*_26 SAFAR - 12 RABI'UL AWWAL 11 H_*
_Brayat Ageng Walisongo_
*1. Senin, 26 Safar 11 H*
Setelah pulang dari memakamkan jenazah di Baqi', Sayyidina Rasulullah SAW merasakan sakit kepala yang sangat. Pada malam harinya, demam beliau mulai naik ketika berada di rumah Ummul Mukminin Sayyidatuna Maimunah RA.
Beliau bersabda kepada Ummul Mukminin Sayyidatuna Aisyah RA:
*"يَا عَائِشَةُ مَا أَزَالُ أَجِدُ أَلَمَ الطَّعَامِ الَّذِي أَكَلْتُ بِخَيْبَرَ فَهَذَا أَوَانُ وَجَدْتُ انْقِطَاعَ أَبْهَرِي مِنْ ذَلِكَ السُّمِّ"*
Artinya: "Wahai Aisyah, aku masih merasakan sakit akibat makanan yang aku makan di Khaibar. Dan inilah saatnya aku merasakan urat nadiku terputus karena racun itu."
(HR. Bukhari, Kitab Al-Maghazi, No. 4428, Juz 5 Hal. 135)
*Syarah Brayat Ageng Walisongo:*
_Sebagaimana pengaruh racun di Khaibar baru dirasakan setelah empat tahun, demikian pula, Walisongo bersabar dalam menghadapi ujian ketika menyebarkan Islam di tanah Jawa. Mereka tidak tergesa-gesa. Islam dirintis secara bertahap melalui suluk, kesabaran, dan tirakat hingga tertanam dengan sempurna. Pelajaran yang dapat dipetik adalah bahwa setiap ujian dari Allah datang pada waktu yang tepat untuk meninggikan derajat dan menyempurnakan risalah dalam menegakkan kebenaran._
(Fathul Bari, Ibnu Hajar, Juz 8 Hal. 142 | Tafsir Ath-Thabari, Juz 3 Hal. 299)
*2. Selasa, 27 Safar 11 H*
Demam beliau semakin tinggi dan disertai keringat yang deras. Ummul Mukminin Sayyidatuna Aisyah RA menuturkan:
*"مَا رَأَيْتُ أَحَدًا أَشَدَّ عَلَيْهِ الْوَجَعُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ"*
Artinya: "Aku tidak pernah melihat seorang pun yang merasakan sakit lebih berat daripada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam."
(HR. Bukhari, Kitab Al-Mardha, No. 5646, Juz 7 Hal. 22)
Beliau juga bersabda:
*"إِنَّ أَشَدَّ النَّاسِ بَلَاءً الْأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ"*
Artinya: "Sesungguhnya manusia yang paling berat cobaannya adalah para nabi, kemudian orang yang paling baik, lalu yang paling baik."
(HR. Tirmidzi, Kitab Az-Zuhd, No. 2398)
*Syarah Brayat Ageng Walisongo:*
_Para Wali juga mengalami "demam perjuangan" berupa fitnah, penolakan dari penguasa yang zalim, dan beratnya upaya melawan kebatilan. Namun, mereka tetap bersabar sebagaimana Nabi. Semakin tinggi kedudukan seseorang di sisi Allah, semakin besar pula ujiannya. Kelelahan dalam menyebarkan Islam menjadi penghapus dosa dan pengangkat derajat para pejuang tauhid._
(Tafsir Ibnu Katsir, Juz 8 Hal. 434 | Syarah Shahih Muslim, An-Nawawi, Juz 18 Hal. 96)
*3. Rabu, 28 Safar 11 H*
Beliau meminta izin kepada para istri:
*"إِنْ شِئْتُنَّ أَنْ آذَنَ لِي أَنْ أُمَرَّضَ فِي بَيْتِ عَائِشَةَ"*
Artinya: "Jika kalian berkenan, izinkanlah aku dirawat di rumah Aisyah."
Dan semua istri memberikan izin. (HR. Bukhari, Kitab Al-Maghazi, No. 4441, Juz 5 Hal. 138)
*Syarah Brayat Ageng Walisongo:*
_Dari rumah Sayyidatuna Aisyah diriwayatkan 2.210 hadis. Brayat Ageng Walisongo meneladani hal ini dengan menjadikan rumah, padepokan, dan keluarga sebagai pusat pertama dalam Pendidikan dan menyebarkan Islam. Pesantren, surau, dan langgar didirikan di tengah masyarakat. Pendidikan agama harus dimulai dari keluarga agar menjadi benteng dalam melawan kemungkaran dan kezaliman._
(As-Sirah An-Nabawiyah, Ibnu Hisyam, Juz 4 Hal. 307 | Siyar A'lam An-Nubala, Adz-Dzahabi, Juz 2 Hal. 178)
*4. Kamis, 29 Safar 11 H*
Di tengah sakitnya, beliau bersabda:
*"مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُصِيبُهُ أَذًى مِنْ مَرَضٍ فَمَا سِوَاهُ إِلَّا حَطَّ اللَّهُ بِهِ سَيِّئَاتِهِ كَمَا تَحُطُّ الشَّجَرَةُ وَرَقَهَا"*
Artinya: "Tidaklah seorang muslim tertimpa gangguan berupa sakit atau lainnya, kecuali Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya sebagaimana pohon menggugurkan daunnya."
(HR. Bukhari, Kitab Al-Mardha, No. 5640, Juz 7 Hal. 20)
*Syarah Brayat Ageng Walisongo:*
_Brayat Ageng Walisongo mengajarkan kepada para santri bahwa sakit, fitnah, dan kelelahan dalam berjuang menegakkan kebenaran merupakan rahmat dari Allah. Setiap rintangan dalam melawan kezaliman akan menjadi penghapus dosa. Oleh karena itu, seorang pejuang tidak boleh mengeluh ketika perjuangan terasa berat, karena hal itu merupakan bukti kasih sayang Allah._
(Tafsir Al-Qurthubi, Juz 5 Hal. 192 | Riyadhus Shalihin, An-Nawawi, Bab Ash-Shabr, No. 37)
*5. Jumat, 1 Rabi'ul Awwal 11 H*
Karena tidak mampu pergi ke masjid, beliau memerintahkan:
*"مُرُوا أَبَا بَكْرٍ فَلْيُصَلِّ بِالنَّاسِ"*
Artinya: "Perintahkanlah Abu Bakar agar mengimami manusia dalam salat."
(HR. Bukhari, Kitab Al-Adzan, No. 712, Juz 1 Hal. 176)
Beliau juga bersabda:
*"أَقِيمُوا الصُّفُوفَ وَحَاذُوا بَيْنَ الْمَنَاكِبِ فَإِنِّي أَرَاكُمْ مِنْ وَرَاءِ ظَهْرِي"*
Artinya: "Luruskanlah shaf dan rapatkan bahu, karena sesungguhnya aku melihat kalian dari belakang punggungku."
(HR. Bukhari, Kitab Al-Adzan, No. 719, Juz 1 Hal. 178)
*Syarah Brayat Ageng Walisongo:*
_Penunjukan Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq RA sebagai imam salat merupakan dalil paling kuat tentang kepemimpinan. Dalam Islam, imam salat sekaligus menjadi pemimpin dalam urusan dunia. Brayat Ageng Walisongo sangat memperhatikan peran kyai, imam masjid, dan penghulu. Dari Pesantren dan masjid lahirlah tatanan masyarakat Islam di Jawa yang mampu menegakkan kebenaran dan melawan kezaliman._
(Al-Ishabah, Ibnu Hajar, Juz 4 Hal. 154 | Al-Ahkam As-Sulthaniyah, Al-Mawardi, Hal. 12)
*6. Sabtu, 2 Rabi'ul Awwal 11 H*
Beliau dipapah oleh Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA dan Sayyidina Al-Fadhl bin Abbas RA menuju masjid. Langkah beliau terhuyung karena lemah.
Beliau berwasiat:
*"أَنْفِذُوا بَعْثَ أُسَامَةَ بْنَ زَيْدٍ"*
Artinya: "Berangkatkanlah pasukan Usamah bin Zaid."
(HR. Bukhari, Kitab Al-Adzan, No. 713, Juz 1 Hal. 177)
*Syarah Brayat Ageng Walisongo:*
_Meskipun dalam keadaan sakit, perhatian beliau tetap tertuju pada keberlangsungan menyebarkan Islam dan keamanan umat._
_Brayat Ageng Walisongo meneladani hal ini dengan menyiapkan kader-kader penerus. Para santri dididik dan dikirim ke masyarakat untuk melanjutkan perjuangan. Upaya menegakkan kebenaran tidak boleh berhenti meskipun dalam keadaan uzur._
(Tarikh At-Thabari, Juz 3 Hal. 202 | Zadul Ma’ad, Ibnu Qayyim, Juz 1 Hal. 509)
*7. Ahad, 3 Rabi'ul Awwal 11 H*
Di masjid beliau menyampaikan dua wasiat penting:
*"الصَّلَاةَ الصَّلَاةَ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ"*
Artinya: "Tegakkanlah salat, tegakkanlah salat, dan perhatikanlah orang-orang yang berada dalam tanggung jawab kalian."
*"لَعَنَ اللَّهُ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ يُحَذِّرُ مَا صَنَعُوا"*
Artinya: "Allah melaknat Yahudi dan Nasrani yang menjadikan kubur nabi-nabi mereka sebagai masjid. Beliau memperingatkan perbuatan mereka."
(Musnad Ahmad, No. 25850, Juz 6 Hal. 34)
*Syarah Brayat Ageng Walisongo:*
_Kedua wasiat tersebut merupakan inti dari perjuangan Brayat Ageng Walisongo di Jawa. Pertama, menghidupkan salat lima waktu dan amar makruf nahi mungkar. Kedua, menjaga kemurnian tauhid dengan melawan kemusyrikan dan penyembahan selain Allah. Walisongo membangun Masjid Agung, bukan kuburan. Mereka meluruskan adat dengan cara yang halus, tetapi tetap tegas dalam melawan kezaliman._
Akhirnya seluruh masyarakat Jawa bisa mengucapkan Syahadat. Dengan media Sekaten.
(Al-Mufhim, Al-Qurthubi, Juz 1 Hal. 512 | Al-Istidzkar, Ibnu Abdil Barr, Juz 2 Hal. 168)
*8. Senin, 4 Rabi'ul Awwal 11 H*
Tengah malam beliau diantar ke Baqi' untuk mendoakan para syuhada. Di sana beliau diberi pilihan antara dunia atau Allah, lalu beliau memilih:
*"بَلِ الرَّفِيقَ الْأَعْلَى"*
Artinya: "Bahkan bersama golongan yang paling tinggi."
(HR. Muslim, Kitab Al-Janaiz, No. 974, Juz 2 Hal. 669)
Beliau juga bersabda:
*"السَّلَامُ عَلَيْكُمْ دَارَ قَوْمٍ مُؤْمِنِينَ وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ بِكُمْ لَاحِقُونَ"*
Artinya: "Keselamatan atas kalian wahai penghuni negeri orang-orang beriman, dan sesungguhnya kami insya Allah akan menyusul kalian."
(HR. Muslim, Kitab Ath-Thaharah, No. 249, Juz 1 Hal. 219)
*Syarah Brayat Ageng Walisongo:*
_Brayat Ageng Walisongo mengajarkan zuhud dan qanaah. Mereka meninggalkan kemewahan istana dan memilih hidup sederhana di pesantren. Mereka memilih akhirat daripada dunia. Ziarah yang diajarkan adalah untuk mengingat kematian dan mendoakan ahli kubur, bukan untuk meminta. Tujuannya adalah agar umat tetap fokus dalam menegakkan kebenaran._
(Ahkamul Qur'an, Al-Jashshash, Juz 2 Hal. 420 | Tafsir Ath-Thabari, Juz 3 Hal. 299)
*9. Selasa, 5 Rabi'ul Awwal 11 H*
Beliau berwasiat:
*"أَخْرِجُوا الْمُشْرِكِينَ مِنْ جَزِيرَةِ الْعَرَبِ"*
Artinya: "Keluarkanlah kaum musyrikin dari Jazirah Arab."
(HR. Bukhari, Kitab Al-Jizyah, No. 3168, Juz 4 Hal. 59)
Dan juga:
*"لَا يَجْتَمِعُ دِينَانِ فِي جَزِيرَةِ الْعَرَبِ"*
Artinya: "Tidak boleh berkumpul dua agama di Jazirah Arab."
(HR. Malik, Al-Muwatha', Kitab Al-Jihad, No. 899)
*Syarah Brayat Ageng Walisongo:*
_Sebagaimana Jazirah Arab dijaga kemurnian tauhidnya, demikian pula Tanah Jawa dijaga oleh Brayat Ageng Walisongo. Mereka melawan kezaliman dan membersihkan permusuhan antar masyarakat. Dengan prinsip "Islam Nusantara", kebatilan dilawan, tetapi manusia tetap dirangkul agar kembali kepada tauhid._
(Al-Umm, Imam Asy-Syafi'i, Juz 4 Hal. 238 | Al-Mughni, Ibnu Qudamah, Juz 9 Hal. 324)
*10. Rabu, 6 Rabi'ul Awwal 11 H*
Demam beliau masih tinggi. Beliau banyak beristirahat dan terus berzikir. Para sahabat silih berganti menjenguk. Sayyidina Abu Bakar RA tetap mengimami salat.
*Syarah Brayat Ageng Walisongo:*
_Brayat Ageng Walisongo mengajarkan zikir, wirid, dan suluk dalam setiap keadaan. Ketika berjuang, ketika menghadapi siapapun yang zalim, dan ketika menyebarkan kedamaian Islam. Kekuatan seorang pejuang terletak pada lisannya yang senantiasa basah dengan zikir. Oleh karena itu, lahirlah tradisi tahlil, salawat, dan manaqib untuk menguatkan hati umat._
(Al-Adzkar, An-Nawawi, Bab Zikir, Hal. 15)
*11. Kamis, 7 Rabi'ul Awwal 11 H*
Beliau berwasiat:
*"لَا تَتَّخِذُوا قَبْرِي وَثَنًا يُعْبَدُ اشْتَدَّ غَضَبُ اللَّهِ عَلَى قَوْمٍ اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ"*
Artinya: "Janganlah kalian menjadikan kuburku sebagai berhala yang disembah. Sangat keras murka Allah terhadap kaum yang menjadikan kubur nabi-nabi mereka sebagai masjid."
(Musnad Ahmad, No. 7352, Juz 2 Hal. 246)
*Syarah Brayat Ageng Walisongo:*
_Wasiat ini merupakan wasiat paling penting yang diamalkan oleh Brayat Ageng Walisongo. Mereka membangun Masjid Agung Demak, bukan membangun kubah besar di atas kubur. Ziarah ke makam para wali diajarkan untuk mengambil berkah ilmu dan mendoakan, *bukan untuk Ghulluw dan pemujaan seperti yang dilakukan oleh Yahudi, Nasrani dan Habib Ba'lawi.* Cinta kepada wali diwujudkan dengan mengikuti ilmunya dan meneruskan perjuangannya dalam melawan kezaliman dan mewariskan kebenaran kepada anak cucu penerus._
(Al-Muwatha', Imam Malik, Kitab Al-Qashr Fish Shalah, No. 414 | Al-Istidzkar, Ibnu Abdil Barr, Juz 2 Hal. 173)
*12. Jumat, 8 Rabi'ul Awwal 11 H*
Kondisi beliau sedikit membaik. Beliau melaksanakan salat dengan duduk di rumah. Para sahabat sangat gembira melihat hal itu.
*Syarah Brayat Ageng Walisongo:*
_Islam adalah agama yang mudah dan penuh kasih sayang. Brayat Ageng Walisongo menyebarkan Ilmu dan Islam dengan kelemahlembutan dan hikmah. Orang sakit boleh salat dengan duduk. Masyarakat awam diajarkan Islam secara bertahap. Tidak ada pemaksaan, tetapi ada upaya merangkul agar umat bersama-sama menegakkan kebenaran._
(Al-Mudawwanah, Imam Malik, Juz 1 Hal. 78 | Al-Majmu', An-Nawawi, Juz 4 Hal. 310)
*13. Sabtu, 9 Rabi'ul Awwal 11 H*
Pada pagi hari, beliau membuka tirai dan melihat para sahabat salat di belakang Sayyidina Abu Bakar RA, lalu beliau tersenyum. Setelah itu, tirai tidak dibuka lagi.
(HR. Bukhari, Kitab Al-Adzan, No. 680, Juz 1 Hal. 163 | HR. Muslim, Kitab Ash-Shalah, No. 419, Juz 1 Hal. 313)
*Syarah Brayat Ageng Walisongo:*
_Senyum beliau merupakan tanda keridaan terhadap keadaan umat dan terhadap imamnya. Brayat Ageng Walisongo juga merasa bahagia ketika melihat masyarakat Nusantara hidup damai dan berbondong-bondong ke masjid, mengaji, dan berani membela kebenaran. Kebahagiaan seorang guru adalah ketika melihat muridnya istiqamah dalam mengamalkan ilmunya dan menjalankan syari'at Islamnya._
(Fathul Bari, Ibnu Hajar, Juz 2 Hal. 180 | Syarah Shahih Muslim, An-Nawawi, Juz 4 Hal. 201)
*14. Ahad, 10 Rabi'ul Awwal 11 H*
Kondisi beliau sangat lemah. Beliau berbicara dengan suara pelan. Beliau banyak berzikir dan meminta air untuk mengusap wajah. Para sahabat berkumpul di sekitar rumah beliau.
*Syarah Brayat Ageng Walisongo:*
_Pada saat paling lemah, zikir menjadi amalan utama. Brayat Ageng Walisongo menanamkan hal ini kepada para santri:_
_sucikan hati dengan zikir dan sucikan harta dengan sedekah dan sucikan badan dengan air wudu_
Dari ketiga hal inilah lahir para wali dan para pejuang yang berani menegakkan kebenaran di tanah Jawa._
(Al-Bidayah wan Nihayah, Ibnu Katsir, Juz 5 Hal. 241)
*15. Senin, 11 Rabi'ul Awwal 11 H*
Kepala beliau berada di pangkuan Ummul Mukminin Sayyidatuna Aisyah RA. Beliau mengusap wajah dengan air sambil mengucapkan:
*"لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ إِنَّ لِلْمَوْتِ لَسَكَرَاتٍ"*
Artinya: "Tidak ada tuhan selain Allah. Sesungguhnya pada kematian terdapat sakaratul maut."
(HR. Bukhari, Kitab Al-Mardha, No. 5650, Juz 7 Hal. 24)
Beliau juga berwasiat:
*"الصَّلَاةَ الصَّلَاةَ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ"*
Artinya: "Jagalah salat, jagalah salat, dan jagalah orang-orang yang berada dalam tanggung jawab kalian."
*Syarah Brayat Ageng Walisongo:*
_Pengulangan wasiat tentang salat sebanyak tiga kali menunjukkan betapa pentingnya salat. Penyebutan kalimat tauhid di akhir hayat menjadi pelajaran agar kita membiasakannya sehingga menjadi kalimat terakhir. Brayat Ageng Walisongo menjadikan hal ini sebagai pegangan agar umat memiliki kekuatan iman ketika melawan kezaliman._
(Fathul Bari, Ibnu Hajar, Juz 10 Hal. 138)
*16. Senin Dhuha, 12 Rabi'ul Awwal 11 H*
Pada waktu Dhuha, dalam usia 63 tahun, Sayyidina Rasulullah SAW wafat di pangkuan Ummul Mukminin Sayyidatuna Aisyah RA. Pandangan beliau tertuju ke langit seraya mengucapkan:
*"مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ اللَّهُمَّ الرَّفِيقَ الْأَعْلَى"*
Artinya: "Bersama orang-orang yang Engkau beri nikmat, yaitu para nabi, shiddiqin, syuhada, dan orang-orang saleh. Ya Allah, bersama golongan yang paling tinggi."
Kemudian ruh beliau kembali kepada Allah.
(HR. Bukhari, Kitab Al-Maghazi, No. 4440, Juz 5 Hal. 137 | HR. Muslim, Kitab Fadhail, No. 2444, Juz 4 Hal. 1893)
*Syarah Brayat Ageng Walisongo:*
_Wafatnya Nabi menjadi ibrah bagi Brayat Ageng Walisongo: hiduplah untuk menyebarkan Islam dan menegakkan kebenaran, dan matilah dalam keadaan rindu kepada Allah. Kalimat terakhir Nabi menjadi doa para wali agar dikumpulkan bersama Nabi, shiddiqin, syuhada, dan shalihin. Inilah cita-cita perjuangan di Nusantara, yaitu mengantarkan umat kepada "Ar-Rafiiqul A'la"._
(Tafsir Ibnu Katsir, Juz 2 Hal. 306 | Asy-Syifa, Al-Qadhi Iyadh, Juz 1 Hal. 280)
---
*وصلى الله على سيدنا محمد و على أل سيدنا محمد ☘️*
Wallahu a'lam bishawab.
_Semoga Allah mengumpulkan kita bersama beliau dan Brayat Ageng Walisongo dalam golongan_
*الرَّفِيقَ الْأَعْلَى*.
Aamiin 🤲
Tidak ada komentar:
Posting Komentar