*ANAK KANDUNG YANG MELAWAN BAPAKNYA*
Tirto, Samanhudi, dan Tjokroaminoto:
Tiga Tangan yang Membangun Senjata yang Sama
(Oleh M. Basyir Zubair)
Ada satu pertanyaan yang tidak pernah diajukan dalam pelajaran sejarah Indonesia: siapa yang sebenarnya mendirikan Sarekat Islam?
Jawabannya, selama ini, selalu sama: Haji Samanhudi. Pedagang batik dari Laweyan. Pahlawan rakyat jelata yang berhadapan dengan dominasi kolonial.
Jawaban itu tidak salah. Tapi ia sangat tidak lengkap.
Karena sebelum ada Samanhudi, ada Tirto Adhi Soerjo seorang priyayi Jawa dari Blora, wartawan paling berbahaya di Hindia Belanda, pendiri pers nasional pribumi pertama, dan menurut penelitian sejarawan Belanda M. Ryzki Wiryawan, seorang anggota jaringan Freemason.
Dan dari tangan Tirto seorang Mason lahirlah Sarekat Dagang Islam, cikal bakal organisasi massa Muslim terbesar yang pernah ada di Hindia Belanda. Organisasi yang kemudian, pada puncak konfliknya, berhadapan langsung dengan jaringan Mason dan Theosofi yang melahirkannya.
Bapak melahirkan anak. Anak kemudian memukul bapaknya. Dan dari benturan itulah Indonesia lahir.
----
I. Tirto Adhi Soerjo: Mason yang Mendirikan Organisasi Islam
Raden Mas Djokomono yang kemudian dikenal sebagai Tirto Adhi Soerjo lahir di Blora, Jawa Tengah, sekitar 1880. Ia adalah keturunan bangsawan, cucu bupati Bojonegoro, yang bersekolah di STOVIA tapi tidak menamatkannya karena menemukan panggilan yang lebih besar: jurnalisme.
Pada 1 Januari 1907, ia menerbitkan Medan Prijaji surat kabar nasional pertama yang seluruhnya dikelola oleh pribumi. Di kepala korannya tercetak moto yang pada masa itu terasa seperti seruan revolusi: "Orgaan boeat bangsa jang terperintah di Hindia Olanda, tempat memboeka soearanja", organ bagi bangsa yang diperintah di Hindia Belanda, tempat membuka suaranya.
Tirto bukan hanya wartawan. Ia adalah agitator intelektual yang memahami bahwa kata-kata bisa lebih tajam dari senjata. Dan ia menggunakannya tanpa ampun terhadap pejabat kolonial dan penguasa pribumi yang berkolaborasi dengan penjajah.
----
Tirto dan Jaringan Mason: Apa yang Terdokumentasi
Menurut penelitian M. Ryzki Wiryawan dalam bukunya tentang gerakan Theosofi dan Freemasonry, Tirto Adhi Soerjo terhubung dengan jaringan Mason. Perlu dicatat: ini berbeda dari Raden Adipati Tirto Koesoemo Bupati Karanganyar anggota Loji Mataram sejak 1895 dan ketua pertama Boedi Oetomo. Dua tokoh berbeda dengan nama yang mirip, sering tertukar dalam literatur populer. Keterlibatan Tirto Adhi Soerjo dengan jaringan Mason menjelaskan banyak hal: mengapa ia memiliki akses ke jaringan intelektual lintas etnis, mengapa ia bergerak dengan begitu leluasa di antara berbagai lapisan masyarakat kolonial, dan mengapa pendekatannya terhadap organisasi sangat modern dan sistematis untuk zamannya.
Yang paling mengejutkan dari seluruh kiprah Tirto adalah ini: pada 1909, ia menggagas dan mendirikan Sarekat Dagang Islam di Bogor, sebuah organisasi berbasis Islam untuk melindungi pedagang pribumi dari dominasi modal Tionghoa dan tekanan kolonial. Seorang yang terhubung dengan jaringan Mason, mendirikan organisasi yang secara eksplisit membawa nama Islam.
Ini bukan kontradiksi. Ini adalah cerminan dari cara berpikir Mason dan Theosofi yang sesungguhnya: bahwa identitas keagamaan adalah sah dan harus dihormati sebagai fondasi perlawanan. Tirto tidak melihat pertentangan antara jaringan intelektual yang ia ikuti dengan identitas Islam yang ia bela.
----
II. Samanhudi: Ketika Pasar Mengambil Alih dari Loji
Di sinilah cerita menjadi semakin kompleks. Haji Samanhudi saudagar batik dari Laweyan, Surakarta, bukan orang yang menunggu Tirto datang kepadanya. Menurut otobiografinya sendiri, ia yang aktif mencari koneksi organisasi, termasuk berkunjung ke Tirto di Bogor.
Samanhudi adalah tipe pemimpin yang berbeda dari Tirto. Ia bukan intelektual yang menulis di surat kabar. Ia adalah penggerak yang memahami bahasa pasar, bahasa mushola, bahasa komunitas pedagang yang setiap hari merasakan tekanan ekonomi kolonial. Kelemahannya adalah urusan administrasi dan sistem organisasi.
----
Dari kolaborasi Tirto dan Samanhudi lahirlah berbagai organisasi yang saling bertautan: Kong Sing (perkumpulan Jawa-Tionghoa yang kemudian pecah karena dominasi anggota Tionghoa hingga 60 persen), Rekso Rumekso (perkumpulan pengusaha batik dengan fungsi keamanan, dengan 35.000 anggota pada Agustus 1911), hingga akhirnya SDI Cabang Surakarta dengan Samanhudi sebagai ketua, dibantu Tirto dalam penyusunan AD/ART, yang dideklarasikan pada 9 November 1911.
Dari Kong Sing ke SDI: Kronologi yang Selama Ini Rancu
1905: SDI didirikan Tirto di Bogor sebagai gagasan awal.
1909: SDI resmi berdiri di Bogor, Tirto sebagai penasihat.
1911 (awal): Tirto tiba di Solo, membantu Samanhudi. Kong Sing berdiri lalu pecah karena dominasi Tionghoa.
1911 (Agustus): Rekso Rumekso berdiri dengan 35.000 anggota.
9 November 1911: Rekso Rumekso berganti menjadi SDI Cabang Surakarta, Samanhudi sebagai ketua, Tirto membantu AD/ART.
1912 (10 September): Atas saran Tjokroaminoto, nama diubah menjadi Sarekat Islam.
1919: Anggota SI mencapai 2,5 juta. Sumber: Timeline dari penelitian komunitas sejarawan dan buku Haji Samanhudi karya Muljono dan Sutrisno Kutoyo (1983/1984).
Yang menarik dan ini detail yang sering hilang dari narasi resmi adalah bahwa semakin besar SDI Solo, semakin Samanhudi ingin melepaskan diri dari bayang-bayang Tirto. Ia bahkan mengklaim bahwa berdirinya SDI Solo adalah gagasannya sendiri. Ini bukan pengkhianatan, ini adalah proses yang wajar ketika sebuah gerakan menemukan energinya sendiri dan tidak lagi membutuhkan pelopor awalnya.
----
III. Tjokroaminoto: Raja Tanpa Mahkota yang Terhubung ke Dua Dunia
Pada 1912, Samanhudi memanggil seorang cendekiawan Muslim dari Surabaya untuk membantu merestrukturisasi organisasi: Haji Omar Said Tjokroaminoto. Saran Tjokroaminoto langsung dan tegas: nama organisasi harus diubah dari Sarekat Dagang Islam yang terlalu sempit, hanya untuk pedagang menjadi Sarekat Islam, yang terbuka untuk seluruh umat. Nama baru itu diaktekan pada 10 September 1912.
Dari sana, SI tumbuh dengan kecepatan yang mengejutkan semua pihak termasuk pemerintah kolonial. Dalam dua tahun keanggotaan meledak hingga ratusan ribu, dan pada 1919 mencapai 2,5 juta, menjadikannya organisasi massa terbesar yang pernah ada di Hindia Belanda.
Tapi ada lapisan yang selama ini jarang diceritakan tentang Tjokroaminoto: ia sendiri, menurut penelitian yang sudah disebut dalam seri artikel ini, terhubung dengan jaringan Theosofi. Pemimpin Islam massa yang paling disegani, sekaligus bagian dari ekosistem intelektual yang sama dengan Mason dan Theosofi.
----
Rumah Gang Peneleh: Satu Atap, Tiga Jalan Indonesia
Di rumah Tjokroaminoto di Gang Peneleh, Surabaya, tinggal tiga anak muda yang kelak menjadi tiga tokoh dengan tiga ideologi berbeda: Soekarno, yang akan menjadi bapak nasionalisme Indonesia. Semaoen, yang akan memimpin PKI dan menjadi tokoh komunis pertama Nusantara. Kartosuwiryo, yang akan mendirikan Negara Islam Indonesia dan berhadapan dengan Soekarno dalam konflik bersenjata. Tiga jalan. Tiga masa depan. Satu meja makan. Satu bapak asuh. Dan bapak asuh itu adalah seorang yang terhubung dengan Theosofi, memimpin organisasi Islam terbesar, dan diasingkan oleh pemerintah kolonial. Tidak ada universitas yang bisa mengajarkan apa yang Tjokroaminoto ajarkan hanya dengan membuka pintu rumahnya.
----
IV. Ketika Anak Memukul Balik Bapaknya
Pertumbuhan SI yang massif membawa konsekuensi yang tidak diantisipasi oleh siapapun: semakin besar SI, semakin ia menemukan identitasnya sendiri, dan identitas itu semakin jauh dari ekosistem Mason-Theosofi yang ikut melahirkannya.
Ketegangan pertama terjadi dalam ranah intelektual. Pada 1913, Radjiman Wedyodiningrat, anggota Mason dan Theosofi, tokoh Boedi Oetomo, menyampaikan pidato di hadapan Gubernemen yang secara terbuka merendahkan anggota SI sebagai kalangan kurang berpendidikan dan terlalu emosional. Seorang yang pernah menulis tentang "persaudaraan universal bangsa-bangsa" di dalam majalah Mason, kini mempermalukan jutaan saudaranya sendiri di depan penguasa kolonial.
Luka itu dalam. Dan belum sembuh ketika luka berikutnya datang, lebih dalam lagi.
----
Djawi Hisworo 1918: Penghinaan yang Melampaui Batas
Pada Januari 1918, surat kabar Djawi Hisworo, yang dikelola kalangan kebatinan memuat tulisan yang secara terang-terangan menghina Nabi Muhammad. SI merespons dengan menggelar rapat akbar di Surabaya. Dari rapat itu lahirlah Tentara Kanjeng Nabi Muhammad, diketuai Tjokroaminoto sendiri, dengan KH Ahmad Dahlan sebagai salah satu anggotanya. Ribuan orang turun ke jalan. Ini bukan lagi perdebatan intelektual, ini adalah benturan yang menyentuh apa yang paling dalam: martabat keyakinan.
Perlu ditegaskan: Theosofi sebagai organisasi tidak mengajarkan penghinaan terhadap Islam. Yang terjadi adalah sebagian anggotanya, dalam arogansi dan kecerobohan intelektual mereka, melakukan hal yang bertentangan dengan prinsip dasar Theosofi sendiri.
Tapi konflik itu tidak berhenti di satu insiden. Ketika SI tumbuh semakin besar, ia mulai menarik dua kutub yang semakin jauh berseberangan: kutub Islam yang semakin ortodoks di satu sisi, dan kutub kiri-sosialis di sisi lain.
----
Perpecahan SI: PSI Merah dan PSI Putih
Pada 1923, Sarekat Islam pecah menjadi dua: PSI Merah yang berhaluan komunis, Semaoen, Alimin, Darsono, dan PSI Putih yang berhaluan Islam nasionalis. Yang menarik: dua tokoh utama PSI Putih Agus Salim dan Abdoel Moeis, keduanya adalah anggota NITV, Nederlandsch Indische Theosofische Vereeniging. Jaringan Theosofi hadir bahkan di dalam tubuh SI hingga saat perpecahannya. Organisasi yang sebagian dilahirkan dari ekosistem Mason-Theosofi itu, ketika pecah, masih membawa gen dari ekosistem yang sama.
----
V. Mengapa Benturan Itu Justru Diperlukan
Dari luar, cerita ini terlihat seperti tragedi: orang-orang yang seharusnya bersatu justru saling menyakiti. Tapi jika dilihat lebih dalam, benturan itu adalah proses yang tidak bisa dihindari, dan justru diperlukan.
Mason dan Theosofi membangun jaringan intelektual yang luar biasa, tapi mereka memiliki batas: mereka elitis, berbicara dalam bahasa yang hanya dimengerti segelintir orang, dan sebagian anggotanya menyimpan arogansi priyayi yang tidak mereka sadari. Mereka bisa merancang negara, tapi tidak bisa menggerakkan massa.
SI melakukan sebaliknya: ia menggerakkan 2,5 juta orang dengan bahasa yang dimengerti semua orang, bahasa pasar, bahasa mushola, bahasa solidaritas ekonomi. Tapi tanpa kerangka intelektual yang cukup, ia rentan dipecah dari dalam.
Benturan antara keduanya memaksa masing-masing untuk melampaui dirinya sendiri. Mason dan Theosofi dipaksa untuk tidak terlalu elitis. SI dipaksa untuk membangun struktur intelektual yang lebih kuat. Dan dari tekanan timbal balik itulah lahir tokoh-tokoh yang benar-benar besar, yang tidak bisa diklaim oleh satu arus saja.
----
VI. Warisan Tiga Tangan
Tirto Adhi Soerjo meninggal pada 7 Desember 1918, dalam kemiskinan, di sebuah hotel kecil di Batavia. Ia dimakamkan tanpa upacara besar. Selama puluhan tahun, namanya hampir terlupakan, hingga Pramoedya Ananta Toer mengabadikannya sebagai tokoh Minke dalam Tetralogi Buru, dan pemerintah akhirnya memberikan gelar Pahlawan Nasional pada 2006.
Samanhudi hidup lebih lama, tapi pengaruhnya memudar seiring SI tumbuh melampaui dirinya. Tjokroaminoto "Raja Jawa Tanpa Mahkota", wafat pada 1934, meninggalkan tiga anak asuh dengan tiga masa depan yang saling bertentangan, dan sebuah organisasi yang sudah terlalu besar untuk dikuasai oleh satu tangan.
Tapi warisan tiga tangan itu tidak mati. Ia hidup dalam DNA pergerakan Indonesia yang hingga hari ini masih bergulat dengan pertanyaan yang sama: bagaimana menyatukan jaringan intelektual dengan kekuatan massa? Bagaimana membangun negara yang menghormati identitas tanpa terjebak dalam eksklusivisme? Bagaimana menjadi modern tanpa kehilangan akar?
----
Pertanyaan-pertanyaan itu belum terjawab tuntas. Tapi mereka sudah diajukan pertama kali oleh tiga orang yang saling tidak setuju satu sama lain, dan justru karena itu, bersama-sama membangun bangsa yang lebih besar dari masing-masing mereka.
----
Epilog: Tentang Bapak dan Anak yang Saling Memukul
Judul artikel ini Anak Kandung yang Melawan Bapaknya, bukan metafora yang dibuat-buat. Ia adalah deskripsi yang akurat dari apa yang terjadi.
Jaringan Mason dan Theosofi membangun infrastruktur intelektual, menyediakan ruang pertemuan, dan melalui Tirto bahkan ikut mendirikan organisasi yang kemudian berhadapan dengan mereka. SDI dan SI adalah, dalam arti yang sangat nyata, anak kandung dari ekosistem yang sama.
Tapi seperti semua anak kandung yang baik, SI tidak sekadar meneruskan warisan bapaknya. Ia mengolahnya, mempertanyakannya, dan pada momen-momen tertentu melawannya, karena hanya dengan melawan itulah ia bisa menemukan identitasnya sendiri.
Dan identitas itu Islam, kerakyatan, perlawanan terhadap kolonialisme, adalah kontribusi SI yang tidak bisa diberikan oleh Mason atau Theosofi: bahwa kemerdekaan bukan hanya proyek intelektual segelintir elite, melainkan hak dan perjuangan jutaan rakyat yang selama ini tidak memiliki suara.
Tiga tangan. Satu senjata. Namanya Indonesia.
---------
Sumber dan Rujukan:
Wiryawan, M. Ryzki. 2014. Okultisme di Bandoeng Doeloe: Menelusuri Jejak Gerakan Teosofi dan Freemasonry di Bandung. [Sumber tentang keterlibatan Tirto dalam jaringan Mason]
Muljono dan Sutrisno Kutoyo. 1983/1984. Haji Samanhudi. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Shiraishi, Takashi. 1997. Zaman Bergerak: Radikalisme Rakyat di Jawa 1912–1926. Jakarta: Grafiti Press.
Corver, A.P.E. 1985. Sarekat Islam: Gerakan Ratu Adil? Jakarta: Grafiti Press.
van Niel, Robert. 1984. Munculnya Elit Modern Indonesia. Jakarta: Pustaka Jaya.
Dahlan, Muhidin M. dan Iswara N. Raditya. 2008. Karya-Karya Lengkap Tirto Adhi Soerjo. Yogyakarta: I:BOEKOE.
Nugraha, Iskandar P. 2011. Teosofi, Nasionalisme, dan Elit Modern Indonesia. Jakarta: Komunitas Bambu. [Sumber tentang Agus Salim, Abdoel Moeis, dan NITV]
Stevens, Theo. 2004. Tarekat Mason Bebas dan Masyarakat di Hindia Belanda dan Indonesia 1764–1962. Jakarta: Sinar Harapan.
Pramoedya Ananta Toer. Tetralogi Buru: Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca. [Tirto Adhi Soerjo sebagai tokoh Minke]
Catatan Metodologi:
Keterlibatan Tirto Adhi Soerjo dalam jaringan Mason bersumber dari penelitian Wiryawan (2014) dan masih memerlukan verifikasi arsip primer lebih lanjut. Kronologi SDI-SI bersumber dari buku Muljono-Kutoyo (1983/1984), Shiraishi (1997), dan Corver (1985).
Klaim tentang Tjokroaminoto dan jaringan Theosofi masih memerlukan konfirmasi arsip primer. Perbedaan antara Tirto Adhi Soerjo (wartawan, wafat 1918) dan Raden Adipati Tirto Koesoemo (Bupati Karanganyar, anggota Loji Mataram 1895) perlu diperhatikan, keduanya sering tertukar dalam literatur populer.
---------
Tidak ada komentar:
Posting Komentar