MUTIARA ILMU: Amalan Dimalam Pertama Ranadhan

Rabu, 22 Maret 2023

Amalan Dimalam Pertama Ranadhan

Malam Pertama Bulan Ramadhan merupakan malam yang sangat istimewa. Di malam ini, Allah ﷺ memberikan pandangan khusus bagi hamba-hamba-Nya terutama yang giat beribadah. Diriwayatkan dari sahabat Jabir bin Abdullah radhiyallahu anhuma bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

أُعْطِيَتْ أُمَّتِيْ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ خمْسًا لَمْ يُعْطَهُنَّ نَبِيٌّ قَبْلِيْ

Pada bulan Ramadhan, umatku dikarunai lima hal yang tidak pernah diberikan kepada seorang nabi pun sebelumku.

Yang pertama di antara lima hal itu adalah:

أَمَّا وَاحِدَةٌ فَإِنَّهُ إِذَا كَانَ أَوَّلُ لَيْلَةٍ مِنْ شَهْرِ رَمَضَانَ نَظَرَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلَيْهِمْ، وَمَنْ نَظَرَ اللهُ إِلَيْهِ لَمْ يُعَذِّبْهُ أَبَدًا

Adapun yang pertama: Sesungguhnya pada malam pertama Bulan Ramadhan, Allah akan memandang (dengan pandangan khusus) kepada mereka. Siapa yang mendapatkan pandangan Allah, maka Allah tidak akan mengadzabnya untuk selamanya. (HR Baihaqi)

Malam ini juga adalah malam ampunan yang menyeluruh bagi umat Islam, dalam hadits lain, Nabi ﷺ bersabda:

إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ فِي أَوَّلِ لَيْلَةٍ مِنْ شَهْرِ رَمَضَانَ لِكُلِّ أَهْلِ هَذِهِ الْقِبْلَةِ

Sesungguhnya Allah mengampuni di Malam Pertama Bulan Ramadhan atas semua umat  Islam yang menghadap kiblat ini. (HR Thabrani)

Para ulama menjadikan malam ini sebagai malam untuk beribadah, bersedekah, memperbanyak shalat dan doa, dzikir dan lainnya. begitu utamanya malam ini, sehingga ada sebagian ulama berpendapat bahwa Malam Lailatul Qodar adalah malam pertama Ramadhan.

Berikut ini sebagian dari hal-hal yang perlu diperhatikan pada malam pertama Ramadhan yang dikutip dari kitab Al-Mawaid Ar-Rahmaniyah Fil Fawaid Ar-Ramdhaniyah dan kitab-kitab lainnya:

Pertama: Doa Ketika Melihat Hilal Awal Bulan

Hilal adalah bulan sabit penanda awal Bulan Hijriyah. Ketika melihat hilal di bulan apa saja, termasuk Bulan Ramadhan, sunah untuk berdoa dengan doa berikut:

اَللهُ أَكْبَر، اَللهم أَهِلَّهُ عَلَيْنَا بِالْأَمْنِ وَالْإِيمَان، وَالسّلَامَةِ وَالْإِسْلَام، وَالتَّوْفِيقِ لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى.

رَبُّنَا وَرَبُّكَ اللهُ

اَللهُ أَكْبَر، لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِالله. اَللهم إِنِّي أَسْأَلُكَ خَيْرَ هٰذَا الشَّهْر، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ الْقَدَرِ، وَشَرِّ الْمَحْشَر.

Allah Mahabesar ! Ya Allah, nampakanlah hilal ini kepada kami dengan disertai keamanan dan iman, keselamatan dan Islam, petunjuk taufiq kepada apa yang Engkau cintai dan ridai.

Tuhanku dan Tuhanmu (wahai Hilal) adalah Allah.

Allah Mahabesar ! Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah. Ya Allah, sesungguhnya aku  memohon kepada-Mu kebaikan bulan ini, dan aku berlindung kepada-Mu  dari keburukan takdir dan keburukan perkumpulan mahsyar.

Setelah itu, ia membaca dua kali bacaan berikut:

هِلَالُ خَيْرٍ وَرُشْدٍ

Semoga ini menjadi hilal kebaikan dan petunjuk

Lalu membaca tiga kali bacan berikut:

آمَنْتُ بِالَّذِي خَلَقَك

Aku beriman kepada Tuhan yang menciptakanmu (wahai hilal)

Kemudian membaca:

اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِي ذَهَبَ بِشَهْرِ كَذَا وَجَاءَ بِشَهْرِ كَذَا

Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan bulan ini (Sebutkan bulan yang lewat) dan mendatangkan bulan ini (Sebutkan bulan yang baru).*

*Doa tersebut merupakan gabungan dari doa-doa yang berasal dari hadits-hadits riwayat Imam Abu Dawud, Ad-Darimi dan At-Turmudzi.

Termasuk doa yang dianjurkan untuk dibaca ketika melihat hilal, sebagaimana disebutkan dalam riwayat lainnya:

اَللّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي شَهْرِنَا هٰذَا الدَّاخِل، اَللّهُمَّ اجْعَلْ شَهْرَنَا الْمَاضِيَ، خَيْرَ شَهْرٍ وَخَيْرَ عَاقِبَة، وَأَرْسِلْ عَلَيْنَا شَهْرَنَا هٰذَا بِالسَّلَامَةِ وَالْإِسْلَامِ، وَالْأَمْنِ وَالْإِيْمَانِ، وَالْمُعَافَاةِ وَالرِّزْقِ الْحُسْنِ

Ya Allah, berkahilah kami di bulan kami yang baru masuk ini. Ya Allah jadikan bulan kami yang telah berlalu sebagai bulan yang terbaik dan memiliki akibat yang baik. Utuslah bulan kami ini kepada kami dengan membawa keselamatan dan Islam, keamanan dan Iman, afiyah dan rizki yang baik.*

*Doa ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam kitab Tarikhnya, serta Ibnu Mundah dan Ibnu ‘Asakir

Khusus ketika melihat Hilal Bulan Ramadhan, terdapat doa tambahan:

اَللّهُمَّ سَلِّمْ رَمَضَانَ لَنَا سَلِّمْنَا لَهُ، اَللّٰهُمَّ وَفِّقْنَا فِيهِ لِعَمَلٍ صَالِحٍ تَرْضَى بِهِ عَنَّا، يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ

Ya Allah, selamatkanlah Ramadhan bagi kami, dan selamatkanlah kami untuk menjalani Ramadhan. Ya Allah, berilah kami taufiq di dalam Bulan Ramadhan untuk beramal saleh yang dapat membuat-Mu rida kepada kami. Wahai Pemilik semesta alam.

Diriwayatkan dari Sayidina Ali radhiyallahu anhu wa karramAllahu wajhahu, bahwa apabila telah tiba hilal Bulan Ramadhan, Rasulullah ﷺ menghadapkan wajahnya ke kiblat dan berdoa:

اَللَّهُمَّ أَهِلَّهُ عَلَيْنَا بِالْأَمْنِ، وَالْإِيمَانِ، وَالسَّلَامَةِ، وَالْإِسْلَامِ، ‌وَالْعَافِيَةِ ‌الْمُجَلِّلَةِ، وَدَفْعِ الْأَسْقَامِ، وَالْعَوْنِ عَلَى الصلاة والصِّيَامِ وَالقيام وَتِلَاوَةِ الْقُرْآنِ

اللَّهُمَّ سَلِّمْنَا لِرَمَضَانَ، وَسَلِّمْهُ لَنَا، وَتَسَلَّمْهُ مِنَّا حَتَّى يَخْرُجَ رَمَضَانُ وَقَدْ غَفَرْتَ لَنَا، وَرَحِمْتَنَا، وَعَفَوْتَ عَنَّا

Ya Allah, nampakkanlah hilal ini kepada kami dengan disertai keamanan, iman, keselamatan, Islam, dan afiyah yang meliputi, tersingkirkannya segala penyakit, pertolongan untuk melakukan shalat, puasa, berdiri (Tarawih), dan membaca Al-Quran.

Ya Allah, selamatkanlah kami untuk dapat menjalani Ramadhan, dan selamatkanlah Ramadhan bagi kami, terimalah amalan Ramadhan dari kami sehingga Ramadhan keluar dalam keadaan Engkau telah mengampuni kami, merahmati kami, dan memaafkan kami.*

*Hadits ini diriwayatkan oleh Ad-Dailami dalam Kanzul Ummal

Diriwayatkan pula bahwa Sayidina Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu wa karramAllahu wajhahu, berdoa ketika melihat hilal Ramadhan:

اَللّهُمَّ أَهِلَّهُ عَلَيْنَا بِالسَّلَامَةِ مِنَ الْأَسْقَامِ، ‌وَالْفَرَاغِ ‌مِنَ ‌الْأَشْغَالِ وَرَضِّنَا فِيهِ بِالْيَسِيرِ مِنَ النَّوْمِ

Ya Allah, nampakanlah hilal ini atas kami dengan disertai keselamatan dari berbagai penyakit, kosong dari berbagai kesibukan, serta buatlah kami rela di dalamnya dengan sedikit tidur.*

*Disebutkan dalam Fathul Allam jilid 4 dan Fawaid Syathiriyah.

Keterangan: Doa ini semua dibaca dalam keadaan menghadap kiblat. Ini adalah doa bagi yang melihat hilal (bulan sabit di awal bulan). Sebagian ulama mengatakan melihat hilal bisa pula diartikan mengetahui munculnya hilal. Maka, doa ini dianjurkan pula bagi orang buta yang menerima kabar adanya hilal, atau yang bisa melihat namun terhalang dari melihat hilal.

Kedua: Membaca Surat Al-Mulk

Setelah itu, dianjurkan untuk membaca Surat Al-Mulk sebagaimana disebutkan dalam sebagian atsar. Imam As-Subki menjelaskan, hikmah dianjutkannya pembacaan Al-Mulk karena jumlah ayatnya adalah 30, sesuai dengan jumlah hari dalam sebulan. Selain itu, sakinah/ketenangan akan turun ketika surat ini dibaca, dan Nabi ﷺ selalu membacanya sebelum tidur.

Disunahkan ketika membaca surat ini, apabila telah sampai pada bacaan:

قَلِيلًا ‌مَا ‌تَشْكُرُونَ

Sunah untuk membaca:

اَلْحَمْدُ لِلهِ عَلَى السَّلَامَةِ

Segala puji bagi Allah atas keselamatan

Setelah selesai membaca Al-Mulk, dianjurkan untuk membaca doa berikut:

اَللّهُمَّ يَا اَللهُ، يَا سُبْحاَن، يَا دَيَّان، بِهٰذِهِ أَسْمَائِكَ الْعِظَام، أَنْ تَغْفِرَ لِي ذَنْبِي، وَتَقْضِيَ لِي حَاجَتِي، بِحُرْمَةِ سُورَةِ الْمُلْكِ الْكَرِيم.

Ya Allah, Ya Allah, Wahai Yang Mahasuci, Wahai Yang Maha Membalas. Dengan Nama-Nama-Mu yang agung ini, aku memohon agar Engkau mengampuni dosaku, dan memenuhi hajatku, dengan kemuliaan Surat Al-Mulk yang mulia.*

*Sumber: Suqul Arbah karya Habib Umar bin Hamid Alathas hal 69, A’mal Yaum Wal Lailah, Kanzun Najah, Fawaid Ilahiyah hal 11

Ketiga: Niat Malam Pertama

Jumhur ulama fiqih berpendapat bahwa niat Puasa Ramadhan harus dilakukan di malam hari sebelum Shubuh. Ini berdasarkan hadits Nabi ﷺ :

مَنْ لَمْ يُبَيِّتْ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِ فَلَا صِيَامَ لَهُ

Siapa yang tidak menginapkan (niat) puasa sebelum fajar maka tidak ada puasa baginya. (HR Nasai)

Akan tetapi ada perbedaan pendapat di kalangan ulama, apakah niat harus dilakukan setiap malam, atau cukup di malam pertama saja?

Dalam Madzhab Syafii niat harus dilakukan setiap malam. Setiap hari dianggap sebagai ibadah tersendiri yang memiliki niat sendiri-sendiri. Jika suatu malam ia lupa niat, maka puasanya tidak sah, tapi ia tetap wajib berlaku seperti orang puasa dengan tidak makan dan minum di siang hari, dan wajib pula mengqodhonya.

Dalam Madzhab Maliki dibolehkan niat puasa di malam pertama Ramadhan untuk sebulan penuh. Sedangkan niat tiap malam adalah sunah dalam Madzhab Maliki. Jadi, apabila ia sudah niat puasa untuk sebulan penuh, kemudian di suatu malam ia lupa niat, maka puasanya sudah sah karena diikutkan niat di malam pertama.

Melihat ini, maka para ulama Madzhab Syafii menganjurkan agar di malam pertama kita melakukan dua kali niat. Pertama niat seperti biasa sesuai dengan madzhab Imam Syafii ra, yaitu:

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ لِهَذِهِ السَّنَةِ لِلهِ تَعَالَى

Saya niat puasa esok hari untuk menunaikan kewajiban Bulan Ramadhan tahun ini, dilakukan secara ikhlas karena Allah ta’ala

Satu kali lagi niat dengan bertaklid kepada Imam Malik ra untuk mengantisipasi jika suatu saat ia lupa niat di malam hari, yaitu dengan niat:

نَوَيْتُ صَوْمَ جَمِيع شَهْرِ رَمَضَانَ لِهَذِهِ السَّنَةِ تقليدا للإمام مالك لِلهِ تَعَالَى

Saya niat puasa untuk seluruh Bulan Ramadhan tahun ini dengan bertaklid kepada Imam Malik Lillahi Taala

Keterangan:

  • Niat letaknya di hati, sedangkan mengucapkannya adalah sunah untuk membantu hati dalam niat. Jadi, jika hatinya kosong tapi lisannya niat, maka niatnya tidak sah.
  • Niat tidak harus dalam Bahasa Arab, ia boleh berniat dengan Bahasa Indonesia atau lainnya.
  • Walaupun sudah bertaklid kepada Imam Malik, apabila suatu saat ia lupa niat di malam hari, tetap dianjurkan mengqodhoinya sebagai bentuk kehati-hatian.
  • Dalam Madzhab Malik niat untuk sebulan itu cukup untuk seluruh bulan selama puasanya tidak terputus. Jika suatu hari puasannya terputus karena sakit, atau lainnya maka ia harus melakukan niat baru untuk sisa Bulan Ramadhan.

Keempat: Membaca Surat Al-Fath Dalam Shalat Sunah.  

Di antara amalan yang dianjurkan oleh para ulama di malam pertama Ramadhan adalah membaca surat Al-Fath dalam shalat sunah. Al-Habib Ahmad bin Hasan Alatas dalam Tadzkirun Nas berkata:

“Di awal Ramadhan, hendaknya ia melakukan Shalat Sunah dua atau empat rakaat, dan membaca surat Al-Fath dalam shalatnya itu. Jika dilakukan, maka ia akan menjalani tahun itu dalam kemakmuran, dan penjagaan, insya Allah.”

Hal senada disampaikan oleh Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam kitab Al-Ghunyah.

Mengenai tata cara melakukannya, jika ia melakukan shalat sunah 4 rakaat maka:

  • Pada rakaat pertama setelah Al-Fatihah ia membaca Surat Al-Fath ayat: 1-10
  • Pada rakaat kedua setelah Al-Fatihah ia membaca Surat Al-Fath ayat: 11-16
  • Pada rakaat ketiga setelah Al-Fatihah ia membaca Surat Al-Fath ayat: 17-25
  • Pada rakaat keempat setelah Al-Fatihah ia membaca Surat Al-Fath ayat: 26-29

Jika ia melakukan shalat sunah dua rakaat, maka :

  • Pada rakaat pertama setelah Al-Fatihah ia membaca Surat Al-Fath ayat: 1-16
  • Pada rakaat kedua setelah Al-Fatihah ia membaca Surat Al-Fath ayat: 17-29

Keterangan:

  • Bagi yang tidak hafal  Surat Al-Fath bisa membaca dengan melihat mushaf
  • Jika ia membaca dengan melihat mushaf saku maka jangan sampai melakukan tiga gerakan beturut-turut ketika membuka dan menutup Al-Quran, sebab itu dapat membatalkan shalat
  • Ketika rukuk atau sujud letakan mushaf di saku atau di tempat terhormat, jangan letakan di lantai atau tempat yang tidak terhormat.

Kelima: Meniatkan Kebaikan Sepanjang Ramadhan

Nabi ﷺ bersabda:

‌نِيَّةُ ‌الْمُؤْمِنِ خَيْرٌ مِنْ عَمَلِهِ

Niat seorang mukmin lebih baik dari amalnya. (HR Thabrani dan Baihaqi)

Dalam hadits lain disebutkan:

مَنْ هَمَّ ‌بِحَسَنَةٍ ‌فَلَمْ ‌يَعْمَلْهَا كُتِبَتْ لَهُ حَسَنَةً، وَمَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَعَمِلَهَا كُتِبَتْ لَهُ عَشْرًا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ

Siapa yang memiliki tekad untuk melakukan satu kebaikan, namun ia tidak dapat mengamalkannya maka telah tercatat baginya satu kebaikan. Dan siapa yang memiliki tekad melakukan satu kebaikan, kemudian ia dapat melakukannya maka dicatat baginya sepuluh sampai tujuh ratus kali kebaikan. (HR Bukhari-Muslim)

Maka di permulaan bulan Ramadhan ini niatkanlah semua kebaikan. Niatkan untuk menjalani puasa secara sempurna, tarawih dan witir, shalat sunah rawatib, membaca al-Quran dengan sekian kali khatam, dan lainnya. Dengan tekad kuat maka kita akan mendapatkan pahalanya walau mungkin terhalang dari melakukannya, dan jika ditakdir untuk melakukannya maka kita akan mendapatkan pahala berlipat ganda. Para ulama menyusun niat-niat untuk menyambut Ramadhan, di antaranya niat yang diajarkan oleh Al-Habib Abubakar Adni bin Ali Al-Masyhur, yaitu:

نَوَيْنَا مَانَوَاهُ النَّبِيُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالسَلَفُ الصَّالِحُ مِنْ آلِ البَيْتِ الكِرَامِ وَالصَّحَابَة الأَعْلَام

Kami berniat sebagaimana yang diniatkan oleh Nabi  dan para salaf yang saleh dari ahlul bait yang mulia serta para sahabat  yang agung.

وَنَوَيْنَا القِيَامَ بِحَقِّ الصِيَامِ عَلَى الوَجْهِ الَّذِيْ يُرْضِي المَلِكُ العَلاَّم

Kami berniat untuk menunaikan hak ibadah puasa sesuai dengan tata cara yang diridai oleh Allah Yang Maharaja lagi Maha Mengetahui

وَنَوَيْنَا المُحَافَظَةَ عَلَى القِيَامِ وَحِفْظِ الجَوَارِحِ عَنِ المَعَاصِي وَالآثَامِ

Kami berniat untuk menjaga Shalat Tarawih dan menjaga anggota tubuh dari maksiat dan dosa.

وَنَوَيْنَا تِلَاوَةَ القُرْآنِ وَكَثْرَة الذِكْرِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى سَيِّدِ الأَنَامِ وَنَوَيْنَا تَجَنُّبَ الغِيْبَةِ وَالنَمِيْمَةِ وَالكَذِبِ وَأَسْبَابِ الحَرَامِ

Kami berniat untuk membaca Al-Quran, banyak berdzikir dan bershalawat dan salam kepada Nabi Muhammad  pemimpin manusia. Dan kami berniat menghindari ghibah, namimah, dusta dan pekerjaan-pekerjaan haram.

وَنَوَيْنَا كَثْرَةَ الصَّدَقَاتِ وَمُوَاسَاةِ الأَرَامِلِ وَالفُقَرَاءِ وَالأَيْتَامِ

Kami meniatkan banyak bersedekah dan membantu memenuhi keperluan para janda, fakir miskin, dan anak yatim

وَنَوَيْنَا كَمَالَ الإِلْتِزَامِ بِآدَابِ الإِسْلَامِ وَالصَّلاةِ فِي الجَمَاعَةِ فِي أَوْقَاتِهَا بِانْتِظَامِ

Kami meniatkan untuk melazimi dengan sempurna adab-adab Islam dan  shalat berjamaah di waktunya secara teratur

وَنَوَيْنَا كُلَّ نِيَّةِ صَالِحَةٍ نَوَاهَا عِبَادُ اللهِ الصَّالِحُوْنَ فِي العَشْرِ الأَوَائِلِ وَالأَوَاسِطِ وَالأَوَاخِرِ وَلَيْلَةِ القَدْرِ فِي سَائِرِ اللَيَالِي وَالأَيَّامِ

Kami meniatkan segala niat yang baik yang diniatkan oleh para hamba Allah yang saleh, baik di sepuluh hari pertama, sepuluh hari kedua, di sepuluh hari terakhir, malam Lailatul Qadar, dan seluruh malam dan siang Ramadhan lainnya.

وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّم بِسِرِّ الْفَاتِحَة

Dan shalawat serta salam semoga terlimpahkan kepada junjungan kita, Nabi Muhammad ﷺ, beserta para keluarga dan sahabat Beliau. Dengan rahasia Surat Al-Fatihah. (Lalu membaca surat Al-Fatihah)

Keenam: Mengucapkan Selamat

Menurut pendapat yang muktamad, ucapan selamat/tah’niah atas masuknya hari-hari yang berbahagia seperti awal tahun hijriyah, awal bulan, hari raya dan lainnya adalah sunah. Tentunya ucapan ini tidak ditujukan kepada lawan jenis yang bukan mahram atau orang-orang yang dapat menyebabkan fitnah. Demikian pula sunah untuk bermushafahah (bersalaman) ketika memberi selamat, dengan wajah berseri-seri dan mendoakan kebaikan dan keberkahan.

Demikian hal-hal yang perlu diperhatikan di Malam Pertama Ramadhan. Semoga kita semua mendapatkan keberkahan Ramadhan, dan diberikan kesehatan dan hidayah untuk menjalani Bulan Suci Ramadhan secara sempurna. Aamiin ya Rabbal alamiin..RA(*)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar