MUTIARA ILMU

Selasa, 20 Januari 2026

BANK SWISS MILIK RAJA NUSANTARA

https://www.facebook.com/share/p/qAr7CeL2hmymFUrF/?mibextid=WaXdOe

BANK SWISS MILIK RAJA NUSANTARA 

Created by Rinishima 2013

Pertempuran di indonesia, antara Portugis, Amerika, Belanda, Perancis, Inggris, Jerman, Belanda yang lamanya hampir 500 tahun di Negara indonesia, telah menelan Jutaan Nyawa Manusia, Perperangan di indonesia hanya Untuk memperebutkan tambang Minyak, Gas, Koalin, Uranium, tembaga, perak, Timah, Titanium, Biji besi, intan, Batubara, Batu Hijau dan berlian.

Pertempuran ini menelan biaya yang amat besar, pertempuran ini menggunakan bahan bakar untuk alat tempur mereka dan bahan bakar ini diambil dari Daerah medan, Sumatera utara, makanya dinamakan "MEDAN" 

Pertempuran ini bukan memperebutkan Cengkeh, Lada, tembakau dan kopra tetapi mereka memperebutkan negara indonesia, karena indonesia adalah negara terkaya di bumi ini.

Perang yang tak kunjung usai, akhirnya Amerika, Inggris, Belanda,Jerman,Jepang, Perancis memutuskan untuk berdamai dengan Jalan yaitu indonesia di Merdeka Kan pada Tgl 17 agustus 1945. Tetapi dengan catatan, negara tersebut harus berbagi kekuasaan dan berbagi Hasil tambang secara merata. 

Indonesia di Merdekakan lantaran merekapun akhirnya mendapat perlawanan dari Pihak indonesia, mereka akhirnya berperang juga melawan seluruh Rakyat indonesia dan mereka kewalahan.

Mari kita bahas bersama  :
1. Sri Baduga, 
2. George 3,
3. H.w Deandels, 
4. Thomas Stanford, 
5. George 4,
6. Sultan Achmad, 
7. Pattimura, 
8. Sultan kobuwono 10, 
9. George Bus, 
10. Soekarno, 
11. Soeharto,
12. BJ Habibie dsb.

Sri Baduga Maharaja Sultan Abul Mafachir Moehammad Alioeddin Al Misri, Memberikan pinjaman keuangan/ kolateral (ribuan ton emas) kepada negara Amerika Serikat. Beliau merupakan raja pertama yang mengakui kemerdekaan Amerika Serikat yang dipimpin presiden pertama, George Washington. Beliau juga turut membantu dalam pembangunan gedung pemerintahan AS, “White House”. Oleh karena itulah bentuk gedung pemerintahan AS, “White House” serupa  dengan Istana Bogor 
(salah satu istana Maharaja Sunda Nusantara). 

Mundurnya Inggris bukan lantaran menangnya tentara Amerika, tetapi karena desakan Sultan Alioeddin kepada administratur benua Amerika yaitu Kerajaan Inggris, dalam upaya Sultan ingin menggembalikan pemerintahan Bangsa Malay-Indian, dari arsip kuno yang ditemukan, wilayah Amerika sebenarnya merupakan kerajaan bawahan dari kemaharajaan Sunda Nusantara. 

Raja Inggris, George III terguncang jiwanya atas kemerdekaan Amerika Serikat, dan menaruh dendam kepada kemaharajaan Sunda Nusantara.

Pada tanggal 10 Mei 1810, 
Pasukan kemaharajaan Sunda Nusantara dibawah pimpinanan  : SRI BADUGA MAHARAJA SULTAN ACHMAD AL MISRI, dapat mengalahkan pasukan laut Kerajaan Perancis dibawah komando Herman Williem Daendels, yang hendak menyerang wilayah kedaulatan kemaharajaan Sunda Nusantara. H.W. Daendels beserta pasukannya menyerah tanpa syarat dan H.W Daendels dipenjarakannya. 

H.W. Daendels adalah perwakilan dari kerajaan Perancis (ketika itu Belanda masih dijajah oleh Perancis). Maharaja Sultan Achmad Al Misri, berkedudukan di Istana Merdeka, Istana Cipanas, Istana Bogor, dan Istana Serosowan Bantan. Kekalahan tentara laut Perancis dibawah komando Daendels oleh Baginda Sultan Achmad diperingati dengan rasa syukur. Sultan Achmad yang pernah bersekolah di Inggris mengundang sahabatnya Thomas Stanford Raffles untuk merayakannya, karena menganggap Inggris adalah musuh bebuyutan Perancis. 

Beliau beranggapan bahwa Inggris akan merasa senang bila kemaharajaan Sunda Nusantara berhasil memukul Perancis dan menawan panglimanya. Namun ternyata T.S. Raffles membawa tugas misi khusus dari Raja Inggris, George IV, yang masih dendam pada maharaja Sunda Nusantara atas kemerdekaan negara Amerika Serikat. 

T.S. Raffles ditugaskan untuk membunuh Sultan Achmad, menghancurkan kemaharajaan Sunda Nusantara, dan membebaskan H.W. Daendels. Karena H.W. Daendels adalah bangsawan De’Orange yang masih sepupu keluarga Buckingham, dan ketika itu Perancis telah kalah oleh Inggris. 

T.S. Raffles mengajak Sultan Achmad untuk berkeliling wilayah Nusantara, dengan tujuan Pulau Banda (bagian kepulauan Sunda Kecil, penghasil pala terbaik di dunia). Ketika itu Sultan Achmad hanya dikawal pasukan kecil saja, karena tujuannya hanya sekedar jalan-jalan. 

Sultan Achmad tidak menyadari bahwa ajakan sahabatnya itu sebenarnya adalah jebakan, karena sebelum keberangkatan, T.S. Raffles telah memerintahkan pasukan AL nya untuk menunggu di Laut Banda. Begitu sampai di laut Banda, rombongan Sultan Achmad dikepung oleh pasukan AL Inggris yang telah siap dengan persenjataan lengkap. Sultan Achmad tidak berdaya, kemudian diikat dan ditinggalkan begitu saja oleh T.S Raffles di sebuah pulau kosong, dengan tujuan agar mati. Kapal kebesaran Sultan Achmad diambil alih oleh T.S. Raffles dengan tujuan agar dia dapat kembali ke pusat kerajaan Sunda Nusantara tanpa dicurigai oleh pasukan kerajaan Sunda Nusantara. 

Inilah sebabnya ketika rombongan kapal kebesaran Sultan Achmad (yang telah dikuasai T.S. Raffles) beserta kapal pasukan AL Inggris kembali ke pelabuhan Sunda Kalapa tak ada perlawanan, karena mengira mereka adalah rombongan Sultan Achmad dan sahabatnya T.S. Raffles. Siasat ini menyebabkan T.S. Raffles beserta pasukannya yang telah siap dengan persenjataan lengkap, dapat dengan mudah menduduki pusat kerajaan Sunda Nusantara. Setelah menguasai pusat pemerintahan kerajaan, selanjutnya T.S. Raffles mengambil alih beberapa wilayah strategis hingga sampai Malaka dan Singapura. Untuk melicinkan kepentingan politiknya, T.S. Raffles juga menghilangkan bukti sejarah lainnya dengan menghancurkan Istana Surosowan Banten.

Kemudian pada tahun 1816, T.S. Raffles menyerahkan pendudukan (Annexation) administratif kolonial di wilayah Sunda Nusantara kepada Kerajaan Belanda (sahabat kerajaan Inggris) di Semarang, dan Herman William Daendels diangkat menjadi Gubernur Jenderal Hindia Belanda. T.S. Raffles berhasil membebaskan H.W. Daendels dan membuat perjanjian yang intinya mengangkat Daendels sebagai Gubernur Jenderal Hindia Belanda dengan syarat mengikuti seluruh skenario rekayasa dan membungkam siapa saja yang mengetahui sejarah ini selanjutnya. Maka dimulailah kekejaman penjajahan Belanda sebagai kepanjangan Kerajaan Inggris. 

Peristiwa ini menjadi awal pemalsuan sejarah Sunda Nusantara selama +/- 200 tahun. Sejak saat itu, ribuan ton emas dijarah, yang digunakan untuk modernisasi England dan pembangunan persemakmuran negara jajahannya (Kanada, Australia, Singapura, Hongkong, Afrika Selatan dst). Keluarga kerajaan-kerajaan di Nusantara dibantai dan dirampok. Arsip (bukti-bukti) pemerintahan dimusnahkan dan diambil untuk dihilangkan. Sebagian besar arsip yang menuliskan sejarah bumi dan pemerintahan masih disimpan di Mahkamah Internasional di Den Haag dan Universitas Leiden, Amsterdam. Inilah sebabnya Mahkamah Internasional berada di Belanda, karena sejarah aset dunia tersimpan disana beserta literatur pendukungnya.

Hilangnya kepempinan nasional Sunda Nusantara, menyebabkan kerajaan-kerajaan dibawah konfederasi Kemaharajaan Sunda Nusantara menjadi terpecah belah. Sejak saat itu, banyak terjadi perlawanan kepada pemeritah kolonial Hindia Belanda, ditandai dengan meletusnya 

Perang Pattimura (Maluku, 1817)
Perang Paderi (Sumatera Barat, 1821-1837)
Perang Diponegoro (Jawa Tengah, 1825-1830), dll. 

Namun perlawanan dari kerajaan-kerajaan ini dapat dipatahkan oleh Belanda, karena tidak ada persatuan lagi. Para raja-raja yang soleh dan mau bekerjasama dengan Belanda, diperdaya dengan menyimpan harta emas mereka di Bank Zurich, Jerman, dimana harta Kesultanan Nusantara (Cirebon, G.Pakuan, Banten, Deli, Riau, Kutai, Makasar, Bone, Goa, Luwuk, Ternate, dll,) dalam nilai ratusan trilyun Dollar Amerika (dalam bentuk emas, logam mulia, berlian, dsb) di simpan di Bank Zurich, Jerman. Kemudian karena kekalahan Jerman pada PD I (1911-1914), 

Maka harta tersebut diambil paksa oleh pemenang, pihak Sekutu, yang selama perang banyak dibiayai oleh organisasi Yahudi. 

Inilah sebabnya kenapa Jerman benci Yahudi. Kemudian harta-harta tsb. dipercayakan untuk disimpan di negeri Belanda. Namun ketika Belanda kembali terjajah oleh Jerman pada Perang Dunia ke II, maka harta tsb. menjadi tercerai berai, dan sebagian digunakan oleh NAZI untuk membiayai perang mereka. Kekalahan Jerman di perang dunia ke II menyebabkan aset tersebut kemudian dibagi kepada negara Sekutu (dalam hal ini Amerika, Inggris, Prancis, Rusia, Belanda).

Pada tahun 1934, Sultan Paku Buwono X memberikan bantuan jaminan keuangan (kolateral) kepada Liga Bangsa Bangsa (LBB) di Amerika Serikat, dengan tujuan membantu kebangkrutan ekonomi dunia. Liga Bangsa Bangsa (LBB) adalah cikal bakal dari Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB). Tercatat emas yg diberikan 57.169 ton emas 24 karat, yg kemudian diAKUI oleh pihak AS dalam perjanjian “The Green Hilton Agreement” dan disaksikan Sri Paus ( Vatikan ).

PASKA PROKLAMASI
 -  -  -  -  -  -  -  -  -  -  -  -
Paska proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia (17 Agustus 1945), para Sultan/ Raja (konfederasi) dibawah Kemaharajaan Sunda Nusantara mendukung pemerintah Republik Indonesia dibawah kepemimpinan presiden pertama Ir. Soekarno, dengan syarat beliau juga bersedia memulihkan Kekaisaran Sunda Nusantara (maksudnya tetap mengakui keberadaan para Sultan/Raja di wilayah Sunda Nusantara, sebagaimana halnya di Malaysia atau Inggris). Presiden Soekarno setuju syarat tsb, dan oleh karena itu beliau juga diberi tahu mengenai aset bangsanya yang dipergunakan oleh bangsa lain dan digelapkan. Beliau juga diamanahkan oleh para Sultan/Raja Sunda Nusantara untuk berusaha mengembalikan aset bangsa tsb.

Atas hal tersebut maka Ir. Soekarno mengirim surat rahasia ke PBB, dan menyampaikan gugatan kepada negara Sekutu untuk mengembalikan aset bangsa tsb. dalam rangka pembangunan kembali bangsa Sunda Nusantara. 

Ingat uang kita sebelum Rupiah menggunakan nama SEN (SN=Sunda Nusantara). 

Labrakan Ir. Soekarno kepada berbagai ketidakadilan dan imperialisme dunia, karena beliau menyadari bahwa “Indonesia” adalah “SUPER POWER” sesungguhnya dan pemegang amanah dunia.

Gugatan Ir. Soekarno baru disambut baik, ketika Amerika Serikat dipimpin oleh presiden John F. Kennedy, dengan harapan AS mendapat dukungan Ir. Soekarno dalam perlawanan menghambat komunisme. 

Pada tahap awal disetujui pengembalian aset bangsa Sunda Nusantara pada tahun 1963, dengan ditandatanganinya perjanjian “Green Hilton Agreement”, yaitu pengembalian 57.147 ton emas kepada rakyat Republik Indonesia (pemilik sah) melalui pemerintahan Republik Indonesia sebagi pengemban amanah Kekaisaran Sunda Nusantara 
(Imperium of Zhunda Nuswantara), dengan disaksikan Sri Paus, yang banyak mengetahui sejarah aset dunia. 

Sayangnya rencana ini tidak berjalan baik, karena terjadi pembunuhan terhadap presiden John F. Kennedy, pada tahun 1964. 

Diduga pembunuhan ini dilakukan oleh organisasi rahasia Yahudi, yang menguasai ekonomi dan menyetir arah politik negeri AS hingga saat ini (Presiden John F. Kennedy tidak mau bekerjasama dengan organisasi ini). 

Paska pembunuhan presiden John F. Kennedy, di bumi Nusantara juga terjadi gerakan penggulingan presiden Soekarno pada tahun 1965, yang diduga didalangi oleh CIA 
(dibawah kendali organisasi rahasia Yahudi). Kekayaan aset Nusantara masih banyak tersimpan di 93 account di bank-bank utama didunia (ciri negaranya berbendera merah dan putih menandakan sumber asetnya).

Organisasi rahasia Yahudi ini diduga hingga saat ini masih menjalankan misinya dalam rangka membentuk tatanan dunia baru di bawah kepemimpinan Yahudi, dengan menguasai sektor keuangan dunia (IMF), bisnis persenjataan, bisnis media dan sistem informasi, serta bisnis strategis lainnya. Pemalsuan sejarah bangsa-bangsa di dunia, termasuk bangsa Sunda Nusantara juga didalangi oleh organisasi tersebut. Oleh karena itulah 90% bangsa kita tidak percaya akan cerita sejarah kebesaran bangsanya karena distorsi informasi ini, dan sebagian lagi tidak mau tahu karena lebih mengejar materi.

Marilah kita simak Doktrin Zionisme

 (Protocol VI) yang menyatakan : 
Kehancuran kekuasaan akan terjadi setelah orang-orang berilmu (aristocrat) kaum 'the goyim' jatuh statusnya menjadi kaum proletar bersamaan dengan kredit negara-negara yang semakin meningkat, karena ketergantungan mereka yang sangat besar kepada kegiatan monopoli berskala besar, yang kita bangun, yang menjadi sumber penghasilan mereka. Di satu sisi, promosi Pemerintahan Super sebagai pelindung dan pemberi kesejahteraan kepada mereka, kita terus tingkatkan.

Kelompok aristocrat non Yahudi masih tetap berbahaya bagi kita, karena mereka masih berstatus memiliki tanah-tanah pertanian yang bisa memenuhi kebutuhan mereka. Berbagai cara kita kembangkan agar tanah-tanah itu jatuh ke tangan kita dan kita kuasai, yaitu dengan cara : Menaikkan beban tanah tersebut dengan cara menaikkan hutang mereka, dengan jaminan tanah-tanah mereka yang menyebabkan kepemilikan tanah terikat kepada kita dan pemiliknya akan tunduk tanpa syarat ; Kita bikin sulit kehidupan orang-orang berilmu (aristocrat) kaum non Yahudi yang akhirnya mereka akan musnah, karena kaum aristocrat mereka terbiasa dengan kehidupan yang mudah dan mewah. Aktivitas spekulasi kita naikkan untuk mengembangkan kegiatan industri dan perdagangan, sehingga kegiatan industri akan semakin menguat.

Dengan kegiatan industri yang menguat, kita sedot sumberdaya manusia dan modal (finansial) dari tanah-tanah pertanian tersebut dan akhirnya, ke dua sumberdaya tadi akan berpindah tangan ke kita berupa akumulasi harta kekayaan, sehingga kaum aristocrat non yahudi akan jatuh statusnya menjadi kaum proletar. Gaya hidup mewah kita perkenalkan kepada kaum aristocrat non Yahudi, yaitu dengan kita naikkan taraf pendapatan mereka, tetapi mereka harus membeli kebutuhan pokok dengan harga yang tinggi, karena berkurangnya hasil-hasil pertanian dan peternakan.

Kita ajarkan faham anarkis dan mabuk-mabukan kepada kaum buruh non Yahudi sebagai kaum terpelajarnya mereka yang akan mengurangi kegiatan industri dan menyempitnya lapangan pekerjaan. 
Akhirnya, kaum aristocrat non Yahudi akan tunduk kepada kita hanya agar eksistensi mereka tetap dihargai dan mereka tidak menyadari bahwa kita tetap akan memusnahkan mereka. 

Kita samarkan proses keseluruhan ini dengan istilah meningkatkan produktivitas buruh melalui teori-teori politik ekonomi yang para ahli ekonomi kita ajarkan terhadap kegiatan-kegiatan tersebut.

Pada era pemerintahan Ir. Soekarno, beliau begitu lantang mengumandangkan politik 
              " POLITIK BERDIKARI” 
atau berdiri dengan Kaki Sendiri, bahwa bangsa Sunda Nusantara harus dapat mandiri, jangan tergantung kepada negara lain. Pada bulan Agustus 1965, beliau mengatakan “go to hell with your aid” sebagai kata talak/perceraian dengan IMF serta Bank Dunia dan memutuskan membangun Nusantara secara mandiri. Sayangnya politik ”BERDIKARI" ini tidak berlangsung lama, karena pada bulan September 1965 terjadi kudeta berdarah terhadap presiden Soekarno 
(kudeta ini diduga melibatkan CIA). 

Selanjutnya dimulailah rezim orde baru dibawah kepemimpinan Soeharto, yang kebijakan politiknya dekat dengan kepentingan Amerika Serikat.

Bagaimana dgn kondisi negeri kita saat ini ? Sudahkah bangsa kita hidup dan berkehidupan seperti yang tercantum dalam doktrin Zionisme di atas...? 

Bila kita tidak segera menyadarinya, maka bangsa kita akan menjadi jongosnya bangsa-bangsa adi kuasa dan akan menjadi kepanjangan tangan dari negara-negara adi kuasa/kaya .

Iskandar Muda dan Hukuman Kerasnya

Augustin de Beaulieu, pelaut Prancis yang sempat menetap di Aceh pada masa Iskandar Muda (memerintah 1607-1636) mengungkapkan kekejaman Sultan Iskandar Muda. Sang penguasa ini memang amat kejam karena saya berani bilang bahwa sejak saya berada di sana tak sehari pun lewat tanpa dia membunuh seseorang dan terkadang beberapa orang, dan dia tidak memberitahu siapa pun mengenai rencananya dan juga tidak minta saran orang lain,” kata Augustin de Beaulieu, dalam Orang Indonesia dan Orang Prancis: Dari Abad XVI Sampai Dengan Abad XX karya Bernard Dorleans.

Sultan Iskandar Muda menerapkan hukuman yang keras kepada para penjahat di Aceh untuk menegakkan wibawa dan kuasa raja yang di masa-masa sebelumnya kerap dikendalikan oleh kaum uleebalang (bangsawan). Mulai dari pemotongan anggota tubuh seperti telinga, bibir, hidung, kaki dan tangan; diinjak gajah sampai mati; menjepit dengan dua batang kayu yang dibelah; menumbuk kepala orang, dan lain-lain.

Beberapa dokumen dari sumber-sumber asing seperti yang tercantum di Kerajaan Aceh: Zaman Sultan Iskandar Muda (1607-1636) karya Denys Lombard bahkan menyebutkan Iskandar Muda pernah membunuh bayi dengan cara menghantamnya ke dinding karena bayi itu tak berhenti menangis. Dan bagaimana dia senang mandi darah para terhukum mati untuk melindungi diri dari penyakit.

Meski begitu, watak kejamnya ini diimbangi dengan sistem pemerintahannya yang efektif. Aceh menjadi kekuatan dominan di Sumatera dan warisan kekuatan militer besar yang dihimpunnya menjadi penantang utama laju dominasi Portugis di Semenanjung Malaya selama abad ke-17. 

Sultan Agung Memenggal Prajuritnya

Raja Mataram, Sultan Agung. 
(memerintah 1613-1645) memutuskan untuk menyerang Batavia pada 1628 sebagai bagian dari rencana politik ekspansionisnya di Jawa. Pasukan Jawa berkali-kali menyerang benteng dan berulang kali juga mereka gagal. Selama 30 hari ribuan prajurit Jawa juga mencoba membendung sungai Ciliwung untuk membuat pasukan Belanda kehausan, usaha ini juga gagal. Dalam sebuah pertempuran besar di dekat benteng, pasukan Belanda berhasil mengalahkan pasukan Mataram.

Pasukan Mataram akhirnya dipukul mundur, namun hanya setelah Sultan Agung mengirimkan sepasukan algojonya untuk memenggal kepala kedua panglima pemimpin penyerbuan, Tumenggung Bahureksa dan Pangeran Mandurareja, beserta prajuritnya karena telah gagal merebut Batavia.

VOC menemukan 744 mayat prajurit Jawa yang tidak dikuburkan, beberapa di antaranya tanpa kepala,” tulis M.C. Ricklefs dalam Sejarah Indonesia Modern 1200-2008.

Serangan kedua terjadi pada 1629, kali ini dipimpin Dipati Ukur. Sekali lagi, pasukan Mataram dipukul mundur. Belajar dari pengalaman kegagalan panglima sebelumnya, Dipati Ukur akhirnya memutuskan untuk memberontak karena tahu hukuman penggal dari sang sultan tengah menantinya. 

Amangkurat I Membantai Ulama

Tahta Mataram kembali mengalirkan darah pada masa Amangkurat I (1646-1676). Dia memindahkan pusat pemerintahan Mataram ke Plered dari Karta. Dia kerap terlibat perselisihan tahta, dimulai dengan saudaranya sendiri, Pangeran Alit, yang akhirnya dia bunuh untuk memuluskan jalan menaiki tahta Mataram. Namun tindakannya yang paling kejam adalah ketika dia membantai kaum ulama karena dianggap berkonspirasi dengan mendiang saudaranya untuk merebut tahta.

Dia membuat daftar para ulama beserta keluarga mereka untuk dikumpulkan, lalu dibantai di alun-alun Plered. Pembantaian ini terjadi tahun 1647. “Dan dalam waktu setengah jam, tidak kurang dari lima sampai enam ribu orang dibantai. Van Goens (utusan VOC untuk Mataram) yang waktu itu berada di Plered, melihat dengan mata sendiri mayat-mayat yang bergeletakan di jalanan,” tulis Denys Lombard dalam Nusa Jawa: Silang Budaya Jilid II.

Masa pemerintahan Amangkurat I memang penuh huru-hara. Pada 1677, Plered diduduki oleh pasukan Trunojoyo dari Madura yang memberontak, yang akhirnya memberikan celah masuk bagi VOC ke dalam politik istana Mataram. Berkat VOC, pemberontakan berhasil ditumpas namun kedaulatan Mataram kian lama jadi kian terkikis.

Pada awal abad 17, aset harta para Raja dan Kesultanan Nusantara (Cirebon, G.Pakuan, Banten, Deli, Riau, Kutai, Makasar, Bone, Goa, Luwut,Ternate, dLL,) dalam nilai ratusan trilyun Dollar Amerika (dalam bentuk emas, logam mulia, berlian, dan srbagainya) di simpan di Bank Zuchrigh, Jerman (karena pada saat itu Jerman adalah negara makmur dan menguasai dunia. Serta bank tersebut adalah salah satu bank yang tertua di dunia)

PENGKHIANAT PARA RAJA 
DAN PENJILAT KERAJAAN BELANDA

Pada tahun 1620, Nusantara dijajah Belanda selama 3,5 abad. Bagi Kesultanan / Raja Nusantara yg melawan Belanda, data administrasi harta di Bumi Nusantara dihanguskan, hanya bagi Kerajaan Amangkurat I tetap memiliki data utuh, karena mereka penjilat Belanda dimasa itu.

Catatan:
Salah satu bukti Amangkurat I sebagai penjilat Belanda : Pangeran Girilaya Raja Cirebon II selaku menantu dari Raja Amangkurat I, atas tipuan pada u “undangan makan”, ternyata Raja Cirebon II beserta kedua putranya yang berumur 11 dan 9 tahun ditahan selama 10 tahun, hingga wafatnya Raja Cirebon II yang dimakamkan di Girilaya. Atas wafatnya Raja Cirebon II, Sultan Trunojoyo diutus untuk menjemput kedua putra mahkota tersebut untuk menggantikan tahta Kerajaan Cirebon.
Dengan melalui peperangan, akhirnya Trunojoya berhasil membawa Putra Mahkota dan kedua adiknya. Sedangkan Putra Mahkota yang pertama/kakaknya, diamankan oleh paman dari Ibunya ke Gunung Lawu. Hingga akhirnya berdiri Kerajaan Cirebon menjadi dua kesultanan, yaitu: Kesultanan Kanoman dan Kesultanan Kasepuhan.

PENYERAHAN HIBAH HARTA REKAYASA

Pada tahun 1939, Amerika menyuruh Bung Karno untuk menata aset para Raja Nusantara dan mengalihkan hak atas nama pribadi Soekarno.

Catatan :

a. PENYERAHAN HIBAH REKAYASA 
Dilakukan oleh Raja Solo dan Yogyakarta yang mengatasnamakan Raja-raja Nusantara. Selanjutnya aset kedua raja tersebut utuh atau tidak dihibahkan.

b. HAK AHLI WARIS Raja Nusantara, sepeserpun nihil ( tidak menerima hak waris.)

BERDIRINYA BANK DUNIA 

Pada tahun 1944, berdirilah Bank Dunia atas dasar Colateral Aset Raja Nusantara! Bank Dunia mulai memberikan pinjaman kepada 40 Negara. Maka semenjak itu USA semakin kuat untuk mencetak mata uang dan menyusun strategi persenjataan yang berguna untuk menguasai dunia.

JEPANG Menyerah Atas bantuan AMERIKA

Pada tahun 1945, saat Perang Dunia-II Jepang menyerah dan membuat Indonesia memproklamirkan kemerdekaan.

Beberapa fakta :

a. Bung Karno dlm salah satu pidatonya pernah berkata “kalau Jepang tidak memberikan kemerdekaan kepada kita, maka saya akan minta USA utk membom Jepang.

b. Bung Karno diangkat jadi ketua PBB. Bukankah pada waktu itu orang asing banyak yang lebih pintar dari Bung Karno? Tak aneh lagi, karena berdirinya Bank Dunia berasal dari aset Raja Nusantara. Sampai saat ini, tidak ada jabatan Ketua PBB selain Bung Karno, yang ada hanyalah Sekjen.

Catatan :

Tahun 1945, untuk membangun negara, kalau Bung Karno jujur dan benar (tidak ambisius), seharusnya mengumpulkan para Sultan dan Raja Nusantara untuk diberi tahu jika para buyutnya (Raja Nusantara) pada abad-17, menyimpan hartanya di Bank Juchrigh-Jerman. Kenapa Bung Karno bungkam ?

Antara tahun 1950–1953, Bung Karno memberikan pelimpahan coleteral kepada kolega dan keluarganya, yang berasal dari aset para Raja Nusantara yang dihibahkan atas nama pribadi Bung Karno. Yang kini sudah pada balik nama.

Tahun 1954, sebagian sisa Dana Koleteral tsb dibagikan dalam bentuk amanah kepada 73 orang Tokoh Negara dan Ulama. Karena ada kepentingan “politik praktis”.Tahun 1955 pemilu pertama, Bung Karno diangkat Sebagai Presiden “seumur hidup”

Catatan :

a. Penerima “ pelimpahan colateral ” mendapatkan Royalti, namun pemegang amanah tidak mendapatkan Royalti. Siapakah yang menikmati royalti atas dana coleteral dari Bank Dunia? Siapa lagi kalau bukan kolega & keluarganya.

b. Perlu pendirian “ LEVARN ” Lembaga Executive Verifiksi Aset Raja Nusantra

c. Maksud dan tujuan : Atas tersimpannya Aset Raja Nusantra, baik milik Raja/Kesultanan: Cirebon, Pakuan, Banten, Deli, Riau, Kutai, Makassar, Bone, Goa, Luwut, Ternate, dan lainnya, yang disimpan pada awal Abad-17 di Bank Zuchrigh, Jerman dengan nilai ratusan trliyun dollar Amerika yang telah dihibahkan ke pribadi Ir.Soekarno (Rekyasa JO. AS) Untuk modal awal pembentukan Bank Dunia, kini sudah pada balik nama atas nama keluarga dan koleganya (diluar amanah) ini harus diverifikasi / tata Juridis Formil untuk ketetapan hak bagi ahli waris dan negara.

d. Dalam pertemuan para Sultan se-Indonesia di Bali pada tahun 2000-an lalu. Selaku ahli waris mengharapkan keadilan hak atas harta yang digelapkan. Sehingga para pemegang amanah dan lainnya menyadari atas keganjilan hibah tersebut.

SOEKARNO KELUAR DARI PBB

Mengapa Bung Karno keluar dari PBB dan pidatonya antara tahun 1959 sampai dengan 1963, berapi-api anti imperialis, anti nekolim ? Karena coleteralnya ternyata tidak bisa dicairkan dan digunakan untuk pembangunan Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan REPELITA yang telah diprogram Alias dipersulit oleh Amerika.

AS MEMBUNGKAM SOEKARNO

Amerika berkepentingan untuk membungkam Bung Karno, selain karena alasan dana coleteral tersebut, juga karena Bung Karno membentuk “Poros Segitiga” Peking-Jakarta-Pyongyang. Selanjutnya melalui konspirasi dan tipu daya, AS bertindak sebagai dalang atas lengsernya Bung Karno.

Tiga orang Jenderal terlibat dalam gerakan bawah tanah buatan AS, datang dan menodongkan senjata kepada Bung Karno untuk menandatangani SUPERSEMAR.

S U P E R  S E M A R
Ada 3 Surat Supersemar, 
Yang 1 Asli dan 2 palsu.

Catatan :
Kemudian isi Supersemar diubah (dipalsukan) dan diserahkan kepada Soeharto. Soeharto tidak mengetahui tentang pemalsuan Supersemar tersebut dan menjalankan Supersemar dengan baik. Soeharto baru mengetahui hal tersebut sekitar tahun 1980-an. Namun sudah terlambat dan sejarah sudah terlanjur dituliskan.

SOEKARNO LENGSER 

Tahun 1967, Soekarno lengser & Soeharto menjabat sebagai Presiden RI.

7 ORANG PEMEGANG SURAT AMANAH

Sekitar tahun 1995, tujuh orang pemegang Surat Amanah dari Soekarno, menghadap Soeharto agar Pemerintah dapat menggunakan Dana Coletral tersebut untuk pembangunan Indonesia.

Catatan :
Dana Coletral tersebut (yang ada di Bank Dunia) tidak dapat dicairkan, namun dapat digunakan untuk “jaminan cetak uang” Soeharto mengajukan ijin utk pencetakan uang Rupiah atas jaminan Dana Coletral tersebut.

Dilakukan Sidang Moneter Internasional, dengan salah satu agenda untuk membahas rencana pencetakan uang Rupiah oleh pemerintah RI. Sepuluh negara menolak untuk memberikan ijin (termasuk AS dan sekutunya), sisanya mengijinkan. Atas dasar voting, maka pemerintah RI diijinkan utk mencetak uang sebesar “Rp.20.000 trilyun” dengan jaminan lima Coleteral (Salah satu Coleteral tsb adalah milik Kerajaan Cirebon sebesar 13.000 trilyun)

Catatan :
AS tidak memberikan ijin, karena khawatir Soeharto akan membangkitkan DUNIA ISLAM. Karena thn 1987 Yayasan Amal Bakti Muslim Pancasila sudah mulai merintis dan menggalakkan bantuan untuk pembangunan masjid di seluruh Indonesia. Mbak Tutut sudah mulai memakai kerudung dan dianggap sebagai simbol kebangkitan dunia Islam.

AS MENCETAK UANG

Pencetakan uang dilakukan di Jerman & Israel (pemenang tender adalah Australia). Disisi lain AS dan sekutunya mulai melakukan konspirasi untuk merusak stabilitas Ekonomi Internasional.

15. Maret 1997, secara bertahap IDR (Indonesia Rupiah) sdh mulai masuk ke Indonesia (masih berstatus atas nama Amanah yang ditempatkan di luar gudang BI). Baru sekitar 9% IDR tsb yg diregristasi oleh BI, terjadilah “krisis moneter” karena George Soros melakukan transaksi “pembelian Rupiah” secara besar-besaran yang dibayar dengan US Dollar. IDR dicetak dalam cetakan uang plastik pecahan Rp.100.000,- tahun cetakan 1997.

Catatan :

Pak Harto berencana dalam periode tahun 1998–2003, Try Sutrisno menjabat sebagai Wakil Presiden. Tahun 2000 Pak Harto membuat pondasi sebagai landasan kuat dalam pembangunan tinggal landas untuk take off menuju adil dan makmur. Tahun 2002, Pak Harto berencana untuk mengundurkan diri dan dilanjutkan oleh wakilnya Try Sutrisno sebagai presiden.

INDONESIA TERTIPU OLEH AMERIKA 

Amerika semakin gencar melakukan konspirasi, sadar atau tidak sadar banyak unsur masyarakat yang sudah masuk dalam tipu daya dan skenario AS.

Catatan :

a. Banyak mahasiswa dan rakyat yang merasa idealis dan menuntut lengsernya Soeharto. Namun sesungguhnya mereka tidak sadar bahwa ini semua adalah skenario AS untuk menurunkan Soeharto.

b. Beberapa “tokoh boneka politik” bentukan AS, yaitu empat orang yang dikenal dengan sebutan “SMAG”

c. Terjadinya Kerusuhan Mei, yang dikoordinir oleh seorang tokoh pemuda atas cetakan SMAG.

Mei 1998, Soeharto lengser dan BJ Habibie menjabat sebagai presiden RI.

Semua mata uang Rupiah pada akhirnya sampai di Indonesia, Pak Harto memerintahkan 49 orang jenderal (7 orang Jenderal Bintang empat dan 42 orang Jenderal Bintang dua) untuk mengamankan gudang-gudang IDR yang masih berstatus atas nama Amanah.

BJ HABIBIE DI TIPU OLEH AS AGAR MELEPASKAN TIMOR TIMUR

BJ Habibie dipolitisir oleh AS untuk merealisasi Referendum di TimTim, dengan janji apabila terlaksana dengan jujur dan adil maka Habibie akan didukung untuk menjabat sebagai Presiden RI untuk periode selanjutnya.

Catatan :

Habibie ditipu mentah-mentah oleh AS dan sekutunya. Hasil jajak pendapat Timor Timur dimanipulasi (termasuk yang dihitung di Gedung Putih-AS, tidak dihitung di lapangan) dan berujung pada lepasnya Timor Timur dari NKRI. Itulah jatuhnya Habibie akibat dampak tertipu politik praktis. Karena Habibie sejatinya bukan orang “misi AS”, melainkan Habibie adalah “Jerman-isme” Rapuhnya Pemerintahan RI dan perekonomiannya akibat “Mafia Berkeley” dan sebagian besar tokoh-tokoh negara terlibat dalam dosa “Kerusuhan Mei”. Amerika memegang kartu tokoh-tokoh negara tersebut, lalu leluasa untuk mendikte pemerintah. Boleh dikata, semenjak itu pemerintahan hanya menjadi “boneka AS” dan tdk mampu untuk lepas dari cengkraman AS.

KESIMPULAN

Jadi kesimpulan dari semua ini
Kebenaran yang dituliskan oleh si penulis bukan untuk menyudutkan PIhak pihak tertentu, namun untuk MENEGAKKAN SEBUAH KEBENARAN DAN FAKTA YANG ADA, Bangsa Indonesia sangat beruntung telah memiliki 2 orang PUTRA TERBAIK yaitu :
SOEKARNO dan SOEHARTO. Rapatkan saja barisan, jangan mudah teradu domba oleh KONSPIRASI AS dan sekutunya. 

Tumbuhkan jiwa patriotik kita, karena bisa jadi melalui konspirasi AS, perang Afganistan dan Irak juga dapat terjadi di Tanah Air yang kita cintai ini. Juga perang antar suku dan golongan di dalam negeri seperti di negara-negara Afrika, Korea Utara–Selatan, Vietnam Utara-Selatan, Bosnia, Mesir, Libya dan lain-lain. Atas kronologis harta Soekarno tersebut, pada prinsipnya kita para “pemegang amanah” dan penerima “Pelimpahan Colateral ”perlu untuk menyadari bahwa pelaksanaan “Hibah Aset Raja Nusantara kepada pribadi Bung Karno adalah  “CACAT HUKUM”

Begitulah kisahnya indonesia Selalu tertipu dan tertindas dari tahun 1400 sampai tahun 1945 

Dari tahun 1945 sampai tahun 2025 
Indonesia makin di tindas dan di Tipu, mereka menjajah Negara kita tak perlu menggunakan fisik seperti dahulu kala karena mereka telah mendapat pengalaman yang pahit selama menjajah negara kita.

Berkat pengalaman mereka menjajah selama lebih dari 500 tahun, kini mereka menjajah Negeri ini cukup menggunakan intelegency dan Uang. Mereka Cukup membodohi ketum Parpol, Gubernur, Menteri, Wapres, Presiden, DPR dan MPR RI

Wassalam, 
Rinishima

Selasa, 16 Desember 2025

𝐌𝐮𝐧𝐝𝐮𝐫 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐃𝐢𝐡𝐮𝐤𝐮𝐦 𝐒𝐞𝐣𝐚𝐫𝐚𝐡!


Oleh: Mustafa Abdillah

Mari kita runutkan dengan kepala dingin dan logika yang jernih peristiwa yang sedang menguji Nahdlatul Ulama ini. Pemberhentian Ketua Umum PBNU Gus Yahya oleh Rais Aam dinilai inkonstitusional karena menabrak aturan tertinggi organisasi. Hanya Muktamar yang berwenang memberhentikan mandatarisnya, bukan rapat harian Syuriah. Prosedurnya pun sarat masalah. Gus Yahya bahkan dilarang hadir untuk memberikan klarifikasi meski diminta sebagian peserta rapat. Di saat yang sama, pengangkatan Muhammad Nuh sebagai Katib Aam baru dalam rapat yang hanya dihadiri 14 orang pengurus terasa sangat dipaksakan. Maka, wajar jika sikap mayoritas pengurus di daerah adalah tegak lurus menjunjung AD/ART yang sebenarnya.

Lalu, apa alasan di balik tindakan yang "bukan NU banget" ini? Tuduhan soal "Zionisme" sebagai dalih terasa sangat lemah. Banyak bukti menunjukkan Gus Yahya justru gigih memperjuangkan Palestina. Jika kriteria "berhubungan dengan entitas berafiliasi Zionis" dipakai, bahkan Gus Dur pun bisa kena tuduhan serupa, dan itu jelas tidak masuk akal.

Jika bukan Zionisme, apakah ini soal "rebutan tambang"? Istilah "rebutan" memang kurang tepat, karena pembahasan pengelolaan konsesi tambang PBNU, yang rencananya akan dibicarakan secara transparan di Muktamar untuk kemaslahatan warga NU, bahkan belum benar-benar dimulai. Bahkan, wacana untuk mengembalikan konsesi ini ke pemerintah pun sudah disampaikan Gus Yahya sebagai opsi yang bisa dibicarakan bersama. Jadi, narasi "rebutan" lebih terdengar seperti umpan untuk mengalihkan perhatian.

Pertanyaan mendasarnya tetap: mengapa Rais Aam dan kelompoknya begitu terburu-buru dan ngotot, hingga rela menabrak konstitusi organisasi sendiri? Jawabannya mungkin terletak pada desakan waktu akibat sebuah "janji". Bukan janji biasa, melainkan indikasi kesepakatan "di bawah meja" dengan pihak tertentu, diduga salah satu operator tambang, yang harus dipenuhi sebelum segalanya menjadi transparan di hadapan Muktamar. Inilah yang menjelaskan mengapa mereka memilih jalan pintas yang penuh syubhat, mengabaikan seruan para kiai sepuh Mustasyar untuk penyelesaian yang elegan dan bermartabat.

Karena itu, suara ini kami angkat bukan sebagai bentuk su'ul adab, tetapi sebagai bentuk tanggung jawab untuk menjaga marwah dan kedaulatan jamiyah kita dari kepentingan serakah para "kelelawar" yang bersarang di tubuh PBNU. Kebenaran harus disuarakan, dan NU harus kembali ke khittahnya: menyelesaikan persoalan dengan cara yang konstitusional, melalui Muktamar, bukan dengan pemakzulan sepihak yang justru menimbulkan kemudaratan lebih besar.

Dengan demikian, konsekuensi logis dan jalan resolusi satu-satunya yang tersisa adalah seperti desakan keras yang mengalir dari daerah: "Islah atau Mundur!". Tekanan ini bukan gertakan, melainkan peringatan keras dari ulama sepuh dan suara hati mayoritas pengurus di semua tingkatan yang tetap berpegang teguh pada AD/ART. Pilihan tegas ini diperlukan untuk menghentikan manuver politik yang merusak, menyelamatkan ukhuwah dari retaknya kepercayaan, dan menjaga kewibawaan NU agar tidak luntur. Hanya dengan sikap legawa untuk duduk dalam islah hakiki atau mundur secara terhormat, kecintaan pada jam'iyah dapat dibuktikan mengatasi ambisi sempit, sehingga NU tetap menjadi benteng bangsa yang kokoh.

Jumat, 05 Desember 2025

BANTAHAN ILMIAH ATAS TULISAN AHMAD FAKHRURROZI TENTANG KEABSAHAN NASAB BA’ALWI

**
Telaah Kritis Ushul Fikih, Historiografi, Filologi, dan Genetika Molekuler
https://www.walisongobangkit.com/bantahan-ilmiah-atas-tulisan-ahmad-fakhrurrozi-tentang-keabsahan-nasab-baalwi/
________________________________________
Abstrak
Tulisan Ahmad Fakhrurrozi berupaya meneguhkan klaim bahwa nasab Ba’alwi sebagai keturunan Nabi Muhammad ﷺ telah sah secara ijma’, didukung kaidah logika, dan ditegaskan oleh historiografi klasik. Artikel ini menyajikan telaah kritis dan bantahan ilmiah terhadap bangunan argumentasi tersebut dengan menggunakan empat pendekatan utama: (1) kerangka ushul fikih tentang ijma’ dan batas-batas penerapannya, (2) kajian historiografis dan filologis terhadap sumber-sumber yang mendukung nasab Ba’alwi, (3) bukti genetika molekuler melalui analisis Y-DNA haplogroup yang membedakan antara garis keturunan Ba’alwi dan garis keturunan Quraisy, serta (4) evaluasi epistemologis atas cara berargumentasi yang digunakan penulis.
Artikel ini menyimpulkan bahwa: (a) ijma’ tidak dapat dijadikan dalil qath‘i untuk menetapkan fakta genealogis; (b) konstruksi nasab Ba’alwi sangat bergantung pada sumber-sumber terlambat yang lemah secara filologis; (c) hasil penelitian genetika internasional menunjukkan bahwa keturunan Arab Quraisy berada pada haplogroup J1, sedangkan sampel Ba’alwi yang diuji berada pada haplogroup G, sehingga menafikan klaim sebagai dzurriyat Nabi ﷺ dari jalur ayah; dan (d) argumentasi yang dibangun di atas popularitas sosial, syuhrah, dan otoritas tradisional tanpa verifikasi empiris modern tidak memadai untuk mempertahankan klaim nasab dalam konteks ilmu pengetahuan kontemporer.
Kata kunci: Nasab Ba’alwi, ijma’, ushul fikih, historiografi, filologi, Y-DNA, haplogroup J1, haplogroup G.
________________________________________
1. Pendahuluan
Pembahasan mengenai nasab keturunan Nabi Muhammad ﷺ bukan hanya persoalan sosial dan kultural, tetapi juga menyangkut integritas ilmu, kejujuran historis, dan kehormatan syariat. Dalam konteks inilah, klaim nasab Klan Ba’alwi sebagai dzurriyat Rasulullah ﷺ perlu dikaji dengan standar ilmu yang ketat, tidak cukup hanya dengan tradisi, penghormatan sosial, atau otoritas turun-temurun.
Tulisan Ahmad Fakhrurrozi berjudul “Kekuatan Ijma’, Kaidah Logika, dan Validitas Nasab Ba’alwi” mencoba meneguhkan keabsahan nasab tersebut dengan mengandalkan konsep ijma’, otoritas ulama, dan syuhrah sosial (syuhrah wal istifadlah). Namun, ketika dikritisi dengan perangkat ilmu kontemporer yang meliputi ushul fikih, historiografi, filologi, dan genetika, tampak bahwa sejumlah asumsi dasar, perluasan makna ijma’, serta pengabaian bukti empiris modern tidak dapat dipertahankan secara akademis.
Artikel ini bertujuan:
1. Mengklarifikasi kedudukan ijma’ dalam ushul fikih dan batas penerapannya pada masalah nasab.
2. Mengkritisi landasan historiografis dan filologis nasab Ba’alwi.
3. Menyajikan data genetika Y-DNA haplogroup yang relevan dengan klaim keturunan Quraisy.
4. Mengevaluasi secara epistemologis argumen-argumen yang diajukan Ahmad Fakhrurrozi dalam perspektif ilmu pengetahuan modern.
Dengan demikian, pembahasan ini diharapkan dapat memberikan kontribusi pada diskursus ilmiah tentang legitimasi klaim nasab, khususnya terkait Klan Ba’alwi.
________________________________________
2. Ijma’ dalam Ushul Fikih: Ruang Lingkup dan Batas Penerapan
Penulis menjadikan ijma’ sebagai pilar utama pembelaan nasab Ba’alwi. Namun, secara ushuliy, perlu dibedakan antara:
1. Ijma’ sebagai dalil syar‘i atas hukum, dan
2. Fakta sejarah-empiris seperti nasab, kronologi peristiwa, dan data biologis.
Mayoritas ulama ushul fikih menjelaskan bahwa ijma’ adalah hujjah dalam penetapan hukum syar‘i, bukan dalam penentuan fakta-fakta empiris yang secara ontologis berada di luar wilayah taklifi.
Dalam konteks ini, beberapa poin penting dapat disorot:
1. Nasab sebagai persoalan itsbat (pembuktian)
Nasab ditegakkan melalui bayyinah: kesaksian, dokumen, dan sekarang termasuk bukti ilmiah seperti DNA. Ia bukan “hukum syariat” dalam arti halal–haram, tetapi “fakta yang menimbulkan konsekuensi hukum”.
2. Ijma’ tidak mengubah hakikat biologis
Sekalipun ulama sepakat menyebut seseorang sebagai keturunan Fulan, kesepakatan itu tidak mengubah realitas biologis jika kemudian ditemukan bukti genetik yang tegas menunjukkan sebaliknya. Kesepakatan tradisional memiliki nilai sosial, bukan nilai biologis.
3. Ijma’ dan wilayah tafshili (rinci)
Dalam ushul, persoalan yang membutuhkan verifikasi teknis-emperis detail (seperti penetapan awal bulan dengan hisab dan rukyat) sangat mungkin mengalami koreksi oleh perkembangan ilmu. Demikian pula penetapan nasab dapat dan bahkan seharusnya dikaji ulang bila ditemukan bukti ilmiah kuat.
Dengan demikian, penggunaan ijma’ sebagai senjata utama untuk “mengunci” diskusi nasab Ba’alwi dan menuduh penolak sebagai pelanggar ijma’ merupakan penggunaan konsep ijma’ yang melampaui batas wilayahnya.
________________________________________
3. Historiografi dan Filologi Silsilah Ba’alwi
Penulis menegaskan bahwa nasab Ba’alwi telah diterima tanpa penolakan mu‘tabar selama lebih dari 800 tahun. Klaim ini perlu diletakkan di bawah sorotan historiografi kritis dan filologi naskah.
3.1. Keterlambatan Munculnya Sumber Tertulis
Salah satu problem utama dalam kajian nasab Ba’alwi adalah:
• Sumber-sumber yang menyebut secara rinci silsilah Ba’alwi – khususnya yang menghubungkan tokoh-tokoh seperti Alawi bin Ubaydillah bin Ahmad kepada jalur keturunan Nabi ﷺ – muncul berabad-abad setelah periode yang diklaim.
• Tokoh-tokoh yang disebut hidup pada abad 3–4 H, sedangkan teks genealogis terperinci baru muncul sekitar abad 8–9 H dan seterusnya.
Dalam metodologi sejarah, jarak waktu yang panjang tanpa dokumentasi primer disebut “kesenjangan historis” (historical gap). Kesenjangan ini melemahkan klaim yang sangat spesifik, apalagi bila berkaitan dengan nasab yang dikaitkan dengan figur suci.
3.2. Ketiadaan Dukungan dari Sumber Quraisy Awal
Silsilah keturunan Nabi ﷺ melalui Sayyidina Hasan dan Sayyidina Husain telah lama menjadi perhatian ulama Ahlul Bait, ahli nasab, dan para sejarawan. Silsilah ini banyak ditemukan dalam karya-karya klasik tentang keturunan Quraisy dan Ahlul Bait. Namun, tidak ditemukan secara jelas dalam sumber-sumber tersebut sosok-sosok kunci dalam rantai genealogis Ba’alwi sebagaimana diklaim belakangan.
Analisis filologis yang dilakukan oleh para akademisi—termasuk di Indonesia, seperti Prof. Dr. Manachem Ali—menunjukkan bahwa ketidakhadiran satu nama dalam jaringan sumber primer merupakan indikasi keterlambatan konstruksi narasi nasab tersebut.
3.3. Syuhrah wal Istifadhoh dan Keterbatasannya
Konsep syuhrah wal istifadhoh yang digunakan penulis sebagai dasar penerimaan nasab harus ditempatkan secara proporsional:
• Syuhrah dapat menjadi indikator sosial sebuah klaim yang tersebar luas.
• Namun syuhrah bukan bukti faktual yang bersifat empiris dan biologis.
Dalam ilmu sejarah modern, klaim yang hanya bertumpu pada ketenaran tanpa dukungan dokumen sezaman dan bukti objektif, dianggap lemah dan berada pada wilayah tradisi lisan yang rentan konstruksi ulang.
________________________________________
4. Genetika Y-DNA: Haplogroup Quraisy dan Haplogroup Ba’alwi
Perkembangan genetika molekuler membuka babak baru dalam studi genealogis, khususnya untuk garis keturunan patrilineal (jalur ayah). Kromosom Y diwariskan relatif stabil dari ayah ke anak laki-laki, sehingga dapat dipakai sebagai penanda garis keturunan jangka panjang.
4.1. Haplogroup J1 dan Keturunan Quraisy
Berbagai penelitian genetika populasi di Timur Tengah menunjukkan bahwa:
• Populasi asli Arab, terutama di Jazirah Arab dan kelompok yang secara historis dihubungkan dengan suku Quraisy, secara dominan berada pada haplogroup J1 (J-M267).
• Studi-studi yang dipimpin oleh peneliti seperti Michael F. Hammer, Spencer Wells, Almut Nebel, Chiara Batini, dan lainnya telah berulang kali menguatkan posisi haplogroup J1 sebagai marker penting populasi Arab Semitik.
Walaupun sains tidak dapat menunjuk individu tertentu sebagai Nabi, konsensus penelitian menunjukkan bahwa garis ayah keluarga Arab Quraisy berada dalam spektrum haplogroup J1, bukan haplogroup lain yang jauh dari klaster tersebut.
4.2. Haplogroup G pada Klan Ba’alwi
Penelitian Y-DNA terhadap sampel keturunan yang mengidentifikasi diri sebagai klan Ba’alw dari berbagai negara (termasuk Yaman dan Indonesia) menunjukkan:
• Mayoritas sampel Ba’alwi yang diuji justru berada pada haplogroup G (G-M201 dan turunannya).
• Haplogroup G secara global tersebar pada populasi Kaukasus, Anatolia, sebagian Timur Tengah dan Eropa, dan bukan marker khas suku-suku Arab Quraisy yang diteliti.
Temuan ini juga dikonfirmasi dan disosialisasikan oleh peneliti-peneliti genetika di Indonesia, seperti Dr. Sugeng Sugiarto, yang menegaskan bahwa klaim keturunan Nabi dari jalur ayah mensyaratkan konsistensi haplogroup dengan klaster J1, bukan G.
4.3. Implikasi Ilmiah
Secara biologis, apabila:
• Keturunan Quraisy berada pada haplogroup J1, dan
• Klan Ba’alwi berada pada haplogroup G,
maka secara genetika mereka tidak berada dalam satu garis ayah. Dengan demikian, klaim bahwa Ba’alwi adalah dzurriyat Nabi ﷺ melalui jalur laki-laki tidak dapat dipertahankan dari sudut pandang genetika modern.
Penting dicatat: temuan genetika ini tidak menilai pribadi maupun akhlak, tetapi semata-mata menjelaskan bahwa klaim nasab biologis tidak sesuai dengan bukti ilmiah.
________________________________________
5. Evaluasi Epistemologis atas Argumentasi Ahmad Fakhrurrozi
Tulisan Ahmad Fakhrurrozi membangun legitimasi nasab Ba’alwi melalui beberapa strategi wacana:
1. Penguatan otoritas ijma’ dan ulama klasik.
2. Penggunaan syuhrah sosial dan kesepakatan sejarah.
3. Stigmatisasi terhadap penolak sebagai pelanggar ijma’ dan pelaku dosa besar.
Dari sudut pandang epistemologi dan logika ilmiah, terdapat beberapa problem:
5.1. Argumentum ad Antiquitatem dan ad Populum
Mengatakan bahwa:
• “Nasab ini telah diterima 800 tahun” atau
• “Para ulama telah sepakat sepanjang sejarah,”
tidak serta merta menjadikan klaim tersebut benar secara biologis. Ini termasuk kategori argumentum ad antiquitatem (sesuatu dianggap benar karena tua) dan argumentum ad populum (sesuatu dianggap benar karena banyak yang mempercayai).
Ilmu pengetahuan modern menempatkan data di atas tradisi kepercayaan. Tradisi yang mapan pun dapat dikoreksi jika ditemukan bukti baru yang lebih kuat dan objektif.
5.2. Mengabaikan Data Empiris Modern
Penolakan atau pengabaian terhadap:
• Temuan genetika Y-DNA,
• Ketidakcocokan haplogroup, serta
• Keterbatasan sumber primer historis,
menunjukkan adanya ketegangan antara pendekatan tradisional dan pendekatan ilmiah modern. Di dalam ilmu, pendekatan yang menolak untuk diuji oleh data baru akan kehilangan otoritas akademis.
5.3. Penggunaan Ijma’ sebagai “Tameng”
Menjadikan ijma’ sebagai instrumen untuk mematikan diskusi nasab dan melabel penolak sebagai pelanggar dosa besar berpotensi menjadikan konsep ijma’ sebagai instrumen retoris, bukan lagi konsep ilmiah-usuli yang proporsional. Padahal, dalam tradisi ushul sendiri, terdapat perbedaan tingkat kejelasan dan kehujjahan bentuk-bentuk ijma’ (sharih, sukuti, dll.), dan ulama ushul tidak sepakat untuk menjadikan semua bentuk ijma’ sebagai dalil qath‘i pada seluruh ranah persoalan, terlebih lagi pada ranah fakta empiris.
________________________________________
6. Kesimpulan
Berdasarkan uraian di atas, secara ilmiah dan akademis dapat disimpulkan bahwa:
1. Secara ushul fikih, ijma’ adalah dalil dalam penetapan hukum syar‘i, bukan instrumen pasti untuk menetapkan fakta genealogis yang bersifat empiris dan biologis. Penggunaan ijma’ untuk “mengunci” klaim nasab Ba’alwi melampaui batas wilayah konsep ijma’ itu sendiri.
2. Secara historiografis dan filologis, konstruksi nasab Ba’alwi bergantung pada sumber-sumber yang muncul jauh setelah periode yang diklaim, tanpa dukungan memadai dari manuskrip primer dan kitab-kitab nasab Quraisy awal. Kesenjangan historis ini melemahkan klaim kepastian nasab.
3. Secara genetika molekuler, penelitian Y-DNA menunjukkan bahwa garis ayah populasi Arab Quraisy berada pada haplogroup J1, sedangkan sampel Ba’alwi yang diuji justru menunjukkan haplogroup G. Dengan demikian, klaim bahwa Ba’alwi adalah dzurriyat Nabi Muhammad ﷺ melalui jalur patrilineal tidak sesuai dengan data genetika.
4. Secara epistemologis, argumentasi yang mengandalkan otoritas, popularitas, dan ancaman teologis kepada penolak, tanpa bersedia menguji klaim terhadap temuan-temuan ilmiah modern, tidak dapat dipertahankan dalam standar akademis kontemporer.
Atas dasar keempat bidang kajian tersebut—ushul fikih, historiografi, filologi, dan genetika—dapat dinyatakan bahwa klaim keabsahan nasab Ba’alwi sebagai dzurriyat Nabi Muhammad ﷺ tidak terbukti secara ilmiah dan tidak layak ditetapkan sebagai kebenaran qath‘i, terutama ketika ilmu pengetahuan modern telah memberikan perangkat verifikasi yang jauh lebih presisi dari sekadar syuhrah dan tradisi lisan.
________________________________________
Daftar Pustaka (Pilihan)
(Silakan Anda sesuaikan lagi format dan kelengkapannya jika ingin dijadikan makalah resmi)
• Batini, C. et al. “Insights into the Middle Eastern Y-chromosome pool.” Genome Biology.
• Hammer, M. F. et al. “Y chromosome genetic variation and the history of human populations in the Middle East.” American Journal of Human Genetics.
• Nebel, A. et al. “The Y Chromosome Pool of Jews as Part of the Genetic Landscape of the Middle East.” American Journal of Human Genetics.
• Wells, S. The Journey of Man: A Genetic Odyssey. National Geographic, 2002.
• Alshamali, F. et al. “Local population structure in Arabian Peninsula revealed by Y-STR diversity.” Journal of Human Genetics.
• Az-Zuhaili, Wahbah. Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu. Damaskus.
• Al-Ghazali, Abu Hamid. Al-Mustashfa fi ‘Ilm al-Ushul.
• Asy-Syathibi, Ibrahim bin Musa. Al-Muwafaqat fi Ushul al-Syari‘ah.
• Manachem Ali, M. (berbagai tulisan tentang filologi naskah Arab dan sejarah Islam Nusantara).
• Sugeng Sugiarto, S. (kajian genetika dan haplogroup Y-DNA dalam konteks genealogi keturunan Arab dan Nusantara).
• Walisongobangkit.com – Kumpulan artikel kritik historis dan analisis terhadap klaim nasab Ba’alwi dan peranannya dalam historiografi Indonesia.

Senin, 01 Desember 2025

EMPAT NALAR KE-NU-AN TERKAIT NASAB

** Dari Duriyah PCNU KAB. Pekalongan

*(Sebuah Kritik ke-NU-an Terhadap Struktural NU & Kyai Muhibbin)*

*NALAR 1: HUBUNGAN KEORGANISASIAN NU-RA*
Banyak warga NU yang kurang memahami sejarah berdirinya NU dan peristiwa-peritiwa yang menyertai dan melatarbelakanginya, termasuk struktural NU. Beberapa fakta yang menunjukkan ulama NU dan habaib merupakan dua (2) entitas yang berbeda.
1. NU berdiri tahun *1926* dan Robithoh Alawiyah (RA) berdiri tahun *1928* (memilih bergabung dengan NU).
2. NU didirikan untuk memberikan wadah organisasi kaum tradisionalis yang tidak sejalan dengan organisasi lainnya. (Muhammadiyah, Serikat Islam).
3. RA didirikan *karena ekseklusifme habaib*. Dibuktikan habaib juga tidak dapat hidup bersama dengan sesama imigran Yaman yang tergabung dalam Al-Irsyad juga tidak bersedia bergabung dengan NU.
4. NU *mengakomodir Thoriqoh* yang merupakan salah satu maskot kaum tradisionalis. Thoriqoh menjadi simpul tradisi dan filosofi NU. Namun tradisi ini oleh Habib Usman *difatwakan sebagai ajaran sesat*. Ini tertulis dalam buku Manhaj al-Istiqomah karya Habib Usman bin Yahya. Bahkan  Habib Usman bin Yahya mengusulkan kepada Belanda melalui Snouck Hourgonje agar fatwa tersebut diterapkan di negara jajahan Belanda lainnya. Mengingat jamaah thoriqoh dan pesantren sering menjadi simpul perjuangan.

*NALAR 2 : PEMBATALAN NASAB HABAIB OLEH KH HASYIM ASY’ARI DAN 24 ULAMA*
Nasab habaib pernah dibatalkan oleh KH Hasyim Asy’ari sebagaimana terekam pada majalah at-Tobib, edisi ke 15 bulan September 1932. Pembatalan ini, bukanlah lahir dari kehampaan, apalagi kesia-siaan. Namun sebaliknya, *merupakan salah satu perjuangan KH Hasyim Asy’ari*. Tampaknya akibat terdesak oleh waktu sehingga beliau hanya mampu melibatkan  24 ulama saja. 
Dengan adanya fatwa awal ini, bagi struktural NU maupun Kyai NU apabila benar-benar mengikuti Kyai Hasyim Asy’ari, *jika hendak berbeda atau menyelisihi fatwa KH Hasyim Asy’ari*, haruslah diawali dengan bahtsul masail apabila *kehendak lembaga*, atau secara personal memberikan istidlal dan hujjah sebagai antitesis untuk *menggugurkan atau disandingkan dengan fatwa KH Hasyim Asy’ari.*
Mari kita lihat fakta dan kronologi yang melatar belakangi munculnya fatwa tersebut :

1. Habaib mengajukan pada Belanda melalui RA pada tahun 1929 agar gelar sayyid di khususkan kepada Ba’alwi
2. Tahun 1932, Habaib *mendesak Belanda* kesekian kalinya, agar Belanda segera mengeluarkan aturan tersebut. Ini merupakan permohonan ke tiga. Demi mendorong permintaan itu, Habib Usman Bin Yahya juga melayangkan surat kepada Snouck Hourgonje. (permohonan ke 4)
3. *September Tahun 1932* KH. Hasyim Asy’ari bersama 24 ulama mengeluarkan fatwa *”Penggunaan gelar Sayyid, Syarif dan Syarifah hanya diperuntukkan bagi dzuriyah Nabi*" sebagai bentuk penolakan pengajuan Ba’alwi. Maka  Belanda pada *Pebruari 1933* mengambil sikap atas desakan Habaib tersebut dengan menolak permintaan Habaib dengan alasan urusan agama bukan domain Belanda. Tampaknya Belanda sangat memperhatikan fatwa KH. Hasyim Asy’ari tersebut. Dan akibat penolakan tersebut, Ba’alwi pun akhirnya tetap menggunakan gelar habib hingga sekarang.
4. Kyai Hasyim Asy'ari tentunya mengetahui banyak ulama di Indonesia yang merupakan Sayyid-Syarif. Sebaliknya, konon banyak Dzuriyah Walisongo (baca; dzuriyah nabi) malah menyembunyikan identitas dan nasabnya.

*NALAR 3 : KEMBALILAH KE KHITTOH NU*
NU harus berani kembali kepada fitrah ke-Ulama-annya. Yaitu menjadi wadah ahli-ilmu yang mengakomodir dan membentengi ilmu, keyakinan dan amalan warga NU. Menjadi penerang warga NU. Jikapun menerangi warga non NU, itu adalah sebuah implikasi dan bonus. Melek terhadap kebutuhan warga NU dan menjauhkannya dari segala bentuk pembodohan atas nama agama dan atas nama NU. 
1. Berani mengkaji nasab atas dasar keharusan ilmu dan kebenaran.
2. Berani mengkaji khurofat klan Habaib Ba'alwi, mengkaji dengan serius ajaran-ajaran khurofat yang di ajarkan klan Habaib Ba'alwi kepada warga NU demi melindungi warga NU dari ketersesatan ajaran dan aqidah Islam yang diamanatkan oleh K.H. Hasyim Asyari kepada NU. 
3. Bahwa pada dasarnya NU adalah sebuah paguyuban, dan struktural itu bukan otoritas dan penafsir tunggal. Maka NU harus berani menghormati kajian yang telah banyak dilakukan ilmuwan NU (jika NU kesulitan mengakui keulamaan generasi muda seperti kealiman Kiai Imad, Kiai Nur Ihya’, KH. Gholob, Gus Azis Jazuli, Gus Hasan dll) yang nyata-nyata ke-NU-annya tidak perlu dipertanyakan daripada habaib yang nyata-nyata memiliki ormas tersendiri dan terus menggerogoti NU.
4. NU harus menerima kenyataan dan memiliki marwah terhadap ke-NU-an, bahwa penggiringan visi kiblat dari kebijakan lokal (Syaikh Abdul Qodir, Walisongo-Ulama) ke Tarim (Faqih Muqoddam, umroh, karomah-karomah khurofat palsu) itu ada pendeskreditan kepada ulama oleh habaib itu nyata. Penyelewengan itu nyata dan itu harus disikapi. Penggerusan ajaran NU (ulama-ilmu-tasawuf) kepada ajaran fanatisme itu sedang terjadi, dst... dst...
5. Siap melakukan otokritik baik pada Lembaga NU, Generasi NU maupun Peradaban NU.

*NALAR 4: BAPAK IDEOLOGI NU ADALAH WALISONGO BUKAN HABIB BA'ALWI*
NU harus tegak lurus dan total Bapak Ideologinya, yaitu Walisongo. Artinya bahwa *NU memang didirikan untuk meneruskan ajaran Ahlus Sunnah Wal Jamaah yang dibawa oleh Walisongo.*

Logo bintang sembilan yang ada dalam logo NU adalah menyimbolkan tentang jumlah Walisongo yang diikuti, diperjuangkan dan diteruskan ajarannya oleh NU, bukan menyimbolkan jumlah Habaib Ba'alwi. Karena itulah, siapapun yang mengaku NU SEJATI dan KEMBALI KE KHITTOH NU harus berani:
1. *Menempatkan Walisongo benar-benar sebagai BAPAK IDELOGI-nya tanpa tawar sama sekali.* Bahwa ajaran Islam Ahlus Sunnah Wal Jamaah yang diusung NU adalah melanjutkan dan meneruskan ajaran Islam Ahlus Sunnah Wal Jamaah yang dibawa Walisongo.
2. Membela marwah Walisongo dan dzurriyyahnya dari segala bentuk hal yang mendeskreditkan, mengucilkan dan menghilangkan peran Walisongo dalam panggung sejarah Islam Nusantara, terutama oleh kaum Habaib Ba'alwi Imigran Yaman, yang kedatangannya di Nusantara telah terbukti dibawa oleh Penjajah Belanda.
3. Terus mendekat ke Dzurriyyah Walisongo untuk menjemput berkah dan keridhoan dari Walisongo, dan semakin menjauh dari klan Habaib Ba'alwi yang terbukti semakin merongrong NU dari dalam.
4. Tegas dan terang-terangan, menyatakan bahwa *Walisongo adalah Gurunya NU bukan Habaib Ba'alwi Gurunya NU.*
5. *Kembali ke Khittoh NU berarti kembali ke ajaran Walisongo.*

Kamis, 27 November 2025

MEMAKAI GELAR SAYYID, SYARIF DAN HABIB HARUS PUNYA SERTIFIKAT *Y DNA* BUKAN ZAMAN LAGI HUSNUDZON

*Gelar Keturunan Nabi: Saatnya Bicara Pakai Data, Bukan Dongeng*
Di Indonesia, gelar sayyid, syarif, habib, atau klaim “keturunan Nabi Muhammad SAW” masih jadi komoditas sosial. Digunakan di spanduk, ditulis di kartu nama, dicantumkan di kanal dakwah media sosial, bahkan disebarluaskan sebagai identitas istimewa. Masalahnya: klaim seperti itu tidak pernah diverifikasi secara ilmiah.
Era berubah. Zaman lisan dan dongeng sudah selesai.
Kini ada teknologi yang tidak bisa disuap, tidak bisa dimanipulasi, dan tidak bisa dibohongi: tes Y-DNA.
Dan di titik inilah pembicaraan perlu diarahkan dengan jernih dan tegas.
________________________________________
*1. Siapa pun yang mengaku keturunan Nabi SAW wajib memiliki sertifikat Y-DNA*
Klaim garis ayah (patrilineal descent) hanya bisa dibuktikan dengan tes Y-DNA, karena garis laki-laki diturunkan melalui kromosom Y.
Di seluruh dunia—Maroko, Yaman, Syiria, Mesir, Irak—para peneliti genetik dan genealog memperlakukan klaim “keturunan Nabi” dengan satu standar:
Tidak ada bukti tanpa data. Tidak ada data tanpa tes Y-DNA.
Mengaku keturunan Nabi tanpa bukti Y-DNA sama saja dengan mengaku dokter tanpa ijazah, atau insinyur tanpa sertifikasi. Yang berbicara hanya klaim, bukan kenyataan.
________________________________________
*2. Mau imigran Yaman, mau ngaku keturunan Walisongo: semua yang memakai gelar sayyid atau syarif wajib tes Y-DNA*
Sederhana.
Kalau seseorang memakai identitas “saya dari dzurriyat Nabi”, maka ia sudah memasuki wilayah publik, bukan urusan pribadi.
Karena itu ia wajib tunduk pada standar pembuktian publik.
Baik:
• rombongan imigran Yaman,
• keluarga penyebar Islam dulu,
• orang yang mengaku keturunan Walisongo,
• atau kelompok mana pun yang memakai gelar sayyid, syarif, habib, al-'aidrus, al-jufri, al-haddad, al-attas, dan seterusnya.
Kalau memakai gelar, harus siap diverifikasi.
Di Amerika, Eropa, Timur Tengah—siapa pun yang mengaku keturunan tokoh sejarah wajib melewati verifikasi genetika.
Indonesia tidak boleh terus tertinggal hanya karena budaya sungkan.
________________________________________
*3. Jika belum tes Y-DNA, sebaiknya jangan pakai gelar. Sudah: diam saja.*
Bukan kasar. Ini standar etika publik.
Kalau klaim belum terbukti, maka diam adalah kehormatan.
Menggunakan gelar tanpa verifikasi Y-DNA sama saja menipu diri sendiri dan menyesatkan masyarakat. Gelar itu tidak sakral tanpa bukti.
Dalam dunia modern:
Klaim luar biasa membutuhkan bukti luar biasa.
Kalau belum punya buktinya, jangan dipakai, jangan diumumkan, jangan mengaku-aku.
Diam lebih terhormat daripada klaim kosong.
________________________________________
*4. Mempublikasikan gelar keturunan Nabi sebenarnya tidak elok*
Secara etika Islam, keturunan Nabi seharusnya merahasiakan kehormatan itu, bukan memamerkannya. Mengapa?
Karena:
• kedudukan itu membawa beban moral,
• tanggung jawab,
• standar akhlak yang tinggi,
• tuntutan zaidah (lebih berat dari orang biasa).
Ulul Albab menulis:
“Jika engkau benar keturunan orang mulia, maka kemuliaan itu menuntutmu untuk semakin rendah hati.”
Dalam sejarah, keturunan Nabi sering menyembunyikan nasabnya demi menghindari riya’ dan kultus.
Yang memamerkan gelar biasanya justru yang tidak punya kualitas moral untuk menanggungnya.
________________________________________
*5. Tidak perlu percaya siapa pun sebelum ada sertifikat Y-DNA*
Ini langkah sederhana yang harus jadi budaya baru:
• Jangan percaya hanya karena seseorang memakai jubah.
• Jangan percaya hanya karena seseorang berbicara lembut.
• Jangan percaya hanya karena nama belakangnya “al-XXXX”.
• Jangan percaya hanya karena ia diundang ceramah.
Percaya itu mengikuti data, bukan mengikuti penampilan.
Jika klaim mereka benar, harusnya mereka tidak takut tes Y-DNA.
Menolak tes berarti menolak bukti.
Dan menolak bukti berarti meragukan klaimnya sendiri.
________________________________________
*6. Keturunan Nabi SAW harusnya memiliki Haplogroup J — selain itu mustahil*
Ini konsensus genetika internasional:
✔ Keturunan Nabi Muhammad SAW secara patrilineal → Haplogroup J (terutama J1 & subclades-nya).
❌ Selain Haplogroup J → bukan keturunan Nabi SAW secara garis laki-laki.
Ini bukan teori.
Ini data.
Lembaga-lembaga genetika Timur Tengah—Yemen Genealogy Center, Saudi Genetic Project, Qatar DNA Project—mengonfirmasi bahwa keturunan Arab Quraisy berada pada Haplogroup J.
Kalau seseorang mengaku keturunan Nabi tapi hasilnya:
• G
• L
• R
• Q
• T
• C
• O
• H
• atau lainnya
maka 99,999% bukan dari garis Nabi.
Tidak perlu debat panjang. Biologi tidak bisa dibohongi.
________________________________________
*Era Baru Kejujuran Nasab*
Zaman berubah.
Indonesia harus bergerak dari klaim ke verifikasi, dari dongeng ke data, dari gelar ke etika.
• Keturunan Nabi bukan identitas politik.
• Bukan dagangan kehormatan.
• Dan bukan alat untuk menakut-nakuti umat.
Jika benar keturunan, buktikan dengan Y-DNA.
Jika belum, diamlah dengan rendah hati.
Dan jika hasilnya bukan… ya terima dengan lapang dada.
Kesalehan tidak ditentukan oleh nasab—tetapi oleh taqwa.
Selebihnya, biarlah data berbicara.

Senin, 24 November 2025

MEMAHAMI MAKNA LINGGA YONI (ALU LUMPANG) ** Jangan berfikir saru dulu** baca dulu

LINGGA YONI ALU LUMPANG : KODE SEMESTA YG KITA KITA LUPAKAN 
Pernah gak kamu mikir…
kenapa di situs-situs Jawa Kuno selalu ada simbol lingga–yoni? 🤔
Apa iya leluhur kita cuma iseng bikin “lambang biologis”?
Atau selama ini kita yg buta baca kode semesta? 🌌
Jujur aja kadang kita heran...
kok generasi sekarang malah malu lihat simbol yg leluhur pakai untuk menggambarkan rahasia terbesar penciptaan.
Padahal kalo kalian  gali lebih dalam…
di balik bentuk yg seperti itu, tersimpan ilmu keseimbangan yg sudah ribuan tahun jadi fondasi peradaban kita. 🔥
(Lingga–Yoni itu BUKAN sekedar simbol kelamin.) 
Lingga Yoni = Lingga  energi tegak, sadar, fokus, “nglurus, ini daya maskulin semesta”
Yoni = energi wadah, melingkupi, menghidupkan, “nguripi”, ini  daya feminin semesta. 🌙

Dua energi ini tidak bicara soal laki-perempuan.
Ini bicara dua daya kosmik yg selalu bekerja dlm semua hal:

ide (lingga) + ruang utk membuatnya tumbuh (yoni)

 keinginan (lingga) + penerimaan (yoni)

cahaya (lingga) + kegelapan yg menerangi  (yoni)
gerak (lingga) + diam (yoni)

Tanpa dua prinsip ini, tdk ada apa pun yg lahir. 🌱
Bahkan kesadaran manusia pun lahir karena kedua daya ini nyawiji.

Makanya leluhur kita menaruh simbol ini di pusat candi, pusat mandala, dan pusat laku spiritual.

Itu bukan pornografi.
Itu peta kosmos. 🌍
Masalahnya… generasi sekarang lebih dulu malu sebelum paham.
Yg bahaya itu bukan simbolnya.
Yg bahaya itu kebodohan kita membaca simbol.

Kita ribut soal bentuk,
padahal leluhur ribuan tahun lalu sibuk membahas energi penciptaan.

Kita sensor bentuknya,
padahal mereka memakainya utk menggambarkan penyatuan cakra kesadaran dgn rahim bumi.

Kita malah menjauh,
padahal mereka mendekat utk memahami asal-usul segala yg hidup. 🌾

Kita  mau tanya sedikit…

Kalo kalia lihat lingga–yoni, apa yg pertama muncul di pikiran anda ?** 🧐

Jujur aja.
Apakah pengetahuan?
Atau pikiran biologis?

Kita  tanya ini bukan buat nge-judge, tapi utk ngajak ngeliat:
selama ini siapa yg mengajari kita malu?
Tradisi leluhur… atau penafsiran modern yg miskin makna? 🌀
Di tanah Jawa, simbol ini adalah pengingat:

Hidup cuma bisa berjalan kalau dua energi itu selaras.** ⚖️
Terlalu lingga → keras, egois, ingin menang sendiri.
★ Terlalu yoni → pasif, tenggelam, kehilangan arah.

Tapi ketika keduanya nyawiji…
🌱 ide tumbuh
🔥 jiwa hidup
💫 kesadaran naik
✨ manusia jadi dewasa batin
Itu kenapa di Jawa disebut “ning jero” — masuk ke keseimbangan diri sendiri.

Lingga–yoni itu bukan masa lalu.
Itu peta supaya kita tdk hilang arah. 🧭

Sebelum Ken tutup, Ken mau ajak km introspeksi:
Apakah kita benar² modern…
atau justru makin jauh dari ilmu yg seharusnya jadi pondasi kita?** 💭
Semakin banyak kita ngomongin ilmu ini dgn jernih,
semakin hidup kembali warisan pengetahuan yg hampir hilang. 🌺
Lingga Yoni gambar Adam dan Hawa
Mugo migunani
Rahayu.

Minggu, 23 November 2025

SILSILAH DAN KEKERABATAN WALI SONGO

RISALAH WALISONGO, CARA MUDAH MEMAHAMI SILSILAH KEKERABATAN WALISONGO 

By Fakhrul Wujud Al Qudusi Al Hasani 



Walisongo Al Hasani
1. Sunan Giri
2. Sunan Gunungjati 1
3. Sunan Kudus 

Walisongo Al Husaini 
4. Sunan Ampel
5. Sunan Bonang
6. Sunan Drajat 
7. Sunan Kalijaga 
8. Sunan Muria 
9. Sunan Gunungjati 2


SILSILAH MULIA SYEKH JUMADIL KUBRO AL HUSAINI
======================

Sayyiduna Rasulullah Saw 
1. Sayyidah Fathimah Az-Zahra 
2. Sy. Husain As Syahid
3. Sy. Ali Zainal Abidin 
4. Sy. Muhammad Al Baqir
5. Sy. Jakfar As Shodiq 
6. Sy. Musa Al Kadzim
7. Sy. Ali Ar Ridho 
8. Sy. Muhammad At Taqi
9. Sy. Ali An Naqi
10. Sy. Muhammad Al Askari Al Ba'aj
11. Sy. Ali Al Akbar 
12. Sy. Muhammad Al Hakim
13. Sy. Muhammad Al Husaini Kholwati
14. Sy. Ahmad Al Balaqi 
15. Sy. Muhammad Sya'ban 
16. Sy. Qosim
17. Sy. Imamuddin 
18. Sy. Syamsuddin Umar Al Bukhori 
19. Sy. Kamaluddin 
20. Sy. Ajall Syamsuddin Umar Al Bukhori 
21. Sy. Nashruddin 
22. Sy. Zainal Husain 
23. Sy. Jamaluddin Al Kabir Syekh Jumadil Kubro, mempunyai Saudara bernama Syekh Jali Jalaluddin Makam Dowo Tuban yang merupakan leluhur Sunan Kalijaga


PUTRA-PUTRI SYEKH JUMADIL KUBRO 
====================
Dari Istri Fathimah binti Abdul Hamid keturunan Rasulullah Saw dari Sayyidah Ruqoiyah berputra
1. Maulana Tajuddin Ahmad Al Kubro
2. Maulana Muhyiddin Muhammad Al Kubro
3. Siti Rakimah
4. Syekh Abu Ahmad Ishaq Imamul Pasai 
5. Syekh Abu Ali Ibrahim Asmoro (Ayah Sunan Ampel)

Dari Istri Fathimah Kawi binti Syekh Jakfar Siddiq Mekkah berputra 
6. Syekh Syamsuddin 
7. Syekh Syamsu Taberis Pangeran Muhammad Kebungsuan 
8. Syekh Arif 
9. Syekh Rosyid
10. Syekh Hasan Ali (Nurul Alam), Kakek Sunan Gunungjati 2
11. Syekh Hasan Besari
12. Syekh Ibrahim As'ari
13. Syekh Abdullah Anshori
14. Siti Zainab, menikah dengan Maulana Ishaq bin Junaid Al Hasani
15. Syekh Abdullah Asy'ari Sunan Bejagung
16. Syekh Mustahal
17. Syekh Kalkum
18. Syekh Subli
19. Syekh Alwi 
20. Syekh Hatim
21. Siti Khatimah 


SILSILAH MULIA SYEKH MAULANA ISHAQ AL HASANI
===============
Sayyiduna Rasulullah Saw 
1. Sayyidah Fathimah Az-Zahro'
2. Sy. Al-Hasan As-Sibthi
3. Sy. Al-Hasan Al-Mutsanna
4. Sy. Abdulloh Al-Kamil Al-Mahdhi
5. Sy. Musa Al-Jun
6. Sy. Abdulloh
7. Sy. Musa
8. Sy. Daud
9. Sy. Muhammad
10. Sy. Yahya Az-Zahid
11. Sy. Abdulloh
12. Sy. Abu Sholeh Musa Janji Daust
*13. Sy. Syaikh Abdul Qodir Al-Jailani*
14. Sy. Sholeh
15. Sy. Ahmad 
16. Sy. Abdul Aziz
17. Sy. Abdur Rozzaq
18. Sy. Abdul Jabbar
19. Sy. Syu'aib
20. Sy. Abdul Qodir
21. Sy. Junaid
22. Maulana Ishaq (Syarif Ibrahim Malaka).

ANAK-ANAK SYEKH MAULANA ISHAQ
=================
Maulana Ishaq bin Junaid Al Hasani menikah dengan Syarifah Zainab binti Jumadil Kubro berputra 
1. Syekh Ishaq Tamsyi Sutamaharaja (Ayah Sunan Gunungjati 1)
2. Sayyid Ya'qub Pangeran Wali Lanang (Ayah Sunan Giri)
3. Khalifah Husain Sunan Mertayasa (Kakek Sunan Kudus)
4. Syekh Maulana Muhammad Al Maghribi
5. Syekh Maulana Ahmad Al Gharibi 
6. Syekh Waliyul Islam Sunan Pandanaran Imamul Semarang 

5 ORANG BERNAMA MAULANA ISHAQ YANG SERING DIANGGAP SEBAGAI 1 TOKOH YANG SAMA
==================
1. Maulana Ishaq Syarif Ibrahim Malaka Al Hasani
Beliau yang dimaksud adalah Maulana Ishaq bin Junaid Al Hasani yang merupakan Kakek Sunam Giri. Beliau adalah menantu Syekh Jumadil Kubro karena menikah dengan Syarifah Zainab binti Jumadil Kubro. Beliau wafat di Malaka.

2. Maulana Ishaq Lamongan
Beliau yang dimaksud adalah Sayyid Ya'qub Pangeran Wali Lanang bin Maulana Ishaq Syarif Ibrahim Malaka. Beliau adalah ayah Sunan Giri yang pergi ke Blambangan untuk menyembuhkan Ratna Sabodi atau Dewi Sekardadu. Beliau dikejar pasukan Blambangan dan meminjam nama ayahnya yaitu Maulana Ishaq untuk mengelabuhi pasukan Blambangan, beliau wafat di Lamongan.

3. Maulana Ishaq Pasai
Beliau yang dimaksud adalah Syekh Abu Ahmad Ishaq Imamul Pasai bin Jumadil Kubro. Beliau menjadi Imam Pasai sampai akhir wafatnya dan wafat di Pasai

4. Maulana Ishaq Mertua Sunan Kalijaga 
Beliau yang dimaksud adalah Syekh Ishaq Tamsyi Sutamaharaja bin Maulana Ishaq Syarif Ibrahim Malaka. Beliau mempunyai 2 anak yaitu Sayyid Zen Abdul Qodir Sunan Gunungjati 1 dan Syarifah Zainab Dewi Saroh yang menjadi istri Sunan Kalijaga.

5. Maulana Ishaq Leluhur Joko Tingkir 
Beliau yang dimaksud adalah Syekh Ishaq Pangeran Pethak Raden Badjul Putih bin Syamsu Taberis Pangeran Muhammad Kebungsuan bin Jumadil Kubro. Beliau adalah kakek buyut dari Joko Tingkir Sultan Hadiwijaya Pajang.
posting ulang by M. Nurul Huda, S.H.I

BAB I BANGSA NUSANTARA

1. Biografi Nusantara
Nusantara, menurut teori terletak di persimpangan tiga lempeng dunia, yang 
potensial menimbulkan tekanan sangat besar pada lapisan kulit bumi. Akibat 
lapisan kulit bumi Nusantara—pertemuan tiga lempeng dunia—tertekan ke atas, 
hasilnya membentuk hamparan-hamparan luas yang dikenal sebagai Paparan 
Benua Sunda dengan barisan gunung berapi dan pegunungan panjang yang 
pada masa purbakala disebut sebagai Swetadwipa atau Lemuria. Hamparan luas  Paparan Benua Sunda yang awalnya berupa dataran dangkal itu, pada Zaman 
Es ketika permukaan laut turun ratusan meter, terlihat mencuat ke permukaan. 
Oleh karena terletak di persimpangan tiga lempeng dunia, wilayah ini sering 
diguncang gempa bumi hebat dan letusan gunung berapi yang dahsyat.

Pada zaman Glacial Wurm atau Zaman Es akhir, yang berlangsung sekitar 
500.000 tahun silam, es di Kutub Utara dan Kutub Selatan mencair sehingga 
air laut naik dan menimbulkan gelombang setinggi satu mil. Akibat naiknya air 
laut yang menggelombang hingga setinggi satu mil, hamparan Paparan Benua Sunda yang luas itu tenggelam ke dalam laut dan 
hanya dataran tinggi dan puncak-puncak vulkanis yang tersisa. Belakangan, sisa-sisa dataran yang tidak tenggelam tersebut dikenal sebagai Kepulauan 
Nusantara yang terdiri dari Paparan Sunda Besar dan Paparan Sunda Kecil, yang sambung-menyambung hingga Benua Australia. 
Menurut Peta yang dihasilkan Southeast Asia Research Group di London, Kepulauan Nusantara 
dulunya merupakan satu kesatuan dengan Benua Asia. Tetapi, daratannya yang rendah tenggelam ke dasar laut dan hanya gunung￾gunung vulkanik dan daerah dataran tinggi bergunung-gunung yang tersisa menjadi pulau-pulau. Menurut teori Prof. Arysio Nunes dos Santos—fi sikawan nuklir dan ahli geologi asal Brazilia— Kepulauan Nusantara dulu merupakan 
bagian sisa dari Benua Atlantis yang tenggelam akibat peristiwa banjir besar 
yang terjadi pada akhir Zaman Es. Peristiwa itu terekam dalam cerita-cerita 
purba di berbagai belahan dunia tentang terjadinya banjir besar yang melanda 
dunia, yang menenggelamkan seluruh dataran rendah dan menyisakan dataran 
tinggi dan gunung-gunung berapi sebagai pulau-pulau.

Dalam peta geografi modern, Nusantara terletak di persimpangan jalan 
antara Samudera Hindia dan Samudera Pasifi k, yang dalam jalur perdagangan 
tradisional menghubungkan Teluk Benggala dan Laut Cina. Kepulauan Nusantara membentang dari barat ke timur sejauh 5.000 km, dan dari utara ke selatan sejauh 2.000 km, yang karena luasnya wilayah sampai terbagi dalam tiga wilayah waktu. Wilayah yang luas itu dihuni oleh lebih dari 300 suku dengan subsuku￾subsuku, dengan berbagai varian dan derivat bahasanya. Oleh karena bagian terbesar wilayah Nusantara berupa laut, hubungan ekonomi dan kebudayaan 
penduduknya lebih sering terjalin dari satu pantai ke pantai lain daripada dari 
daerah pedalaman ke daerah pedalaman lain, yang terpisah oleh rintangan 
geografi s bergunung-gunung dan berhutan-hutan. 

Minggu, 16 November 2025

*TRAH WALISONGO HARUS MATI: MENGUAK OPERASI JAHAT KLANDESTIN HABIB BAALWI DI INDONESIA... SANGAT PENTING UNTUK DIBACA SAMPAI TUNTAS...!!!*



*TRAH WALISONGO PEWARIS NEGERI HARUS MATI: Bagi Klan Habib Ba'alwi, Trah Walisongo adalah Kompetitor Yang Harus Dieliminir, Malah Kalau Bisa 'Dimatikan'.*

Untuk membentuk keadaan psiko-sosial otoritas tunggal sosial-keagamaan berdasar nasab satu-satunya cucu Nabi, kompetitor harus dieliminir, kalau bisa 'dimatikan'. Siapa kompetitor itu? Trah Walisongo. Makanya kemudian dapat dipahami mengapa dan apa maksudnya dari perilaku Klan Habib Baalwi yang terlihat mati-matian ‘membunuh’ keberadaan Trah Walisongo di tengah masyarakat.

*Bagaimana Klan Habib Baalwi 'Membunuh' Keberadaan Trah Walisongo?*

*Pertama.* Walisongo dipropagandakan sebagai habib (padahal bukan) yaitu jalur Ubaid bin Ahmad bin Isa. Baik melalui kerja tulisan, lisan, dan arkeologi;

*Kedua.* Keturunan Walisongo digembar-gemborkan terputus karena bukan jalur laki-laki. Kalau pun ada, dari jalur Ibu, kalau jalur Ibu terputus. Aturan ‘garis lurus laki’ ini juga alat mengeliminir kompetitor.

*Ketiga.* Jika ada yang mengaku sebagai Trah Walisongo, ia diintimidasi, diteror dan dipersekusi: dipukuli, ditampar, ditendang, bahkan diinjak kepalanya. Ini untuk menciptakan ketakutan pada Trah Walisongo agar status atau identitas itu tidak muncul di tengah masyarakat. Di sisi lain, juga me-maintain keadaan persepsi di masyarakat bahwa satu-satunya cucu Nabi adalah Klan Habib Baalwi;

*Keempat.* Menciptakan persepsi di tengah masyarakat siapa saja yang mengaku Trah Walisongo—karena Walisongo adalah Habib—maka dia harus melewati verifikasi lembaga Rabithah Alawiyah (Alwiyah)/RA; karena RA lembaga yang memverifikasi habib. Jika tidak diakui RA maka dia bukan keturunan Walisongo. Di permukaan publik diciptakan persepsi dan keyakinan seperti itu, sementara ada mekanisme gelap di belakang layar yang tak diketahui publik Trah Walisongo ditolak, dinyatakan, terputus oleh (sistem) RA. Inilah posisi dan fungsi RA dipropagandakan ke masyarakat sebagai satu-satunya lembaga validasi nasab dzurriyah Rasul yaitu menjadi otoritas tunggal kenasaban dzurriyah Nabi guna mentiadakan kompetitor.

*Kelima.* Menciptakan struktur gelar keturunan Nabi yang tertinggi adalah habib. Sayyid-Syarif di bawah habib. Untuk diakui sebagai sayyid-syarif harus memperoleh pengakuan dari RA. Sedangkan sudah disetting keturunan Walisongo dinyatakan terputus dan tertolak oleh RA. Maka jadilah Sayyid-Syarif hanya dari jalur Klan Habib Baalwi. Dengan demikian gelar tertinggi dzurriyah Nabi yaitu habib hanya bisa dikenakan oleh Klan Habib Baalwi saja.

Melalui propaganda dan skema di atas masyarakat dibikin berpersepsi dan berkeyakinan bahwa satu-satunya cucu Nabi yang valid di Indonesia bahkan di Seluruh Dunia adalah Klan Habib Baalwi; tidak ada selain mereka.

*Penggunaan Senjata Satu-Satunya Cucu Nabi*

Dengan senjata dan jubah ‘Habib = [satu-satunya] Cucu Nabi’ Klan Habib Baalwi menundukkan psikologis dan mental pribumi melalui penyebaran doktrin-doktrin wajibnya cinta dan taat pada habib; jika tidak cinta dan percaya kepada habib  serta tidak taat kepada habib; maka kualat, dapat adzab, kafir, murtad, mati su’ul khotimah dan tidak mendapat syafaat Nabi. Model doktrinnya: Habib = Ahlul bait = Cucu Nabi = Rasulullah = Allah ; Habib = Allah.

Manusia awam mana yang tidak takluk dan tunduk jika dihadapkan dengan ancaman dan tekanan melawan Rasulullah dan Allah sedangkan yang mengeluarkan ancaman dan tekanan itu adalah ‘cucu Nabi’ itu sendiri? Yang berilmu saja goblok mendadak apalagi mereka yang awam.

Dengan mengenakan jubah cucu Nabi itu mereka dapat mengelimir hambatan dan penentangan ketika masyarakat menyaksikan kejahatan-kejahatan mereka. Hampir dapat dikatakan tidak ada interupsi yang berarti dari masyarakat karena masyarakat takut dan mengalami konflik batin. Maka melenggang lancarlah pem-Baalwisasi-an sejarah leluhur pribumi, pahlawan, sejarah NU-Muhammadiyah-Bangsa Indonesia, sejarah kemerdekaan, mengubah identitas dan silsilah makam-makam leluhur pribumi Nusantara, thariqoh yang tertinggi adalah thariqoh alawiyah, sanad thariqoh semuanya berpangkal pada thariqoh alawiyah, penyebaran doktrin sesat dan khurafat, dawir, persekusi, politisasi agama,  pengkonversian otoritas cucu Nabi ke berbagai bidang lain dan berbagai kategori data lainnya.

Salah satu yang paling menyakitkan dan melukai hati penulis secara mendalam adalah ke-Islam-an dan ilmu yang kami—pribumi—dapatkan katanya dari Klan Habib Baalwi  (sebagai Cucu Nabi) dan kita ditagih-tagih balas budi kepada mereka atas nama Cucu Nabi. Jadi, ‘Islam’ (dalam tanda kutip) ini agama yang nagih-nagih jasa dan ilmu ya? Manusia-manusia penerima kebaikan, keluhuran dan ilmu dari ‘Islam’ wajib jadi budak Klan Habib Baalwi? Jadi, orang diajak-ajak masuk Islam, setelah masuk Islam wajib menjadi budak Klan Habib Baalwi karena kalau tidak akan dikutuk Rasulullah dan Allah?

Begitu?

Meniru model penagihan Pak Taufik Assegaf dan Habib-habib lainnya: sejak kapan Syaikh Nawawi Al Bantani, Mbah Kholil Bangkalan, Mbah As’ad Samsul Arifin, Mbah Wahhab, dan Mbah-Mbah NU lainnya mengajarkan Islam untuk kemudian menagih-nagih lalu memperbudak?

Sejak kapan?

Coba yang jelas… biar kami—pribumi—yang bukan ‘Cyucyu Nabi’ ini mengerti sejatinya NU ini konsep implementasi Islamnya bagaimana. Ndak perlu sembunyi-sembunyi. Ayo yang jelas-jelas aja. Jangan ada tipu-menipu di antara kita.

*MARI SEBARKAN TULISAN INI KE SEMUA GROUP KITA, AGAR SEMUA SADAR DENGAN OPERASI JAHAT KLANDESTIN KLAN HABIB BAALWI INI...!!!*

Selasa, 30 September 2025

Refleksi 30 September 2025. Mengenang kejahatan PKI di Indonesia


*INILAH SEJARAH YANG TIDAK BOLEH DILUPAKAN OLEH KITA SEMUA*

*Tgl 31 Oktober 1948 :*
Muso dieksekusi di Desa Niten Kecamatan Sumorejo Kabupaten Ponorogo. Sedang MH. Lukman dan Nyoto pergi ke Pengasingan di Republik Rakyat China (RRC).

*Akhir November 1948 :*
Seluruh Pimpinan PKI Muso berhasil dibunuh atau ditangkap, dan Seluruh Daerah yang semula dikuasai PKI berhasil direbut, antara lain : 
1. Ponorogo, 
2. Magetan, 
3. Pacitan, 
4. Purwodadi, 
5. Cepu, 
6. Blora, 
7. Pati, 
8. Kudus, dan lainnya.

*Tgl 19 Desember 1948*
Agresi Militer Belanda kedua ke Yogyakarta.

*Tahun 1949 :* 
PKI tetap Tidak Dilarang, sehingga tahun 1949 dilakukan Rekontruksi PKI dan tetap tumbuh berkembang hingga tahun 1965.

*Awal Januari 1950 :*
Pemerintah RI dengan disaksikan puluhan ribu masyarakat yang datang dari berbagai daerah seperti Magetan, Madiun, Ngawi, Ponorogo dan Trenggalek, melakukan Pembongkaran 7 (Tujuh) Sumur Neraka PKI dan mengidentifikasi Para Korban. Di Sumur Neraka Soco I ditemukan 108 Kerangka Mayat yg 68 dikenali dan 40 tidak dikenali, sedang di Sumur Neraka Soco II ditemukan 21 Kerangka Mayat yang semuanya berhasil diidentifikasi. Para Korban berasal dari berbagai Kalangan Ulama dan Umara serta Tokoh Masyarakat.

*Tahun 1950 :* 
PKI memulai kembali kegiatan penerbitan Harian Rakyat dan Bintang Merah.

*Tgl 6 Agustus 1951 :*
Gerombolan Eteh dari PKI menyerbu Asrama Brimob di Tanjung Priok dan merampas semua Senjata Api yang ada.

*Tahun 1951 :*
Dipa Nusantara Aidit memimpin PKI sebagai Partai Nasionalis yang sepenuhnya mendukung Presiden Soekarno sehingga disukai Soekarno, lalu Lukman dan Nyoto pun kembali dari pengasingan untuk membantu DN Aidit membangun kembali PKI.

*Tahun 1955 :* 
PKI ikut Pemilu Pertama di Indonesia dan berhasil masuk empat Besar setelah MASYUMI, PNI dan NU.

*Tgl 8-11 September 1957 :* 
Kongres Alim Ulama Seluruh Indonesia di Palembang–Sumatera Selatan Mengharamkan Ideologi Komunis dan mendesak Presiden Soekarno untuk mengeluarkan Dekrit Pelarangan PKI dan semua Mantel organisasinya, tapi ditolak oleh Soekarno.

*Tahun 1958 :*
Kedekatan Soekarno dengan PKI mendorong Kelompok Anti PKI di Sumatera dan Sulawesi melakukan koreksi hingga melakukan Pemberontakan terhadap Soekarno. Saat itu MASYUMI dituduh terlibat, karena Masyumi merupakan MUSUH BESAR PKI.

*Tgl 15 Februari 1958 :*
Para pemberontak di Sumatera dan Sulawesi Mendeklarasikan Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI), namun Pemberontakan ini berhasil dikalahkan dan dipadamkan.

*Tanggal 11 Juli 1958 :*
DN Aidit dan Rewang mewakili PKI ikut Kongres Partai Persatuan Sosialis Jerman di Berlin.

*Bulan Agustus 1959 :*
TNI berusaha menggagalkan Kongres PKI, namun Kongres tersebut tetap berjalan karena ditangani sendiri oleh Presiden Soekarno.

*Tahun 1960 :* 
Soekarno meluncurkan Slogan NASAKOM (Nasional, Agama dan Komunis) yang didukung penuh oleh PNI, NU dan PKI. Dengan demikian PKI kembali terlembagakan sebagai bagian dari Pemerintahan RI.

*Tgl 17 Agustus 1960 :*
Atas desakan dan tekanan PKI terbit Keputusan Presiden RI No.200 Th.1960 tertanggal 17 Agustus 1960 tentang "PEMBUBARAN MASYUMI (Majelis Syura Muslimin Indonesia)" dengan dalih tuduhan keterlibatan Masyumi dalam Pemberotakan PRRI, padahal hanya karena ANTI NASAKOM.

*Medio Tahun 1960 :* Departemen Luar Negeri AS melaporkan bahwa PKI semakin kuat dengan keanggotaan mencapai 2 Juta orang.

*Bulan Maret 1962 :* 
PKI resmi masuk dalam Pemerintahan Soekarno, DN Aidit dan Nyoto diangkat oleh Soekarno sebagai Menteri Penasehat.

*Bulan April 1962 :*
Kongres PKI.

*Tahun 1963 :*
PKI Memprovokasi Presiden Soekarno untuk Konfrontasi dengan Malaysia, dan mengusulkan dibentuknya Angkatan Kelima yang terdiri dari BURUH dan TANI untuk dipersenjatai dengan dalih ”Mempersenjatai Rakyat untuk Bela Negara” melawan Malaysia.

*Tgl 10 Juli 1963 :* 
Atas desakan dan tekanan PKI terbit Keputusan Presiden RI No.139 th.1963 tertanggal 10 Juli 1963 tentang PEMBUBARAN GPII (Gerakan Pemuda Islam Indonesia), lagi-lagi hanya karena ANTI NASAKOM.

*Tahun 1963 :* 
Atas desakan dan tekanan PKI terjadi penangkapan Tokoh-Tokoh Masyumi dan GPII serta Ulama Anti PKI, antara lain : 
1. KH. Buya Hamka, 
2. KH. Yunan Helmi Nasution, 
3. KH. Isa Anshari,
4. KH. Mukhtar Ghazali, 
5. KH. EZ. Muttaqien, 
6. KH. Soleh Iskandar, 
7. KH. Ghazali Sahlan dan
8. KH. Dalari Umar.

*Bulan Desember 1964 :*
Chaerul Saleh Pimpinan Partai MURBA (Musyawarah Rakyat Banyak) yang didirikan oleh mantan Pimpinan PKI, Tan Malaka, menyatakan bahwa PKI sedang menyiapkan KUDETA.

*Tgl 6 Januari 1965 :*
Atas Desakan dan Tekanan PKI terbit Surat Keputusan Presiden RI No.1/KOTI/1965 tertanggal 6 Januari 1965 tentang PEMBEKUAN PARTAI MURBA, dengan dalih telah Memfitnah PKI.

*Tgl 13 Januari 1965 :* 
Dua Sayap PKI yaitu PR (Pemuda Rakyat) dan BTI (Barisan Tani Indonesia) Menyerang dan Menyiksa Peserta Training PII (Pelajar Islam Indonesia) di Desa Kanigoro Kecamatan Kras Kabupaten Kediri, sekaligus melecehkan Pelajar Wanitanya, dan juga merampas sejumlah Mushaf Al-Qur’an dan merobek serta menginjak-injaknya.

*Awal Tahun 1965 :*
PKI dengan 3 Juta Anggota menjadi Partai Komunis terkuat di luar Uni Soviet dan RRT. PKI memiliki banyak Ormas, antara lain : SOBSI (Serikat Organisasi Buruh Seluruh Indonesia), Pemuda Rakjat, Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia) BTI (Barisan Tani Indonesia), LEKRA (Lembaga Kebudayaan Rakjat) dan HSI (Himpunan Sardjana Indonesia).

*Tgl 14 Mei 1965 :* 
Tiga Sayap Organisasi PKI yaitu PR, BTI dan GERWANI merebut Perkebunan Negara di Bandar Betsi, Pematang Siantar, Sumatera Utara, dgn Menangkap dan Menyiksa serta Membunuh Pelda Soedjono penjaga PPN (Perusahaan Perkebunan Negara) Karet IX Bandar Betsi.

*Bulan Juli 1965 :* 
PKI menggelar Pelatihan Militer untuk 2000 anggota'y di Pangkalan Udara Halim dengan dalih ”Mempersenjatai Rakyat untuk Bela Negara”.

*Tgl 21 September 1965*:
Atas desakan dan tekanan PKI terbit Keputusan Presiden RI No.291 th.1965 tertanggal 21 September 1965 tentang PEMBUBARAN PARTAI MURBA, karena sangat memusuhi PKI.

*Tgl 30 September 1965 Pagi :* 
Ormas PKI Pemuda Rakyat dan Gerwani menggelar Demo Besar di Jakarta.

*Tgl 30 September 1965 Malam :* 
Terjadi Gerakan G30S/PKI atau disebut  GESTAPU (Gerakan September Tiga Puluh) : PKI Menculik dan Membunuh 6 (enam) Jenderal Senior TNI AD di Jakarta dan membuang mayatnya ke dalam sumur di LUBANG BUAYA Halim, mereka adalah : 
1. Jenderal Ahmad Yani,
2. Letjen R.Suprapto, 
3. Letjen MT.Haryono, 
4. Letjen S.Parman, 
5. Mayjen Panjaitan dan
6. Mayjen Sutoyo Siswomiharjo. 
PKI juga menculik dan membunuh Kapten Pierre Tendean karena dikira Jenderal Abdul Haris Nasution. PKI pun membunuh Aiptu Karel Satsuitubun seorang Ajun Inspektur Polisi yang sedang bertugas menjaga Rumah Kediaman Wakil PM Dr. J. Leimena yang bersebelahan dengan Rumah Jenderal AH. Nasution. 
PKI juga menembak Putri Bungsu Jenderal AH. Nasution yang baru berusia 5 (lima) tahun, *Ade Irma Suryani Nasution*, yang berusaha menjadi Perisai Ayahandanya dari tembakan PKI, kemudian ia terluka tembak dan akhirnya wafat pada tanggal 6 Oktober 1965.
G30S/PKI dipimpin oleh Letnan Kolonel Untung yang membentuk tiga kelompok gugus tugas penculikan, yaitu : 
1. Pasukan Pasopati dipimpin Lettu Dul Arief, dan
2. Pasukan Pringgondani dipimpin Mayor Udara Sujono, serta 
3. Pasukan Bima Sakti dipimpin Kapten Suradi.
Selain Letkol Untung dan kawan-kawan, PKI didukung oleh sejumlah Perwira ABRI (TNI/Polri) dari berbagai Angkatan, antara lain :
*Angkatan Darat :*
1. Mayjen TNI Pranoto Reksosamudro, 
2. Brigjen TNI Soepardjo dan
3. Kolonel Infantri A. Latief.
*Angkatan Laut :*
1. Mayor KKO Pramuko Sudarno, 
2. Letkol Laut Ranu Sunardi dan 
3. Komodor Laut Soenardi.
*Angkatan Udara :*
1. Men/Pangau Laksda Udara Omar Dhani, 
2. Letkol Udara Heru Atmodjo dan 
3. Mayor Udara Sujono.
*Kepolisian :* 
1. Brigjen Pol. Soetarto,
2. Kombes Pol. Imam Supoyo dan 
3. AKBP Anwas Tanuamidjaja.

*Tgl 1 Oktober 1965 :*
PKI di Yogyakarta juga Membunuh :
1. Brigjen Katamso Darmokusumo dan 
2. Kolonel Sugiono. 
Lalu di Jakarta PKI mengumumkan terbentuknya DEWAN REVOLUSI baru yang telah mengambil Alih Kekuasaan.

*Tgl 2 Oktober 1965 :*
Letjen TNI Soeharto mengambil alih Kepemimpinan TNI dan menyatakan Kudeta PKI gagal dan mengirim TNI AD menyerbu dan merebut Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma dari PKI.

*Tgl 6 Oktober 1965 :*
Soekarno menggelar Pertemuan Kabinet dan Menteri PKI ikut hadir serta berusaha Melegalkan G30S, tapi ditolak, bahkan Terbit Resolusi Kecaman terhadap G30S, lalu usai rapat Nyoto pun langsung ditangkap.

*Tgl 13 Oktober 1965 :*
Ormas Anshor NU gelar Aksi unjuk rasa Anti PKI di Seluruh Jawa.

*Tgl 18 Oktober 1965 :*
PKI menyamar sebagai Anshor Desa Karangasem (kini Desa Yosomulyo) Kecamatan Gambiran, lalu mengundang Anshor Kecamatan Muncar untuk Pengajian. Saat Pemuda Anshor Muncar datang, mereka disambut oleh Gerwani yang menyamar sebagai Fatayat NU, lalu mereka diracuni, setelah Keracunan mereka di Bantai oleh PKI dan Jenazahnya dibuang ke Lubang Buaya di Dusun Cemetuk Desa/Kecamatan Cluring Kabupaten Banyuwangi. Sebanyak 62 (enam puluh dua) orang Pemuda Anshor yang dibantai, dan ada beberapa pemuda yang selamat dan melarikan diri, sehingga menjadi Saksi Mata peristiwa. Peristiwa Tragis itu disebut Tragedi Cemetuk, dan kini oleh masyarakat secara swadaya dibangun Monumen Pancasila Jaya.

*Tgl 19 Oktober 1965 :* Anshor NU dan PKI mulai bentrok di berbagai daerah di Jawa.

*Tgl 11 November 1965 :* 
PNI dan PKI bentrok di Bali.
Tgl 22 November 1965 : DN Aidit ditangkap dan diadili serta di Hukum Mati.

*Bulan Desember 1965 :*
Aceh dinyatakan telah bersih dari PKI.

*Tgl 11 Maret 1966 :*
Terbit Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) dari Presiden Soekarno yang memberi wewenang penuh kepada Letjen TNI Soeharto untuk mengambil langkah Pengamanan Negara RI.

*Tgl 12 Maret 1966 :*
Soeharto melarang secara resmi PKI. 

*Bulan April 1966 :*
Soeharto melarang Serikat Buruh Pro PKI yaitu SOBSI.

*Tgl 13 Februari 1966 :*
Bung Karno masih tetap membela PKI, bahkan secara terbuka di dalam pidatonya di muka Front Nasional di Senayan mengatakan : 
*”Di Indonesia ini tidak ada partai yang Pengorbanannya terhadap Nusa dan Bangsa sebesar Partai Komunis Indonesia…”*

*Tgl 5 Juli 1966 :* 
Terbit TAP MPRS No.XXV Tahun 1966 yang ditanda-tangani Ketua MPRS–RI Jenderal TNI AH. Nasution tentang Pembubaran PKI dan Pelarangan penyebaran Paham Komunisme, Marxisme dan Leninisme.

*Bulan Desember 1966 :*
Sudisman mencoba menggantikan Aidit dan Nyoto untuk membangun kembali PKI, tapi ditangkap dan dijatuhi Hukuman Mati pada tahun 1967.

*Tahun 1967 :*
Sejumlah Kader PKI seperti Rewang, Oloan Hutapea dan Ruslan Widjajasastra, bersembunyi di wilayah terpencil di Blitar Selatan bersama Kaum Tani PKI.

*Bulan Maret 1968 :*
Kaum Tani PKI di Blitar Selatan menyerang para Pemimpin dan Kader NU, sehingga 60 (enam puluh) Orang NU tewas dibunuh.

*Pertengahan 1968 :*
TNI menyerang Blitar Selatan dan menghancurkan persembunyian terakhir PKI.

*Dari tahun 1968 s/d 1998*
Sepanjang Orde Baru secara resmi PKI dan seluruh mantel organisasiya dilarang di Seluruh Indonesia dgn dasar TAP MPRS No.XXV Tahun 1966. Dari tahun 1998 s/d 2015

*Pasca Reformasi 1998*
Pimpinan dan Anggota PKI yang dibebaskan dari Penjara, beserta keluarga dan simpatisanya yang masih mengusung IDEOLOGI KOMUNIS, justru menjadi pihak paling diuntungkan, hingga kini mereka meraja-lela melakukan aneka gerakan pemutar balikkan Fakta Sejarah dan memposisikan PKI sebagai PAHLAWAN Pejuang Kemerdekaan RI. Sejarah Kekejaman PKI yang sangat panjang, dan jangan biarkan mereka menambah lagi daftar kekejamannya di negeri tercinta ini.

Semoga Tuhan YME senantiasa melindungi kita semua. Aamiin.... 

*BAGIKAN SEJARAH INI.* 
*JADIKAN PELAJARAN*
*BUAT GENERASI YANG AKAN DATANG*


🇲🇨🇲🇨🇲🇨🇲🇨🇮🇩