabat kalau dzikir diam saja. Lho, sahabat kan muridnya nabi. Diam saja hatinya sudah ke Allah. Lha orang sini, di ajak dzikir diam saja, ya malah tidur. Bacaannya dilantunkan dengan keras, agar ma'mum tahu apa yang sedang dibaca imam.

Kemudian, dikenalkanlah nabi. Orang sini tidak kenal nabi, karena nabi ada jauh disana. Kenalnya Gatot Kaca. Maka pelan-pelan dikenalkan nabi. Orang Jawa yang tak bisa bahasa Arab, dikenalkan dengan syair: kanjeng Nabi Muhammad, lahir ono ing Mekkah, dinone senen, rolas mulud tahun gajah.

Inilah cara ulama-ulama dulu kala mengajarkan Islam, agar masyarakat disini kenal dan paham ajaran nabi. Ini karena nabi milik orang banyak (tidak hanya bangsa Arab saja). Wamaa arsalnaaka illa rahmatal lil ‘aalamiin ; Aku (Allah) tidak mengutusmu (Muhammad) kecuali untuk menjadi rahmat bagi alam semesta.

Maka, shalawat itu dikenalkan dengan cara berbeda-beda. Ada yang sukanya shalawat ala Habib Syekh, Habib Luthfi, dll. Jadi jangan heran kalau shalawat itu bermacam-macam. Ini beda dengan wayang yang hanya dimiliki orang Jawa.

Orang kalau tidak tahu Islam Indonesia, pasti bingung. Maka Gus Dur melantunkan shalawat memakai lagu dangdut. Astaghfirullah, rabbal baraaya, astaghfirullah, minal khataaya, ini lagunya Ida Laila: Tuhan pengasih lagi penyayang, tak pilih kasih, tak pandang sayang. Yang mengarang namanya Ahmadi dan Abdul Kadir. 

Nama grupnya Awara. Ida Laila ini termasuk Qari’ terbaik dari Gresik. Maka lagunya bagus-bagus dan religius, beda dengan lagu sekarang yang mendengarnya malah bikin kepala pusing. Sistem pembelajaran yang seperti ini, yang dilakukan oleh para wali. Akhirnya orang Jawa mulai paham Islam.

Namun selanjutnya Sultan Trenggono tidak sabaran: menerapkan Islam dengan hukum, tidak dengan budaya. "Urusanmu kan bukan urusan agama, tetapi urusan negara,” kata Sunan Kalijaga. “Untuk urusan agama, mengaji, biarlah saya yang mengajari,” imbuhnya.

Namun Sultan Trenggono terlanjur tidak sabar. Semua yang tidak sesuai dan tidak menerima Islam di uber-uber. Kemudian Sunan Kalijaga memanggil anak-anak kecil dan diajari nyanyian:

Gundul-gundul pacul, gembelengan. 
Nyunggi-nyunggi wangkul, petentengan.
Wangkul ngglimpang segane dadi sak latar 2x

Gundul itu kepala. Kepala itu ra’sun. Ra’sun itu pemimpin. Pemimpin itu ketempatan empat hal: mata, hidung, lidah dan telinga. Empat hal itu tidak boleh lepas. Kalau sampai empat ini lepas, bubar. 

Mata kok lepas, sudah tidak bisa melihat rakyat. Hidung lepas sudah tidak bisa mencium rakyat. Telinga lepas sudah tidak mendengar rakyat. Lidah lepas sudah tidak bisa menasehati rakyat. Kalau kepala sudah tidak memiliki keempat hal ini, jadinya gembelengan. 

Kalau kepala memangku amanah rakyat kok terus gembelengan, menjadikan wangkul ngglimpang, amanahnya kocar-kacir. Apapun jabatannya, jika nanti menyeleweng, tidak usah di demo, nyanyikan saja Gundul-gundul pacul. Inilah cara orang dulu, landai.

Akhirnya semua orang ingin tahu bagaimana cara orang Jawa dalam ber-Islam. Datuk Ribandang, orang Sulawesi, belajar ke Jawa, kepada Sunan Ampel. Pulang ke Sulawesi menyebarkan Islam di Gunung Bawakaraeng, menjadilah cikal bakal Islam di Sulawesi.

Berdirilah kerajaan-kerajaan Islam di penjuru Sulawesi. Khatib Dayan belajar Islam kepada Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga. Ketika kembali ke Kalimantan, mendirikan kerajaan-kerajaan Islam di Kalimantan. 

Ario Damar atau Ario Abdillah ke semenanjung Sumatera bagian selatan, menyebarkan dan mendirikan kerajaan-kerajaan di Sumatera.
Kemudian Londo (Belanda) datang. Mereka semua – seluruh kerajaan yang dulu dari Jawa – bersatu melawan Belanda. 

Ketika Belanda pergi, bersepakat dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Maka kawasan di Indonesia disebut wilayah, artinya tinggalan para wali. Jadi, jika anda meneruskan agamanya, jangan lupa kita ditinggali wilayah. Inilah Nahdlatul Ulama, baik agama maupun wilayah, adalah satu kesatuan: NKRI Harga Mati.

Maka di mana di dunia ini, yang menyebut daerahnya dengan nama wilayah? Di dunia tidak ada yang bisa mengambil istilah: kullukum raa’in wa kullukum mas uulun ‘an ra’iyatih ; bahwa Rasulullah mengajarkan hidup di dunia dalam kekuasaan ada sesuatu yaitu pertanggungjawaban.

Dan yang bertanggungjawab dan dipertanggung jawabkan disebut ra’iyyah. Hanya Indonesia yang menyebut penduduknya dengan sebutan ra’iyyah atau rakyat. Begini kok banyak yang bilang tidak Islam.

Nah, sistem perjuangan seperti ini diteruskan oleh para ulama Indonesia. Orang-orang yang meneruskan sistem para wali ini, dzaahiran wa baatinan, akhirnya mendirikan sebuah organisasi yang dikenal dengan nama Jam’iyyah Nahdlatul Ulama.

Kenapa kok bernama Nahdlatul Ulama. Dan kenapa yang menyelamatkan Indonesia kok Nahdlatul Ulama? Karena diberi nama Nahdlatul Ulama. Nama inilah yang menyelamatkan. Sebab dengan nama Nahdlatul Ulama, orang tahu kedudukannya: bahwa kita hari ini, kedudukannya hanya muridnya ulama. 

Meski, nama ini tidak gagah. KH Ahmad Dahlan menamai organisasinya Muhammadiyyah: pengikut Nabi Muhammad, gagah. Ada lagi organisasi, namanya Syarekat Islam, gagah. Yang baru ada Majelis Tafsir Alquran, gagah namanya. Lha ini “hanya” Nahdlatul Ulama. Padahal ulama kalau di desa juga ada yang hutang rokok.

Tapi Nahdlatul Ulama ini yang menyelamatkan, sebab kedudukan kita hari ini hanya muridnya ulama. Yang membawa Islam itu Kanjeng Nabi. Murid Nabi namanya Sahabat. Murid sahabat namanya tabi’in . Tabi’in bukan ashhabus-shahabat , tetapi tabi’in , maknanya pengikut.

Murid Tabi’in namanya tabi’it-tabi’in , pengikutnya pengikut. Muridnya tabi’it-tabi’in namanya tabi’it-tabi’it-tabi’in , pengikutnya pengikutnya pengikut. Lha kalau kita semua ini namanya apa? Kita muridnya KH Hasyim Asy’ari.

Lha KH Hasyim Asy’ari hanya muridnya Kiai Asyari. Kiai Asyari mengikuti gurunya, namanya Kiai Usman. Kiai Usman mengikuti gurunya namanya Kiai Khoiron, Purwodadi (Mbah Gareng). Kiai Khoiron murid Kiai Abdul Halim, Boyolali. 

Mbah Abdul Halim murid Kiai Abdul Wahid. Mbah Abdul Wahid itu murid Mbah Sufyan. Mbah Sufyan murid Mbah Jabbar, Tuban. Mbah Jabbar murid Mbah Abdur Rahman, murid Pangeran Sambuh, murid Pangeran Benowo, murid Mbah Tjokrojoyo, Sunan Geseng. 

Sunan Geseng hanya murid Sunan Kalijaga, murid Sunan Bonang, murid Sunan Ampel, murid Mbah Ibrahim Asmoroqondi, murid Syekh Jumadil Kubro, murid Sayyid Ahmad, murid Sayyid Ahmad Jalaludin, murid Sayyid Abdul Malik, murid Sayyid Alawi Ammil Faqih, murid Syekh Ahmad Shohib Mirbath. 

Kemudian murid Sayyid Ali Kholiq Qosam, murid Sayyid Alwi, murid Sayyid Muhammad, murid Sayyid Alwi, murid Sayyid Ahmad Al-Muhajir, murid Sayyid Isa An-Naquib, murid Sayyid Ubaidillah, murid Sayyid Muhammad, murid Sayyid Ali Uraidi, murid Sayyid Ja’far Shodiq, murid Sayyid Musa Kadzim, murid Sayyid Muhammad Baqir. Sayyid Muhammad Baqir hanya murid Sayyid Zaenal Abidin, murid Sayyidina Hasan – Husain, murid Sayiidina Ali karramallahu wajhah . Nah, ini yang baru muridnya Rasulullah saw.

Kalau begini nama kita apa? Namanya ya tabiit-tabiit-tabiit-tabiit-tabiit-tabiit…, yang panjang sekali. Maka cara mengajarkannya juga tidak sama. Inilah yang harus difahami.

Rasulullah itu muridnya bernama sahabat, tidak diajari menulis Alquran. Maka tidak ada mushaf
Alquran di jaman Rasulullah dan para sahabat. Tetapi ketika sahabat ditinggal wafat Rasulullah, mereka menulis Alquran. 

Untuk siapa? Untuk para tabi’in yang tidak bertemu Alquran. Maka ditulislah Alquran di jaman Sayyidina Umar dan Sayyidina Utsman. Tetapi begitu para sahabat wafat, tabi’in harus mengajari dibawahnya. 

Mushaf Alquran yang ditulis sahabat terlalu tinggi, hurufnya rumit tidak bisa dibaca. Maka pada tahun 65 hijriyyah diberi tanda “titik” oleh Imam Abu al-Aswad ad-Duali, agar supaya bisa dibaca.

Tabiin wafat, tabi’it tabi’in mengajarkan yang dibawahnya. Titik tidak cukup, kemudian diberi “harakat” oleh Syekh Kholil bin Ahmad al-Farahidi, guru dari Imam Sibawaih, pada tahun 150 hijriyyah.

Kemudian Islam semakin menyebar ke penjuru negeri, sehingga Alquran semakin dibaca oleh banyak orang dari berbagai suku dan ras. Orang Andalusia diajari “ Waddluha” keluarnya “ Waddluhe”. 

Orang Turki diajari “ Mustaqiim” keluarnya “ Mustaqiin”. Orang Padang, Sumatera Barat, diajari “ Lakanuud ” keluarnya “ Lekenuuik ”. Orang Sunda diajari “ Alladziina ” keluarnya “ Alat Zina ”. 

Di Jawa diajari “ Alhamdu” jadinya “ Alkamdu ”, karena punyanya ha na ca ra ka . Diajari “ Ya Hayyu Ya Qayyum ” keluarnya “ Yo Kayuku Yo Kayumu ”. Diajari “ Rabbil ‘Aalamin ” keluarnya “ Robbil Ngaalamin” karena punyanya ma ga ba tha nga. 

Orang Jawa tidak punya huruf “ Dlot ” punyanya “ La ”, maka “ Ramadlan ” jadi “ Ramelan ”. Orang Bali disuruh membunyikan “ Shiraathal…” bunyinya “ Sirotholladzina an’amtha ‘alaihim ghairil magedu bi’alaihim waladthoilliin ”. Di Sulawesi, “’ Alaihim” keluarnya “’ Alaihing ”.

Karena perbedaan logat lidah ini, maka pada tahun 250 hijriyyah, seorang ulama berinisiatif menyusun Ilmu Tajwid fi Qiraatil Quran , namanya Abu Ubaid bin Qasim bin Salam. Ini yang kadang orang tidak paham pangkat dan tingkatan kita. Makanya tidak usah pada ribut.

Murid ulama itu beda dengan murid Rasulullah. Murid Rasulullah, ketika dzikir dan diam, hatinya “online” langsung kepada Allah SWT. Kalau kita semua dzikir dan diam, malah jadinya tidur.
Maka disini, di Nusantara ini, jangan heran.

Ibadah Haji, kalau orang Arab langsung lari ke Ka’bah. Muridnya ulama dibangunkan Ka’bah palsu di alun-alun, dari triplek atau kardus, namanya manasik haji. Nanti ketika hendak berangkat haji diantar orang se-kampung. 

Yang mau haji diantar ke asrama haji, yang mengantar pulangnya belok ke kebun binatang. Ini cara pembelajaran. Ini sudah murid ulama. Inilah yang orang belajar sekarang: kenapa Islam di Indonesia, Nahdlatul Ulama selamat, sebab mengajari manusia sesuai dengan hukum pelajarannya ulama.

Anda sekalian disuruh dzikir di rumah, takkan mau dzikir, karena muridnya ulama. Lha wong dikumpulkan saja lama kelamaan tidur. Ini makanya murid ulama dikumpulkan, di ajak berdzikir. 

Begitu tidur, matanya tidak dzikir, mulutnya tidak dzikir, tetapi, pantat yang duduk di majelis dzikir, tetap dzikir. Nantinya, di akhirat ketika “wa tasyhadu arjuluhum ,” ada saksinya. Orang disini, ketika disuruh membaca Alquran, tidak semua dapat membaca Alquran. Maka diadakan semaan Alquran. 

Mulut tidak bisa membaca, mata tidak bisa membaca, tetapi telinga bisa mendengarkan lantunan Alquran. Begitu dihisab mulutnya kosong, matanya kosong, di telinga ada Alqurannya.

Maka, jika bukan orang Indonesia, takkan mengerti Islam Indonesia. Mereka tidak paham, oleh karena, seakan-akan, para ulama dulu tidak serius dalam menanam. Sahadatain jadi sekaten. Kalimah sahadat jadi kalimosodo. Ya Hayyu Ya Qayyum jadi Yo Kayuku Yo Kayumu.

Ini terkesan ulama dahulu tidak ‘alim. Ibarat pedagang, seperti pengecer. Tetapi, lima ratus tahun kemudian tumbuh subur menjadi Islam Indonesia. Jamaah haji terbanyak dari Indonesia. Orang shalat terbanyak dari Indonesia. Orang membaca Alquran terbanyak dari Indonesia. 

Dan Islam yang datang belakangan ini gayanya seperti grosir: islam kaaffah, begitu diikuti, mencuri sapi. Dilihat dari sini, saya meminta, Tentara Nasional Indonesia, Polisi Republik Indonesia, jangan sekali-kali mencurigai Nahdlatul Ulama menanamkan benih teroris.

Teroris tidak mungkin tumbuh dari Nahdlatul Ulama, karena Nahdlatul Ulama lahir dari Bangsa Indonesia. Tidak ada ceritanya Banser kok ngebom disini, sungkan dengan makam gurunya. Mau ngebom di Tuban, tidak enak dengan Mbah Sunan Bonang. 

Saya yang menjamin. Ini pernah saya katakan kepada Panglima TNI. Maka, anda lihat teroris di seluruh Indonesia, tidak ada satupun anak warga jamiyyah Nahdlatul Ulama. Maka, Nahdlatul Ulama hari ini menjadi organisasi terbesar di dunia. 

Dari Muktamar Makassar jamaahnya sekitar 80 juta, sekarang di kisaran 120 juta. Yang lain dari 20 juta turun menjadi 15 juta. Kita santai saja. Lama-lama mereka tidak kuat, seluruh tubuh kok ditutup kecuali matanya. Ya kalau pas jualan tahu, lha kalau pas nderep di sawah bagaimana. Jadi kita santai saja. Kita tidak pernah melupakan sanad, urut-urutan, karena itu cara Nahdlatul Ulama agar tidak keliru dalam mengikuti ajaran Rasulullah Muhammad saw.
sumber : Agus Sunyoto LesbumiMungkin ini jawaban  foto  

Islam Kejawaan (Taddaburan/maiyahan) di Indonesia.

Alhamdulillah, akhir-akhir ini orang merasakan manfaatnya Nahdlatul Ulama (NU). Dulu, orang yang paling bahagia, paling sering merasakan berkahnya NU adalah keluarga orang yang sudah meninggal : setiap hari dikirimi doa dan tumpeng.

Hari ini begitu dunia dilanda kekacauan, ketika Dunia Islam galau: di Afganistan perang sesama Islam, di Suriah perang sesama Islam, di Irak, perang sesama Islam. Semua ingin tahu, ketika semua sudah jebol, kok ada yang masih utuh: Islam di Indonesia.

Akhirnya semua ingin kesini, seperti apa Islam di Indonesia kok masih utuh. Akhirnya semua sepakat: utuhnya Islam di Indonesia itu karena memiliki jamiyyah NU. Akhirnya semua pingin tahu NU itu seperti apa.

Ternyata, jaman dulu ada orang Belanda yang sudah menceritakan santri NU,  namanya Christia Snouck Hurgronje. Dia ini hafal Alquran, Sahih Bukhori, Sahih Muslim, Alfiyyah Ibnu Malik, Fathul Mu’in , tapi tidak islam, sebab tugasnya menghancurkan Islam Indonesia.

Mengapa? Karena Islam Indonesia selalu melawan Belanda. Sultan Hasanuddin, santri. Pangeran Diponegoro atau Mbah Abdul Hamid, santri. Sultan Agung, santri. Mbah Zaenal Mustofa, santri. Semua santri kok melawan Belanda.

Akhirnya ada orang belajar secara khusus tentang Islam, untuk mencari rahasia bagaimana caranya Islam Indonesia ini remuk. Snouck Hurgronje masuk ke Indonesia dengan menyamar namanya Syekh Abdul Ghaffar. Dia belajar Islam, menghafalkan Alquran dan Hadis di Arab. Maka akhirnya paham betul Islam.

Hanya saja begitu ke Indonesia, Snouck Hurgronje bingung: mencari Islam dengan wajah Islam, tidak ketemu. Ternyata Islam yang dibayangkan dan dipelajari Snouck Hurgronje itu tidak ada.

Mencari Allah disini tidak ketemu, ketemunya Pangeran. Ketemunya Gusti. Padahal ada pangeran namanya Pangeran Diponegoro. Ada Gusti namanya Gusti Kanjeng. Mencari istilah shalat tidak ketemu, ketemunya sembahyang. Mencari syaikhun, ustadzun , tidak ketemu, ketemunya kiai. Padahal ada nama kerbau namanya kiai slamet. Mencari mushalla tidak ketemu, ketemunya langgar.

Maka, ketika Snouck Hurgronje bingung, dia dibantu Van Der Plas. Ia menyamar dengan nama Syekh Abdurrahman. Mereka memulai dengan belajar bahasa Jawa. Karena ketika masuk Indonesia, mereka sudah bisa bahasa Indonesia, bahasa Melayu, tapi tidak bisa bahasa Jawa. 

Begitu belajar bahasa Jawa, mereka bingung, strees. Orang disini makanannya nasi (sego).  Snouck Hurgronje dan Van Der Plas tahu bahasa beras itu, bahasa inggrisnya rice, bahasa arabnya ar-ruz . 

Yang disebut ruz, ketika di sawah, namanya pari, padi. Disana masih ruz, rice. Begitu padi dipanen, namanya ulen-ulen, ulenan. Disana masih ruz, rice. Jadi ilmunya sudah mulai kucluk , korslet. 

Begitu ditutu, ditumbuk, digiling, mereka masih mahami ruz, rice , padahal disini sudah dinamai gabah. Begitu dibuka, disini namanya beras, disana masih ruz, rice . Begitu bukanya cuil, disini namanya menir, disana masih ruz, rice. Begitu dimasak, disini sudah dinamai sego , nasi, disana masih ruz, rice. 

Begitu diambil cicak satu, disini namanya
upa, disana namanya masih ruz, rice. Begitu dibungkus daun pisang, disini namanya lontong, sana masih ruz, rice. Begitu dibungkus janur kuning namanya ketupat, sana masih ruz, rice. Ketika diaduk dan hancur, lembut, disini namanya bubur, sana namanya masih ruz, rice.

Inilah bangsa aneh, yang membuat Snouck Hurgronje judeg, pusing. 

Mempelajari Islam Indonesia tidak paham, akhirnya mencirikan Islam Indonesia dengan tiga hal. Pertama, kethune miring sarunge nglinting (berkopiah miring dan bersarung ngelinting). Kedua, mambu rokok (bau rokok). Ketiga, tangane gudigen (tangannya berpenyakit kulit). 

Cuma tiga hal itu catatan (pencirian Islam Indonesia) Snouck Hurgronje di Perpustakaan Leiden, Belanda. Tidak pernah ada cerita apa-apa, yang lain sudah biasa. Maka, jangankan  Snouck Hurgronje, orang Indonesia saja kadang tidak paham dengan Islam Indonesia, karena kelamaan di tanah Arab. 

Lihat tetangga pujian, karena tidak paham, bilang bid’ah . Melihat tetangga menyembelih ayam untuk tumpengan, dibilang bid’ah. Padahal itu produk Islam Indonesia. Kelamaan diluar Indonesia, jadi tidak paham. Masuk kesini sudah kemlinthi, sok-sokan, memanggil Nabi dengan sebutan “Muhammad” saja. Padahal, disini, tukang bakso saja dipanggil “Mas”. Padahal orang Jawa nyebutnya Kanjeng Nabi.

Lha , akhir-akhir ini semakin banyak yang tidak paham Islam Indonesia. Kenapa? Karena Islam Indonesia keluar dari rumus-rumus Islam dunia, Islam pada umumnya. Kenapa? Karena Islam Indonesia ini saripati (essensi) Islam yang paling baik yang ada di dunia. 

Kenapa? Karena Islam tumbuhnya tidak disini, tetapi di Arab. Rasulullah orang Arab. Bahasanya bahasa Arab. Yang dimakan juga makanan Arab. Budayanya budaya Arab. Kemudian Islam datang kesini, ke Indonesia.

Kalau Islam masuk ke Afrika itu mudah, tidak sulit, karena waktu itu peradaban mereka masih belum maju, belum terdidik. Orang belum terdidik itu mudah dijajah. Seperti pilkada, misalnya, diberi Rp 20.000 atau mie instan sebungkus, beres. Kalau mengajak orang berpendidikan, sulit, dikasih uang Rp 10 juta belum tentu mau.

Islam datang ke Eropa juga dalam keadaan terpuruk. Tetapi Islam datang kesini, mikir-mikir dulu, karena bangsa di Nusantara ini sedang kuat-kuatnya. Bangsa anda sekalian ini bukan bangsa kecoak. Ini karena ketika itu sedang ada dalam kekuasaan negara terkuat yang menguasai 2/3 dunia, namanya Majapahit.

Majapahit ini bukan negara sembarangan. Universitas terbesar di dunia ada di Majapahit, namanya Nalanda. Hukum politik terbaik dunia yang menjadi rujukan adanya di Indonesia, waktu itu ada di Jawa, kitabnya bernama Negarakertagama. Hukum sosial terbaik ada di Jawa, namanya Sutasoma. Bangsa ini tidak bisa ditipu, karena orangnya pintar-pintar dan kaya-raya.

Cerita surga di Jawa itu tidak laku. Surga itu (dalam penggambaran Alquran): tajri min tahtihal anhaar (airnya mengalir), seperti kali. Kata orang disini: “mencari air kok sampai surga segala? Disini itu, sawah semua airnya mengalir.” Artinya, pasti bukan itu yang diceritakan para ulama penyebar Islam. Cerita surga tentang buahnya banyak juga tidak, karena disini juga banyak buah. Artinya dakwah disini tidak mudah. 

Diceritain pangeran, orang Jawa sudah punya Sanghyang Widhi. Diceritain Ka’bah orang jawa juga sudah punya stupa: sama-sama batunya dan tengahnya sama berlubangnya. Dijelaskan menggunakan tugu Jabal Rahmah, orang Jawa punya Lingga Yoni. 

Dijelaskan memakai hari raya kurban, orang Jawa punya peringatan hari raya kedri. Sudah lengkap. Islam datang membawa harta-benda, orang Jawa juga tidak doyan. Kenapa? Orang Jawa pada waktu itu beragama hindu. Hindu itu berprinsip yang boleh bicara agama adalah orang Brahmana, kasta yang sudah tidak membicarakan dunia. 

Dibawah Brahmana ada kasta Ksatria, seperti kalau sekarang Gubernur atau Bupati. Ini juga tidak boleh bicara agama, karena masih ngurusin dunia. Dibawah itu ada kasta namanya Wesya (Waisya), kastanya pegawai negeri. Kasta ini tidak boleh bicara agama. 

Di bawah itu ada petani, pedagang dan saudagar, ini kastanya Sudra . Kasta ini juga tidak boleh bicara agama. Jadi kalau ada cerita Islam dibawa oleh para saudagar, tidak bisa dterima akal. Secara teori ilmu pengetahuan ditolak, karena saudagar itu Sudra dan Sudra tidak boleh bicara soal agama. 

Yang cerita Islam dibawa saudagar ini karena saking judeg-nya, bingungnya memahami Islam di Indonesia. Dibawahnya ada kasta paria, yang hidup dengan meminta-minta, mengemis. Dibawah Paria ada pencopet, namanya kasta Tucca. Dibawah Tucca ada maling, pencuri, namanya kasta Mlecca. Dibawahnya lagi ada begal, perampok, namanya kasta Candala.

Anak-anak muda NU harus tahu. Itu semua nantinya terkait dengan Nahdlatul Ulama. Akhirnya para ulama kepingin, ada tempat begitu bagusnya, mencoba diislamkan. Ulama-ulama dikirim ke sini. 

Namun mereka menghadapi masalah, karena orang-orang disini mau memakan manusia. Namanya aliran Bhirawa. Munculnya dari Syiwa. Mengapa ganti Syiwa, karena Hindu Brahma bermasalah. Hindu Brahma, orang Jawa bisa melakukan tetapi matinya sulit. Sebab orang Brahma matinya harus moksa atau murco.

Untuk moksa harus melakukan upawasa. Upawasa itu tidak makan, tidak minum, tidak ngumpulin istri, kemudian badannya menyusut menjadi kecil dan menghilang. Kadang ada yang sudah menyusut menjadi kecil, tidak bisa hilang, gagal moksa, karena teringat kambingnya, hartanya. Lha ini terus menjadi jenglot atau batara karang. 

Jika anda menemukan jenglot ini, jangan dijual mahal karena itu produk gagal moksa. Pada akhirnya, ada yang mencari ilmu yang lebih mudah, namanya ilmu ngrogoh sukmo . Supaya bisa mendapat ilmu ini, mencari ajar dari Kali. Kali itu dari Durga. Durga itu dari Syiwa, mengajarkan Pancamakara. 

Supaya bisa ngrogoh sukmo, semua sahwat badan dikenyangi, laki-laki perempuan melingkar telanjang, menghadap arak dan ingkung daging manusia. Supaya syahwat bawah perut tenang, dikenyangi dengan seks bebas. Sisa-sisanya sekarang ada di Gunung Kemukus. 

Supaya perut tenang, makan tumpeng. Supaya pikiran tenang, tidak banyak pikiran, minum arak. Agar ketika sukma keluar dari badan, badan tidak bergerak, makan daging manusia. Maka jangan heran kalau muncul orang-orang macam Sumanto. 

Ketika sudah pada bisa ngrogoh sukmo, ketika sukmanya pergi di ajak mencuri namanya
ngepet . Sukmanya pergi diajak membunuh manusia namanya santet. Ketika sukmanya diajak pergi diajak mencintai wanita namanya pelet. Maka kemudian di Jawa tumbuh ilmu santet, pelet dan ngepet. 

Ada 1.500 ulama yang dipimpin Sayyid Aliyudin habis di-ingkung oleh orang Jawa pengamal Ngrogoh Sukma. Untuk menghindari pembunuhan lagi, maka Khalifah Turki Utsmani mengirim kembali tentara ulama dari Iran, yang tidak bisa dimakan orang Jawa. 

Nama ulama itu Sayyid Syamsuddin Albaqir Alfarsi. Karena lidah orang Jawa sulit menyebutnya, kemudian di Jawa terkenal dengan sebutan Syekh Subakir. Di Jawa ini di duduki bala tentara Syekh Subakir, kemudian mereka diusir. 

Ada yang lari ke Pantai Selatan, Karang Bolong, Srandil Cicalap, Pelabuhan Ratu, dan Banten. Di namai Banten, di ambil dari bahasa Sansekerta, artinya Tumbal. Yang lari ke timur, naik Gunung Lawu, Gunung Kawi, Alas Purwo Banyuwangi (Blambangan). Disana mereka dipimpin Menak Sembuyu dan Bajul Sengoro. 

Karena Syekh Subakir sepuh, maka pasukannya dilanjutkan kedua muridnya namanya Mbah Ishak (Maulana Ishak) dan Mbah Brahim (Ibrahim Asmoroqondi). Mereka melanjutkan pengejaran. Menak Sembuyu menyerah, anak perempuannya bernama Dewi Sekardadu dinikahi Mbah Ishak, melahirkan Raden Ainul Yaqin Sunan Giri yang dimakamkan di Gresik.

Sebagian lari ke Bali, sebagian lari ke Kediri, menyembah Patung Totok Kerot, diuber Sunan Bonang, akhirnya menyerah. Setelah menyerah, melingkarnya tetap dibiarkan tetapi jangan telanjang, arak diganti air biasa, ingkung manusia diganti ayam, matra ngrogoh sukmo diganti kalimat tauhid; laailaahaillallah. Maka kita punya adat tumpengan. 

Kalau ada orang banyak komentar mem-bid’ah -kan, ceritakanlah ini. Kalau ngeyel, didatangi: tabok mulutnya. Ini perlu diruntutkan, karena NU termasuk yang masih mengurusi beginian.

Habis itu dikirim ulama yang khusus mengajar ngaji, namanya Sayyid Jamaluddin al-Husaini al-Kabir. Mendarat di Semarang dan menetap di daerah Merapi. Orang Jawa sulit mengucapkan, maka menyebutnya Syekh Jumadil Kubro.

Disana dia punya murid namanya Syamsuddin, pindah ke Jawa Barat, membuat pesantren puro di daerah Karawang. Punya murid bernama Datuk Kahfi, pindah ke Amparan Jati, Cirebon. Punya murid Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati. Inilah yang bertugas mengislamkan Padjajaran. Maka kemudian ada Rara Santang, Kian Santang dan Walangsungsang.

Nah , Syekh Jumadil Kubro punya putra punya anak bernama Maulana Ishak dan Ibrahim Asmoroqondi, bapaknya Walisongo. Mbah Ishak melahirkan Sunan Giri. Mbah Ibrahim punya anak Sunan Ampel. Inilah yang bertugas mengislamkan Majapahit.

Mengislamkan Majapahit itu tidak mudah. Majapahit orangnya pinter-pinter. Majapahit Hindu, sedangkan Sunan Ampel Islam. Ibarat sawah ditanami padi, kok malah ditanami pisang. Kalau anda begitu, pohon pisang anda bisa ditebang. 

Sunan Ampel berpikir bagaimana caranya? Akhirnya beliau mendapat petunjuk ayat Alquran. Dalam surat Al-Fath, 48:29 disebutkan : ".... masaluhum fit tawrat wa masaluhum fil injil ka zar’in ahraja sat’ahu fa azarahu fastagladza fastawa ‘ala sukıhi yu’jibuz zurraa, li yagidza bihimul kuffar………”

Artinya: “…………Demi

Minggu, 11 Oktober 2020

Wirit Para Wali

3 WIRID PARA WALI

Habib Umar Bin Hafidz Bin Syeikh Abubakar Bin Salim Ba'alwi Al-Husani meriwayatkan bahwa Habib Ali Ibn Hassan Al Attas berkata :

Ada 3 macam wirid yang tidak pernah berpisah dengan para auliya'/sholihin, karena manfaatnya yang sangat besar dalam hidup, baik di dunia maupun akhirat yaitu,:

✅1. Membaca 100x sebelum sholat subuh:
سبحان الله وبحمده  سبحان الله العظيم أستغفرالله
Ini dikenal dengan sebutan: 
ISTIGHFAR PARA MALAIKAT.

✅2. Membaca 100x sesudah sholat dhuhur:
لاإله إلا الله الملك الحق المبين
(Lâ ilâha illallôh. Al Malikul haqqul mubin)

Rosululloh SAW bersabda:
'Siapa yang membaca kalimat ini, akan selamat (dijauhkan) dari kemiskinan dan akan menenangkan serta menyenangkan di alam kubur dari rasa kesepian."

✅3. Dan membaca sebelum tidur :
  سبحان الله 33x
  الحمدلله     33x
  الله اكبر      34x
Dan menutup dengan:
لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Inilah kalimat yang diajarkan Rosuul ﷺ kepada putri tercinta, Sayyidah Fatimah RA dan juga kepada Sayyidina Ali.

Para ulama mengatakan ada rahasia yang sangat besar dalam tasbih ini.

Semoga bermanfaat & dapat mengamalkannya.

DAWAMKAN AMALIYAH KAUM SHOLIHIN UNTUK KELUARGA KITA

Rabu, 30 September 2020

Cukup Allah Ridlo

RENUNGAN HATI :                                            Di sampaikan oleh Alhabib Umar bin Hafidz :

لايلزم أن تكون وسيما لتكون جميل
Tidak perlu kau berwajah elok untuk dikatakan sebagai orang yang cakep

ولا مداحا لتكون محبوبا
Dan tidak perlu suka memuji-muji orang lain, agar menjadi seorang yang disukai

ولا غنيا لتكون سعيدا
Tidak perlu kau menjadi kaya untuk menjadi seorang yang bahagia

يكفي أن ترضي ربك وهو سيجعلك عند الناس جميلا و محبوبا و سعيدا

Cukuplah dengan membuat Tuhan mu ridha kepadamu, Dia akan menjadikanmu elok di mata manusia, disuka orang lain serta hidup bahagia

لو أصبت تسعة وتسعون وأخطأت مرة واحدة
Andai kau lakukan sembilanpuluh sembilan kebaikan, tetapi berbuat kesalahan satu kali

لعاتبوك بالواحدة وتركوا ذلك تسعة وتسعون
Manusia akan menyalahkanmu dengan kekhilafan yang satu itu, dan melupakan semua 99 kebaikan yang lain

هؤلاء هم البشر
Itulah manusia

و لو أخطأت تسعة وتسعون مرة وأصبت مرة
Tetapi andaikan kau lakukan 99 kekhilafan dan cuma satu kali melakukan kebaikan

لـغفر الله ذلك تسعة وتسعون وقبل الواحدة
Allâh akan mengampuni 99x kekhilafanmu dan menerima amal baktimu yang satu itu

ذاك هو ربنا
Itulah Dia, Tuhan Kita.

ﺍﻟﻠﻬﻢ إنا نعوﺫ ﺑﻚ ﺍﻥ نكوﻥ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻣﻠﻴﺤﺎ ﻭ ﻋﻨﺪﻙ ﻗﺒﻴﺤﺎ
Ya Allâh kami berlindung kepadamu, supaya kami tidak menjadi orang mulia di mata manusia, tapi hina dalam pandanganMu.

Allahuma sholii 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa salim....❤

Ijazah dari Habib atthos Al Habsyi


Guru dari Al mukarram Habib Jamal bin Thoha Ba'agil Silahkan ucapkan
QOBILTU IJAZAH 

Ijazah sholawat yang pendek dan tidak terlalu panjang barangsiapa yang mengamalkan maka akan di berikan  kecukupan rezeki dan sukses dunia 
BACALAH  SHOLAWAT BERIKUT INI PAGI DAN MALAM SEBANYAK 10 KALI
اللَّهُم صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَدٍ كَرِيمِ الآبَاءِ والأُمَّهَاتِ
ALLAHUMMA SHOLLI WA SALLIM  ‘ALA SAYYIDINA MUHAMMADIN KARIMIL ABA’I WAL UMMAHAT
Diriwayatkan bahwa barang siapa yg membaca sholawat tsb “maka ia akan dicintai oleh Rasulullah SAW dan di berikan kecukupan dalam rezeki nya"

Semoga bermanfaat ..Aamiin

------
「Facebook」
※ https://www.facebook.com/beautyrossamalangnew/?ti=as
https://www.facebook.com/qubahmadinahmalang/
「Instagram」
※ https://instagram.com/syahabumar?igshid=k17zv2144yh5
※ https://instagram.com/qubah_madinah?igshid=5sny0beyshl

Jumat, 25 September 2020

Cukup Allah Ridlo

RENUNGAN HATI :                                            Di sampaikan oleh Alhabib Umar bin Hafidz :

لايلزم أن تكون وسيما لتكون جميل
Tidak perlu kau berwajah elok untuk dikatakan sebagai orang yang cakep

ولا مداحا لتكون محبوبا
Dan tidak perlu suka memuji-muji orang lain, agar menjadi seorang yang disukai

ولا غنيا لتكون سعيدا
Tidak perlu kau menjadi kaya untuk menjadi seorang yang bahagia

يكفي أن ترضي ربك وهو سيجعلك عند الناس جميلا و محبوبا و سعيدا

Cukuplah dengan membuat Tuhan mu ridha kepadamu, Dia akan menjadikanmu elok di mata manusia, disuka orang lain serta hidup bahagia

لو أصبت تسعة وتسعون وأخطأت مرة واحدة
Andai kau lakukan sembilanpuluh sembilan kebaikan, tetapi berbuat kesalahan satu kali

لعاتبوك بالواحدة وتركوا ذلك تسعة وتسعون
Manusia akan menyalahkanmu dengan kekhilafan yang satu itu, dan melupakan semua 99 kebaikan yang lain

هؤلاء هم البشر
Itulah manusia

و لو أخطأت تسعة وتسعون مرة وأصبت مرة
Tetapi andaikan kau lakukan 99 kekhilafan dan cuma satu kali melakukan kebaikan

لـغفر الله ذلك تسعة وتسعون وقبل الواحدة
Allâh akan mengampuni 99x kekhilafanmu dan menerima amal baktimu yang satu itu

ذاك هو ربنا
Itulah Dia, Tuhan Kita.

ﺍﻟﻠﻬﻢ إنا نعوﺫ ﺑﻚ ﺍﻥ نكوﻥ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻣﻠﻴﺤﺎ ﻭ ﻋﻨﺪﻙ ﻗﺒﻴﺤﺎ
Ya Allâh kami berlindung kepadamu, supaya kami tidak menjadi orang mulia di mata manusia, tapi hina dalam pandanganMu.

Allahuma sholii 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa salim....❤

Amalan Hari Jumat

*7 AMALAN PADA HARI JUM’AT&
Fadilah Agung Yang Khusus di Amalkan di Hari Jum’at

🌹Barangsiapa yang membaca Ya Muhaimin 100x setelah mandi jum’ah, maka Allah SWT akan memberikan kewibawaan dan kemulyaan.
 
🌹Barangsiapa yang membaca surat Al-Qodar 7x antara 2 adzan di hari jum’ah, maka Allah SWT akan melunasi semua hutangnya.
 
🌹Barangsiapa yang berucap Ya Baathin 33x setelah sholat jum’ah, Allah swt akan menjadikan-nya dari ahli bathin.
 
🌹Barangsiapa setelah sholat jum’at membaca Al-Fatihah, Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Naas masing 7x tanpa merubah posisi duduknya (tasyahhud akhir) dan tanpa berbicara sebelumnya, maka Allah SWT akan menjaganya dari semua kejelekan sampai jum’at berikutnya.
 
🌹Barangsiapa setelah sholat jum’ah membaca ALLOOHUMMA AKFINIY BIHALAALIKA ‘AN HAROOMIKA WAGHNINIY BIFADLIKA ‘AMMAN SIWAAK, maka segala kebutuhannya akan terpenuhi hingga hari berikutnya.
 
🌹Barangsiapa yang berdoa YAA GHONIYYU YAA MUGHNIIY 40X, setiap 10 dari bacaan tersebut ditambahi AGHNINIY, ketika do’a mukminin mukminaat pada khutbah kedua, maka Allah SWT akan meluaskan rizkinya.
 
🌹Barangsiapa yang bersholawat kepada Nabi SAW setelah ashar hari jum’at 80x, maka Allah SWT akan mengampuni dosanya 80 tahun, jika memang si pembaca tidak memiliki dosa sebanyak itu,maka keutamaan tersebut akan diberikan kepada kedua orangtuanya dan Allah SWT akan mengangkat derajat mereka.
 
Ada riwayat bahwasan-nya yang membaca sholawat dengan sighoh ini ALLOOHUMMA SHOLLI ‘ALAA SAYYIDINAA MUHAMMADIN NABIYYIL UMMIY WA ‘ALAA AALIHI WASOHBIHI WA SALLIM TASLIIMAA setelah asar hari jum’at, maka akan ditulis untuknya pahala ibadah 80 tahun.

 “Barangsiapa yang memperbanyak sholawat atas Nabi SAW, maka Allah SWT akan menyelesaikan semua urusannya, mengampuni segala dosanya, melunasi hutangnya, dan sholawat tersebut akan menjadikan sebab dia memperoleh syafaat Nabi SAW, dia kan berada paling dekat kedudukan-nya di sisi Nabi SAW pada saat hari kiamat”

Semoga Bermanfaat 🙏

Sumber: dari majlis Habib Zein bin Sumaith dan Habib Salim As-Syaatiri.Al Fatihah

❤❤

Senin, 21 September 2020

Amalan Yg Sama Dengan Haji

Amalan Amalan Setara Haji.

Tahun ini sangat berbeda dengan sebelum-sebelumnya. Sejak kemunculan Covid-19 semua lini kehidupan dipaksa berubah menyesuaikan keadaan dan mengikuti protokol kesehatan; gaya hidup bersih, jaga jarak dan menghindari kerumunan/ kontak fisik. 

Tentu kondisi seperti ini banyak merubah tata cara beribadah kita yang banyak dilakukan secara berjamaah.

Salah satu yang banyak terdampak pandemi yaitu ibadah haji. Baru- baru ini pemerintah Saudi Arabia mengeluarkan maklumat tentang nasib haji di tahun pandemi ini. Kementerian haji Saudi tetap membuka peluang untuk berhaji namun dengan kuota yang sangat terbatas, itupun hanya untuk warga Saudi dan diaspora berbagai negara yang mukim di Saudi. Tentu banyak jamaah yang terpaksa menelan pahitnya berita ini. 

Sudah bukan hal yang aneh, terutama di Indonesia, orang menabung puluhan tahun, menjual tanah, perhiasan dan simpanan berharga lainnya untuk bisa menunaikan ibadah haji dan menginjakkan kaki di tanah suci. Belum lagi daftar tunggu di Indonesia yang rata-rata sudah mencapai 20 tahunan, begitu kesempatan sudah di depan mata, semua angan harus ambyar tersapu Covid-19.

Tak banyak yang bisa kita lakukan dalam kondisi seperti ini, kecuali berpasrah kepada-Nya dan mengingat Kembali bahwa haji adalah panggilan ilahi. Sesempurna apapun kita menyiapkan segalanya, jika memang Allah Swt belum memanggil, jalannya akan masih berliku. 

Pada posisi demikian, kita tidak boleh berkecil hati, apalagi menyalahkan sana-sini sekedar untuk meluapkan kekesalan atas angan yang tidak terpenuhi.

Allah Swt hanya mewajibkan haji bagi orang-orang yang mampu secara fisik, finansial dan terjamin keamanan transportasi dan akomodasi. Di luar itu Islam menyediakan alternatif dan solusi lain yang secara kualitas setara dengan ibadah haji. 

Ibn Rajab al Hambali berpesan: jika pada suatu waktu keadaan memaksa kalian untuk tidak menunaikan ibadah haji, maka kembalilah pada Jihad al Nafs (mengontrol hawa nafsu). Sebab itu adalah jihad yang paling agung.

Jauh-jauh hari Kanjeng Nabi Muhammad Saw sudah mengajarkan kita mengenai amalan yang kualitas dan pahalanya setara dengan haji, bahkan ada yang lebih, diantaranya:

1. Pergi ke masjid untuk majelis ilmu. 

مَنْ غَدَا إِلَى الْمَسْجِدِ لا يُرِيدُ إِلا أَنْ يَتَعَلَّمَ خَيْرًا أَوْ يَعْلَمَهُ، كَانَ لَهُ كَأَجْرِ حَاجٍّ تَامًّا حِجَّتُهُ (رواه الطبراني)

Siapa yang pergi ke masjid untuk belajar kebaikan atau mengajarkan kebaikan, maka ia berhak mendapat pahala orang berhaji yang sempurna ibadah hajinya (HR. Thabrani)

2. Pergi ke masjid untuk salat fardu sudah dalam keadaan berwudu

مَنْ خَرَجَ مِنْ بَيْتِهِ مُتَطَهِّرًا إِلَى صَلاَةٍ مَكْتُوبَةٍ فَأَجْرُهُ كَأَجْرِ الْحَاجِّ الْمُحْرِمِ وَمَنْ خَرَجَ إِلَى تَسْبِيحِ الضُّحَى لاَ يُنْصِبُهُ إِلاَّ إِيَّاهُ فَأَجْرُهُ كَأَجْرِ الْمُعْتَمِرِ (رواه ابو داود)

Siapa yang keluar rumah dalam keadaan berwudu untuk menunaikan salat fardu, maka pahalanya setara dengan pahala orang berhaji yang mengenakan ihram. Dan sesiapa yang keluar untuk menunaikan salat duha, dan hanya bertujuan untuk itu, maka pahalanya setara dengan pahala orang menunaikan umroh. (HR. Abu Dawud)

3. Salat subuh berjamaah di Masjid dan beriktikaf sampai waktu duha

مَنْ صَلَّى الْغَدَاةَ فِي جَمَاعَةٍ ثُمَّ قَعَدَ يَذْكُرُ اللَّهَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ كَانَتْ لَهُ كَأَجْرِ حَجَّةٍ وَعُمْرَةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ (رواه الترمذي)

Siapa yang salat subuh berjamaah, lalu duduk sambil berzikir hingga matahari terbit, kemudian salat dua rakaat, maka ia berhak mendapat pahala setara dengan pahala haji dan umroh, dengan pahala yang sempurna, sempurna, sempurna (HR Al Turmudzi)

4. Salat Jumat.
الجمعة حج المساكين (رواه الديلمي)

Salat Jumat merupakan ibadah haji bagi orang-orang miskin (HR. Al Dailami)

5. Berbakti kepada orang tua

عن أنس قال: أتى رجل النبي فقال: إني أشتهي الجهاد ولا أقدر عليه قال: هل بقي من والديك أحد؟ قال: أمي، قال: فأبل الله من برّهما، فإذا فعلت ذلك فأنت حاج ومعتمر ومجاهد (رواه الطبراني)

Diriwayatkan dari Anas bin Malik: ada seseorang mendatangi Nabi Muhammad Saw dan berkata: Sungguh aku sangat ingin pergi berjihad, namun apa adanya saya tidak mampu.

Apakah salah seorang dari kedua orang tuamu masih ada? Tanya Rasulullah Saw

Ibuku. Jawabnya

Rasulullah Saw: bertakwalah kepada Allah Swt dengan berbakti kepada orang tuamu, jika kamu melakukan itu, niscaya engkau seperti orang berhaji, umrah dan berjihad (HR. Thabrani)

6. Membaca Takbir, Tasbih dan Tahmid setelah salat Fardu

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: جاء الفقراء إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم فقالوا: ذهب اهل الدثور من الأموال بالدرجات العلى والنعيم المقيم يصلون كما نصلي ويصومون كما نصوم ولهم فضل أموال يحجون بها ويعتمرون ويجاهدون ويتصدقون؟ فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “ألا أحدثكم بأمر لو أخذتم به لحقتم من سبقكم، ولم يدرككم أحد بعدكم، وكنتم خير من أنتم بين ظهرانيه إلا من عمل مثله: تسبحون وتحمدون وتكبرون خلف كل صلاة ثلاثا وثلاثين (رواه البخاري)

Beberapa orang fakir datang menemui Rasulullah Saw: orang-orang kaya itu pergi membawa derajat yang tinggi dan nikmat yang kekal. Mereka bisa salat seperti kita, juga bisa puasa seperti kita. Namun mereka memiliki kelebihan harta bisa menunaikan ibadah haji, Umroh, berjihad dan bersedekah.

Lalu Rasulullah Saw bersabda: maukah kalian aku ajarkan amalan yang bila mengamalkannya, kalian akan mampu menandingi orang yang telah mendahului kalian, kalian tidak akan terkejar oleh orang-orang setelah kalian, bahkan tidak ada yang lebih unggul dibanding kalian, kecuali mereka mengamalkan apa yang kalian amalkan. Kalian bertasbih, bertahmid dan bertakbir setiap selesai salat sebanyak tiga puluh tiga kali. (HR. Bukhari)

7. Membantu memenuhi hajat orang lain

قال الحسن البصري: مشيك في حاجة أخيك المسلم خير لك من حجة بعد حجة

Hasan Al Basri: Langkahmu untuk membantu memenuhi hajat hidup saudara muslimmu lebih utama dari ibadah haji sunnah (haji kedua dan seterusnya)

8. Umroh di bulan Ramadan

فات بعض النساء الحج مع النبي صلى الله عليه وسلم فلما قدم سألته عما يجزئ من تلك الحجة قال: “اعتمري في رمضان فإن عمرة في رمضان تعدل حجة أو حجة معي (رواه مسلم)

Beberapa perempuan melewatkan momen haji bersama Rasulullah Saw. Ketika beliau tiba mereka bertanya tentang amalan yang melengkapi haji tersebut.

Rasulullah Saw: tunaikan umrah di bulan Ramadan. Sesungguhnya umrah di bulan Ramadan setara dengan ibadah haji bersamaku (HR. Muslim)

Beberapa Amalan di atas memang nilai pahalanya setara dengan berhaji, namun demikian amalan tersebut tidak bisa menggantikan haji sebagai rukun Islam kelima, pun tidak menggugurkan kewajiban haji bagi yang mampu. 

Sehingga setelah pandemi berakhir, mereka yang mampu tetap harus melaksanakan ibadah haji seperti biasa. 

Semoga situasi abnormal seperti ini tidak berlangsung lama.

Sabtu, 12 September 2020

Mahkota Dunia Akhirat

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته 

_*TUJUH MAHKOTA DUNIA AKHIRAT.*_

Bismillahirrahmanirrahim...
Allah Subhaanahuu wa Ta'aala berfirman : Sungguh Kami telah menciptakan atas kamu semua tujuh buah jalan dan kami sama sekali tidak akan lengah terhadap ciptaan Kami." (Al-Mu'minuun, ayat 17).

*1) MAHKOTA DZIKIR:*

*لا إله الا الله وحده لا شريك له، له الملك وله الحمد وهو على كل شيء قدير*

Laa ilaaha illallaahu wahdahu laa Syariikalahu lahul Mulku wa lahul Hamdu wa huwa 'alaa kulli syai'in Qodiir.

*2) MAHKOTA TASBIH:*

*سبحان الله وبحمده عدد خلقه ورضا نفسه وزنة عرشه ومداد كلماته*

Subhaanallah wabihamdihi 'adada holqihi wa Ridha nafsihi wa zinata 'arsyihi wa midada kalimaatihi.

*3) MAHKOTA DOA:*

*ربنا اتنا في الدنيا حسنة وفي الاخرة حسنة وقنا عذاب النار*

Rabbanaa aatinaa fid dunya hasanah wa fil aakhirati hasanah wa qinaa 'adzaaban naar.

*4) MAHKOTA ISTIGHFAR:*

*اللهم أنت ربي لا اله الا انت خلقني وانا عبدك، وأنا على عهدك ووعدك مااستطعت،أعوذ بك من شر ما صنعت، ابوء لك بنعمتك علي، وابوء بذنبي، فاغفرلي فإنه لا يغفروا الذنوب إلا أنت.*

Allaahumma Anta Laa ilaaha illaa Anta, Kholaqtani wa anaa abdiKa, wa ana 'alaa 'ahdiKa wa wa'diKa mas tatho'tu, a'uudzu biKa min syarri maa shona'tu, abuu'u laKa binikmatiKa 'alayya, wa abuu'u bidzanbiy, faghfirliy fainnahu laa yaufirudz dzunuuba illaa Anta.

*5) MAHKOTA PERLINDUNGAN:*

*بسم الله الذي لا يضر مع اسمه شيء في الأرض ولا في السماء وهو السميع العليم.*

Bismillaahil ladzii laa yadhurru ma'asmihii syai'un fil ardhi walaa fis samaa' wa Huwas Samii'ul 'Aliim.

*6) MAHKOTA PELEPAS BENCANA:*

*لا اله الا انت سبحانك اني كنت من الظالمين*

Laa ilaaha illaa Anta SubhaanaKa innii kuntu minadz dzoolimiin.

*7) MAHKOTA PENENANG HATI:*

*لا حول ولا قوة الا بالله العلي العظيم*

Laa haula walaa quwwata illaa billaahil 'Aliyyil 'Adziim.

*Jadikanlah Mahkota-mahkota ini selalu menghiasi kepala dan membasahi lisan kita, sebagai amalan dan senjata kita...*

_Mudah-mudahan dengan mengamalkan salah satu Mahkota tersebut Allah mengangkat segala cobaan, menghindarkan dari musibah, mengampuni dosa kesalahan, dan memasukkan kita ke dalam Syurga-NYA. *Aamiin Allahuma Aamiin.*_

_Bagikan amalan doa ini dengan niat baik agar lebih banyak lagi orang merasakan dan mendapatkan manfaatnya, Karena kita semua tidak tahu pahala mana yang akan memasukkan kita ke dalam Syurga Allah Subhaanahuu wa Ta'aala._

_Marilah menebar kebaikan...Semoga bermanfaat, *Aamiin Allahumma Aamiin*_